Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 198


__ADS_3

Kilasan balik....


Tepat saat Sabrina di bawa pergi meninggalkan apartemen mewah yang sudah terlihat kacau balau, John menatap sendu ke arah putranya yang sudah tidak bergerak. saat akan melangkah meninggalkan apartemen itu. Langkah John terhenti saat mendengar suara di belakangnya,


“huk... uhuk... huk...” Nicholas terbatuk dengan mata sayu menatap ke arah daddynya John yang terkejut dan kembali menghampiri putranya, dengan sigap John memegangi tubuh Nicholas yang tampak lemah tak berdaya.


“Nicho.... immediately prepare the vehicle, we are going to the hospital now. Tighten guard (Nicho.... ( menatap ke arah anak buahnya) segera siapkan kendaraan, kita ke rumah sakit sekarang. Perketat penjagaan)” perintah John yang segera di laksanakan oleh anak buahnya. Mereka segera menggotong tubuh Nicholas untuk membawanya segera ke rumah sakit, anak buah lainnya berjaga ketat dengan senjata canggih yang di pegang dan di acungkan ke arah berlawanan.


Mata mereka mengawasi setiap penjuru gedung hingga pada akhirnya mereka berhasil membawa Nicholas menuju rumah sakit, John terus memegangi tangan putranya yang sudah melemah. Kedua tangannya di penuhi dengan darah Nicholas yang masih senantiasa mengalir, jantungnya berdebar keras saat wajah dan tangan Nicholas terasa dingin.


Para anak buah John segera masuk ke dalam rumah sakit dengan senjata masih di tangannya, semua yang ada di lobi rumah sakit terlihat ketakutan dan bersembunyi untuk menyelamatkan diri. Anak buah John segera menarik paksa beberapa petugas medis dan meminta mereka untuk membawa bankar, mereka setengah berlari menuju pelataran rumah sakit sambil menjelaskan apa yang terjadi.


Todongan senjata yang semula membuat para medis itu ketakutan, namun saat melihat pasien yang sudah di ambang kematian membuat para medis itu segera melakukan tindakan.


“survive my son, you have to be strong for my wife and future grandchildren (bertahan putra ku, kamu harus kuat demi istri dan calon cucuku)” ujar John masih memegangi tangan putranya yang terbaring di atas bankar, para medis tengah mendorong bankar itu menuju ruang operasi setelah sebelumnya mereka melakukan pemeriksaan awal.


Langkah John terhenti saat salah seorang petugas medis menghentikannya untuk masuk ke ruang operasi.


“Sorry sir, you can't go inside. You have to wait here, let us work and try our best for your son (maaf tuan, anda tidak bisa masuk ke dalam. Anda harus menunggu di sini, biarkan kami bekerja dan berusaha yang terbaik untuk putra anda)” ujar petugas itu, John menatap tajam ke arah petugas medis itu, tangannya memegang sebuah senjata api yang bisa kapan saja di tembakkannya.

__ADS_1


“That's best, you should try your best. if anything happens to my son, you and all the medical staff who treat him I will take him to accompany him to the afterlife (sebaiknya begitu, kalian harus berusaha sebaik mungkin. jika terjadi sesuatu dengan putra ku, kamu dan seluruh petugas medis yang merawatnya akan aku antar untuk menemaninya ke alam baka)” ujar John dengan pandangan nanar, petugas medis itu terlihat ketakutan namun dia berusaha untuk tetap tenang.


“we will do our best, sir (kami akan melakukan semampu kami, tuan)” ujar petugas medis dengan raut wajah serius, mereka lalu melangkah masuk ke dalam ruang operasi berpacu dengan waktu.


John bersama anak buahnya senantiasa menunggu di luar ruang operasi, sesekali matanya menatap ke arah lampu di atas pintu ruangan itu yang menyala menandakan jika ada operasi yang tengah berlangsung. John duduk di kursi tunggu yang tersedia dengan kedua tangan saling terpaut menempel pada keningnya, kedua pahanya menjadi penompang tangan John yang terlihat sangat cemas. Matanya yang tajam dan dingin sesekali menatap jam yang terpasang di pergelangan tangan, penantian yang terasa begitu lama baginya.


Anak buah John berjaga ketat dengan mata yang selalu mengawasi setiap sudut rumah sakit, senjata masih terpegang erat di tangan dan bersiap siaga dengan segala kemungkinan terburuk. Lampu yang ada di depan ruang operasi pun padam setelah lima jam berlalu, tim dokter yang menangani Nicholas keluar untuk menemui John yang terlihat berdiri dari kursi yang di dudukinya.


“how?! How about my son?! (bagaimana?! Bagaimana dengan keadaan putraku?!)” tanya John penuh harap.


“Sir, we have tried our best, during the operation the patient had experienced postoperative shock and it made... (tuan, kami sudah berupaya semampu kami, saat operasi berlangsung pasien sempat mengalami shock pasca operasi dan hal itu membuat...)” Dokter itu terdiam sejenak dengan mata menatap ke arah tangan kanan John yang tengah menatap tajam ke arahnya, dia juga sempat melihat senjata yang di pegang bersiap – siap untuk mengarah ke arahnya. Jantung dokter dan para petugas medis lainnya berdegup kencang seiring dengan rasa gugup menyelimuti hati mereka, namun dokter itu berusaha bersikap tenang tanpa memperlihatkan wajah takut dan panik.


John menatap tajam ke arah dokter itu menunggu dia berbicara, Dokter itu pun kembali menjelaskan apa yang telah terjadi pada Nicholas.


“The patient's condition was critical and he had lost a lot of blood. We continue to try to keep the patient alive, now we can only wait for the patient to pass his critical period (kondisi pasien sudah sangat kritis dan banyak kehilangan darah. Kami terus berusaha agar pasien tetap bertahan, sekarang kita hanya bisa menunggu pasien melewati masa kritisnya) “ jelas Dokter bersikap tenang.


John kembali terduduk di bangku yang ada di ruang tunggu, jantungnya berdebar keras dan terasa pedih. Dia sudah kehilangan istri dan putrinya, hanya Nicholas yang di milikinya dan kini putranya tengah sekarat di ranjang rumah sakit. John menatap ke arah anak buahnya serta tangan kanan kepercayaannya,


“Let the news of Nicholas' death spread out there, let them believe in the death of my son including my daughter-in-law Sabrina. All of this is for the safety of my daughter-in-law and grandson who is in her womb, protect them like a shadow... (Menatap tajam ke arah anak buahnya) Don't let anyone dare to hurt them, if anyone dares you will know what the consequences will be

__ADS_1


(Biarkan berita kematian Nicholas tersebar di luar sana, biarkan mereka percaya dengan kematian putraku termasuk Sabrina menantuku. Semua ini demi keselamatan menantu dan cucu ku yang ada dalam kandungannya, lindungi mereka seperti bayangan ( menatap tajam ke arah anak buahnya) jangan sampai ada yang berani menyakiti mereka, jika ada yang berani kalian tentunya tahu akan apa akibatnya)” ujar John dengan kilatan mata yang membara, dia merasa sangat dendam dan marah pada musuh yang sudah berani menyakiti anak, menantu dan calon cucunya.


“Yes, sir (ya, tuan)” ujar mereka semua serempak, Seluruh anak buah menganggukkan kepalanya dan memulai tugas yang di berikan oleh John. Tidak berapa lama setelah memberi perintah Nicholas yang terbaring di bankar tengah di dorong menuju ruang ICU oleh para perawat, wajahnya yang tampan kini terlihat pucat dengan selang oksigen yang terpasang di hidung mancung nya.


......................


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


mohon maaf karena beberapa waktu yang lalu Author tidak update karya, Lantaran di karenakan Author sedang memikirkan ide - ide cerita.


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2