Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 81


__ADS_3

DI kediaman Adiwijaya...


Adiwijaya, Cakra, Candra, Wiyasa dan Wibisana tampak diam larut dalam pikiran masing-masing. Wibisana menatap wajah para pria yang duduk mengelilingi meja, suasana begitu tenang dan mencengkam membuatnya gugup.


Dia merasakan rasa sakit di perutnya, namun harus di tahannya. Suasana di beranda di rumah itu benar-benar membuatnya sangat gugup, dia menjadi gelisah merasakan sesuatu yang mendesak untuk di keluarkan.


TUUUUUUUUUUUTT


Wibisana benar-benar tidak bisa menahannya lagi, hingga suatu bunyi dari bawah sana mewakili untuknya segera mengosongkan isi perutnya. Bunyi itu menarik perhatian para pria di sana yang serentak menatap ke arahnya.


Wajah Wibisana menjadi pias dan berubah kemerahan.


“maaf opa... Eyang... dan om, udah tidak bisa menahannya” ujar Wibisana pelan, menahan rasa sakit di perut dan malu yang menghinggapi.


Wibisana segera berdiri dari tempat duduknya mengambil langkah seribu masuk ke dalam rumah untuk menuntaskan panggilan alamnya.


Sepeninggal Wibisana para pria itu saling berpandangan dan serempak tertawa bersamaan terkecuali Adiwijaya yang hanya tersenyum.


“hahahahahahahaha”


Sejenak mereka melupakan masalah yang tengah mereka hadapi, tertawa dengan tingkah spontan Wibisana.


“aku mengira tadi bunyi apa, ternyata...hahahaha Wibi... Wibi ... kamu tidak berubah dari dulu. Kamu tahu Adi, saat dia akan di wawancara untuk pekerjaannya dia juga seperti ini” Candra kembali tertawa dengan tingkah konyol cucunya.


“benarkah om hahahaha? Lalu bagaimana dengan hasil wawancaranya?” tanya Cakra penasaran.


“Ya... Dia lulus, tapi karena malu dia memilih memundurkan diri dan bekerja dengan Adrian sekarang. Dia itu kalo sudah gugup ya perutnya akan sakit seperti sekarang” ujar Candra tertawa mengingat kebiasaan Wibisana.


Adiwijaya tersenyum sebentar lalu kembali terdiam, dia tampak berpikir begitu keras. Candra tahu apa yang di pikirkan sahabatnya, Ningsih baru selesai membuat minuman ikut bergabung duduk tidak jauh dari suaminya setelah menghidangkan minuman dan cemilan.


Tidak berapa lama mobil Raka memasuki halaman kediaman Adiwijaya, mereka semua turun dari mobil. Raka dan lainnya tampak heran saat melihat suasana dengan atmosfer yang berbeda di beranda rumah.

__ADS_1


“assalamualaikum” salam Raka dan lainnya yang langsung di jawab oleh keluarga mereka bersamaan. Raka, Sabrina dan lainnya dengan santun menyalami para tetua di kedua keluarga begitu juga lainnya.


“nduk... kamu terlihat lelah, sebaiknya istirahat...” ujar Ningsih mengajak Sabrina untuk masuk ke dalam rumah. Tidak lupa Ningsih juga mengajak Asmirah dan Eliana untuk menemani Sabrina.


Andhini dan Helena dia ajak Wulan untuk duduk di ruang tamu.


“Wulan, sebenarnya ada apa? Kok kami di suruh pulang, padahal baju pernikahannya belum selesai di cari” ujar Helena heran. Wulan tampak ragu-ragu untuk berbicara, dia tidak ingin Sabrina menjadi sedih setelah mendengar apa yang akan mereka bicarakan.


“sebaiknya kita dengarkan dulu apa yang mereka bicarakan” ujar Wulan pada Andhini dan Helena yang tampak penasaran.


Raka ikut duduk bergabung dengan para pria yang tengah duduk di beranda rumah.


“opa, eyang. Sebenarnya ada apa? Kenapa kok semuanya terlihat tegang ( mata Raka termenung saat melihat surat-surat yang seharusnya sedang dalam pengurusan ) surat-surat ini..." Raka menatap ke arah Cakra dan Wiyasa.


“sebenarnya saat kami mengurus surat-surat ini, pihak KUA mempertanyakan ayah kandung dari Sabrina...” Cakra pun menceritakan apa yang terjadi saat dia dan Bima mengurus surat di KUA setempat.


Dalam pertemuan itu pihak KUA menjelaskan syarat sah pernikahan dan segala sesuatu yang terkait di dalamnya. Pihak KUA pun bertanya siapa yang akan menikahkan Sabrina, pertanyaan ini jelas membuat Cakra dan Bima bingung. Cakra lalu bertanya tentang siapa saja yang pastinya bisa menikahkan selain ayah kandung.


Pihak KUA pun menjelaskan panjang lebar hingga sampai di intinya.


Sedangkan dari pihak ibu, baik kakek, paman dari ibu, saudara laki-laki se-ibu, bukanlah wali dalam pernikahan. Karena mereka bukan ‘ashabah, tapi dari kalangan dzawil arham...”


Setelah berbicara panjang kali lebar dan mendengar penjelasan yang cukup panjang, Cakra juga Bima memutuskan kembali ke kediaman untuk membicarakan kembali dengan keluarga besar.


“jadi kami memutuskan untuk pulang ke rumah” ujar Cakra mengakhiri penjelasannya.


“bagaimana dengan orang tua dan saudara Arman? Apakah masih ada?” tanya Candra.


“ mereka masih ada tapi sudah pindah kembali ke Korea Selatan. Dari orang-orang yang pernah aku kirim ke Jakarta, mereka sempat mencari keberadaan Sabrina tetapi setelah itu mereka tidak lagi terdengar kabarnya” Adiwijaya menerawang jauh.


Mereka kembali terdiam memikirkan jalan terbaik untuk kebahagiaan Raka dan Sabrina.

__ADS_1


“bagaimana jika kita bertanya pada ahli yang mengerti dengan hukum islam tentang pernikahan, seperti ulama besar atau ustad misalnya” ujar Raka setelah terdiam cukup lama.


“benar kata Raka pak, sebaiknya kita meminta pendapat pada ulama besar setempat agar nantinya tidak terjadi kesalahan” ujar Cakra setuju dengan ide Raka.


“baiklah nanti ba’da magrib kita sholat berjamaah di mesjid. Kebetulan hari ini ada ulama besar yang akan mengisi ceramah di mesjid sini” Adiwijaya merasa senang menatap Raka yang cepat tanggap.


Diam-diam Sabrina mendengar semua percakapan keluarganya, tanpa sepengetahuan Andhini, Helena, Wulan dan lainnya Sabrina berdiri tidak jauh dari ruang tamu.


Dia memilih kembali ke kamarnya, Sabrina tidak bisa membohongi hatinya. Dia berkeinginan jika menikah nanti Arman yang akan menyerahkannya pada Raka, tapi kebencian Arman padanya yang sudah mendarah daging dan keputusannya mengakhiri hubungan darah dengan ayah kandung membuat keinginan itu harus di lupakannya.


Asmirah dan Eliana hendak kembali ke kamar Sabrina untuk menemaninya, saat membalikkan tubuh mereka berdua melihat siluet tubuh Sabrina yang masuk ke kamarnya.


“mbak Sabrina” panggil Asmirah membuat para perempuan lainnya terkejut.


“apa dari tadi Sabrina mendengar pembicaraan tadi?” tanya Andhini pada Asmirah yang sempat melihat Sabrina masuk.


“sepertinya buk de...” wajah Asmirah mendadak menjadi khawatir, begitu juga para perempuan lainnya.


Pembicaraan para perempuan lainnya di dengar oleh Adiwijaya, Candra dan lainnya. Adiwijaya bangkit dari tempat duduknya masuk ke dalam rumah melihat para perempuan yang terlihat khawatir.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2