Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 205


__ADS_3

Indra semakin merasa sangat bersalah, bagaimana pun dia juga ikut andil atas apa yang terjadi pada Sabrina. Raut wajah sedihnya tertangkap oleh Adiwijaya yang penasaran dengan Indra,


“dia? “ tanya Adiwijaya membuat semua yang ada dalam ruangan itu serempak menatap ke arah Indra.


“ dia adalah putra Arman, adik tiri Sabrina... “ ujar Park Joon menjelaskan tentang Indra. Indra lalu memberanikan diri untuk bersalaman dengan Adiwijaya dan Wiyasa, dia terlihat sangat canggung.


Raka dan Bima sudah tidak terlihat di depan pintu kamar Arman, mereka memilih pergi menuju kamar Ningsih dengan sebuah senyuman terhias di wajah mereka.


***


Beberapa hari kemudian Ningsih menjalani operasi pembersihan tumor di tubuhnya, tampak seluruh keluarga Adiwijaya menanti di depan ruang operasi dengan harapan di hati mereka. Sabrina senantiasa berada di samping Adiwijaya dan memegangi tangannya, dia dapat melihat betapa khawatir eyangnya saat ini.


Lampu di depan ruang operasi sudah padam memberi tahu jika operasi sudah selesai di laksanakan, dokter yang menangani Ningsih keluar dari ruang operasi dengan membawa kabar baik. Seluruh keluarga Adiwijaya sontak mengucapkan hamdalah bersamaan, senyuman dan tangis haru terpancar di wajah mereka masing – masing.


Para perempuan keluarga Adiwijaya saling berpelukan senang mendengar kabar baik itu, Asmirah terlihat sangat senang tidak sengaja beradu pandang dengan Sabrina yang tersenyum senang. Perlahan senyuman bahagia Asmirah memudar membuat Sabrina semakin yakin jika ada sesuatu yang terjadi, Sabrina masih menatap ke arah Asmirah namun teralihkan saat Wulan menghampiri sambil memeluk senang.


Raut wajah Nicholas tampak sangat tidak senang, saat dalam perjalanan ke Indonesia pesawat jet miliknya mengalami sedikit kesalahan teknis dan harus berbalik arah untuk kembali ke bandara internasional di Dubai.


Rasa rindu di hati pada Sabrina juga putranya sudah tidak tertahankan, dia bahkan meminta Jack untuk mencari penerbangan komersial. Setelah semua prosedur selesaikan oleh Jack ponsel miliknya bergetar, dia segera menjawab panggilan itu.


Jack tercenung sambil menatapi tiket pesawat di tangannya, dia mendapat kabar jika pesawat jet milik Nicholas sudah dalam kondisi siap melakukan penerbangan kembali. Dia terlihat kebingungan, Jack segera melangkahkan kakinya menuju ruangan khusus di mana Nicholas menanti dengan tidak sabar.


Minuman hangat yang terhidang di atas meja sudah habis di minum Nicholas, mata tajamnya sesekali memperhatikan jam tangan mahal di pergelangan tangan. Matanya kembali menatap ke arah pintu masuk, para body guard dan pramugari yang berada dalam satu ruangan terlihat tegang karena dampak dari aura mencengkam di sekeliling Nicholas.


Pintu ruangan itu di buka oleh Jack seakan sebuah angin segar masuk mengusir hawa tidak menyenangkan, Nicholas bangkit dari tempat duduknya sembari mengancingkan kembali jas yang di kenakannya. Jack menghampiri Nicholas dengan ragu – ragu, tingkah lakunya membuat Nicholas mengerutkan kening meras heran.


“what Happened? (ada apa?) “ tanya Nicholas dingin. Jack tersenyum canggung sembari memberikan tiket yang di dapatnya, terlihat jelas raut wajahnya yang bingung.

__ADS_1


Tiket itu segera di ambil Nicholas sambil memperhatikan dengan seksama tulisan yang ada di dalamnya, matanya kembali beralih ke arah Jack yang terlihat sangat ingin menyampaikan sesuatu.


“what is it? Why do you look nervous? (ada apa? Kenapa kamu terlihat gugup?) “ tanya Nicholas yang melangkah keluar dari ruangan khusus menuju pintu masuk ke pesawat, Jack mengikuti Nicholas di belakang begitu juga dengan pramugari dan bodyguard.


Jack mengumpulkan keberanian memberi tahu tentang kabar yang di dapatnya,


“it's boss, the plane..... The boss's jet is ready and... (itu bos, pesawat..... Pesawat jet bos sudah ready dan...) “ ucapan Jack terhenti seiring dengan Nicholas yang menghentikan langkahnya, Jack ikut menghentikan langkahnya membuat para pramugari dan anak buah lainnya harus mengerem mendadak.


Akibatnya mereka pun saling bertabrakan di belakang Jack, mereka berdua menatap heran ke arah para body guard dan pramugari yang terlihat meringis kesakitan.


“Why with you guys?! (Kenapa dengan kalian?!) “ tanya Nicholas.


“It... It.. It's young master... Hmm... I'm sorry (It... It.. Itu tuan muda... Hmm... Maafkan kami) “ ujar salah seorang body guard yang langsung berdiri begitu juga dengan yang lainnya, Mereka pun langsung bersikap biasa saja seakan tidak terjadi apa pun.


Nicholas menatap ke arah Jack dengan tangannya masih memegangi tiket yang sudah terbeli, wajah Jack tampak pias saat mendapat tatapan dari Nicholas.


“you know what to do (kamu tahu harus melakukan apa)” ujar Jack bergegas mengikuti bossnya.


Boss misses young madam and master so much, he hasn't even rested at all. I can't imagine how madam and others will react later (Bos sangat merindukan nyonya dan tuan muda, dia bahkan sama sekali belum istirahat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya nyonya dan lainnya nanti)gumam Jack dalam hati sambil tersenyum diam – diam. Dia senantiasa terus mengikuti Nicholas yang terlihat sudah sangat tidak sabar, kepala Jack menggeleng perlahan melihat Nicholas yang mempercepat langkahnya. Para pramugari juga anak buahnya bahkan nyaris jauh tertinggal, mereka terlihat berlari – lari kecil mengikuti tuan yang sudah menanggung rindu begitu lama.


Sabrina tengah duduk di kursi yang berada di samping ranjang Arman, setelah pembicaraan lama dengan Adiwijaya hubungan Arman dan Sabrina perlahan membaik. Walau Arman masih merasa canggung namun Sabrina sama sekali tidak mempermasalahkan, dia dengan tulus hati merawat papanya yang sudah mulai mau menerima penanganan dan obat dari dokter.


Mata Arman menatap lama ke arah Sabrina yang tampak telaten mengelap tangan, wajah dan bagian tubuh Arman lainnya, profesinya yang seorang dokter sudah menempa dan memberi pengalaman pada Sabrina.


Tangan Arman memegang tangan putrinya, mata bening nan jernih itu segera menatap ke arah Arman.


“ada apa, pa? Apa ada yang... “ ucapan Sabrina terpotong saat Arman menggelengkan kepala seraya menggenggam tangan putrinya.

__ADS_1


“papa... Papa ingin meminta maaf padamu karena sudah memaksamu menikah dengan pria yang sama sekali tidak kamu cintai, papa minta maaf atas semua perbuatan dan sikap.... “ ucapan Arman terhenti saat Sabrina membalas genggaman Arman sambil menatap penuh kasih sayang pada Arman.


“Pa... Sabrina sama sekali tidak pernah dendam, marah atau pun membenci papa. Semua itu sudah berlalu dan.... ( menatap sedih ke arah Arman) seharusnya Sabrina yang meminta maaf pada papa karena sudah menyakiti papa dengan perkataan juga perbuatan kasar ku, karena begitu emosinya Sabrina sudah... “


“ tidak putriku.... Aku yang sudah bersalah, kamu memang pantas untuk marah dan membenci papa”


“Pa... Sabrina sama sekali tidak pernah membenci papa, namun aku sangat merindukan papa” Sabrina memegang dan menempelkan tangan Arman ke pipinya yang putih.


Pembicaraan Sabrina dan Arman di dengar oleh Indra yang berdiri di depan pintu, sama seperti Arman. Indra tampak canggung pada Sabrina saat awal mereka bertemu, dia ingin berbicara secara empat mata dengan Sabrina namun belum mendapat kesempatan.


Indra memegangi handle pintu kamar bermaksud untuk membukanya, namun di saat bersamaan Sabrina membuka pintu. Mereka berdua sama – sama terkejut dan saling menatap satu sama lain, tangan Sabrina yang memegangi mangkuk besar yang berisi air. Mangkuk itu hampir terlepas langsung di bantu di pegangi oleh Indra, suasana mendadak menjadi canggung seketika.


......................


Dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2