Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 214


__ADS_3

Perawat itu semakin terkejut saat Adrian memanggil nama Sabrina dengan embel profesinya,


Whaaat dokter? Jadi nona ini dokter... Aduuuh malu banget aku.... Gumam perawat itu dalam hati merasa malu.


Nicholas langsung menatap tajam ke arah perawat yang kini terlihat sangat ketakutan,


“Ma... Maaf nona.... Saya... Saya tidak sengaja” Perawat itu segera menekan pada tangan bekas infus itu, tangannya yang lain segera mengambil kapas basah untuk membersihkan darah yang sempat mengalir.


“Can't you work? All of this would have been done long ago if Brina had done it (Apa kamu tidak bisa bekerja? Semua ini sudah selesai sedari tadi jika Brina yang mengerjakannya) “ Nicholas menatap dingin dan tajam ke arah perawat itu.


Adrian segera menghampiri perawat yang terlihat akan seperti menangis, tangan Sabrina sudah terpasang plester untuk menghentikan darah.


“so.... I'm so sorry sir... (ma... Maaf tuan...) “ ujar perawat itu dengan wajah tertunduk.


“Ada apa? “ tanya Adrian serius, Sabrina segera memegangi tangan Nicholas yang melingkar di pinggangnya. Tangan itu mengelus lembut membuat rasa kesal Nicholas menurun,


“tidak terjadi apa – apa Dokter (menatap ke arah perawat itu) kamu mengerjakan pekerjaan dengan sangat baik, terima kasih” ujar Sabrina, perawat itu menatap ke arah Sabrina yang membalas dengan tersenyum manis.


“Ma... Maafkan saya nona.... Eh dokter maksud saya” ujar Perawat itu sekali lagi, tubuhnya membungkuk sedikit memberi hormat pada Sabrina yang membalas dengan mengangguk sambil tersenyum. Perawat itu segera membenahi peralatan dan sampah medis, setelah menyapa dan memberi hormat pada Adrian dia lalu keluar sambil mendorong troli kecil itu.


“Astagfirullah sampai lupa, waalaikumsalam dokter Adrian” ujar Sabrina membalas ucapan salam Adrian.


Sabrina hendak pindah tempat duduk karena merasa canggung dengan posisi itu di depan Adrian, tangan kekar Nicholas masih memeluk posesif. King kobra masih belum mau kembali berhibernasi karena pergerakan yang dilakukan Sabrina, dia merasa mendapat belaian lembut membuatnya semakin memberontak berusaha lepas dari penangkaran.


Sabrina semakin merasa canggung dengan posisinya,


“Maaf... Dokter Adrian” ujar Sabrina dengan wajah memerah, tangan Nicholas di lepas paksa oleh Sabrina. Diam – diam dia tersenyum senang saat melihat wajah istrinya yang merona, Nicholas memilih tetap duduk di belakang Sabrina.

__ADS_1


Adrian mengerti dan memaklumi sikap Nicholas yang posesif, begitu lama mereka berpisah jadi wajar saja saat ini Nicholas tidak ingin jauh dari Sabrina.


“Tidak apa – apa Sabrina, saya mengerti dengan sikap suami anda” ujar Adrian sambil tersenyum ramah Pada Nicholas.


Sabrina hendak menggeser tempat duduknya, namun terhenti saat kedua tangan kekar itu memegang lembut kedua lengannya.


“sayang.... Just stay like this, you can feel that he's still rebellious (sayang.... Tetap seperti ini saja, kamu bisa merasakan jika dia masih memberontak) “ bisik Nicholas membuat Sabrina langsung memalingkan wajahnya ke belakang, senyuman nackla tersungging di wajah tampan pria asing itu.


Nicholas menatap ke arah Adrian yang memilih duduk di kursi yang berada di samping ranjang pasien,


“Sorry if my current attitude and actions are disrespectful and disrespectful to you in a position like this, please you and Brina talk casually (Maaf jika sikap dan tindakan saya saat ini tidak sopan juga tidak menghormati anda dengan posisi seperti ini, silahkan anda dan Brina berbicara dengan santai)“ ujar Nicholas.


“It's okay Mr. Nicholas, you and Sabrina take it easy. I understand and understand your feelings at this time, sorry in advance for not introducing myself. I.... (tidak apa – apa tuan Nicholas, anda dan Sabrina santai saja. Saya memaklumi dan memahami perasaan anda saat ini, maaf sebelumnya karena belum memperkenalkan diri. Saya....) “ ucapan Adrian terhenti saat Nicholas memotongnya.


“Mr. Adrian Wiguna, son of Mr. Candra Wiguna. The owner of the Arbecio Medical hospital, who doesn't know you. It's an honor for me to know you (Tuan Adrian Wiguna, putra dari Tuan Candra Wiguna. Pemilik rumah sakit Arbecio Medical, siapa yang tidak mengenal anda. Kehormatan bagi saya dapat mengenal anda) “ ujar Nicholas hendak mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Adrian, namun dia urungkan karena kondisi yang tidak memungkinkan.


“It's an honor for me to be known by you, I'd better get straight to the point. I mean come here to invite Sabrina to return to work at Arbecio Medical, I really hope Sabrina will rejoin and of course if Mr Nicholas allows (suatu kehormatan bagi saya dapat di kenal oleh anda, Lebih baik saya langsung ke intinya. Maksud saya datang kemari ingin mengundang Sabrina untuk kembali bekerja di Arbecio Medical, saya sangat berharap Sabrina mau bergabung kembali dan tentunya jika tuan Nicholas mengizinkan) “ ujar Adrian.


Sabrina sedikit menggeser tubuhnya ke samping, kini posisi Nicholas berada di samping kiri Sabrina.


“it's up to you Brina, I always support your every decision? ( terserah pada mu Brina, aku selalu mendukung setiap keputusanmu?)“ ujar Nicholas menggenggam tangan istrinya, Sabrina tampak diam berpikir.


“saya akan memberikanmu waktu berpikir Sabrina, jika kamu sudah memutuskan kamu bisa mencari atau menghubungi saya. Besar harapan saya kamu mau bergabung kembali” ujar Adrian.


“Saya senang dan mengucapkan terima kasih atas tawaran Dokter, maaf karena saya masih belum bisa memberikan jawaban” ujar Sabrina.


“tidak apa – apa Sabrina, saya mengerti. Begitu banyak pertimbangan yang harus anda pikirkan, santai saja ( menatap ke arah Nicholas yang terlihat kurang nyaman) Baiklah saya tidak akan mengganggu waktu kalian lagi, saya permisi dulu” ujar Adrian bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


Sabrina hendak bangkit dan turun dari ranjang terhenti kembali saat teringat dengan Nicholas,


“maaf dokter Adrian, saya tidak bisa mengantar anda.... “ ucapan Sabrina dengan suara yang semakin mengecil, wajahnya merona merasa canggung dengan Adrian.


“Tidak apa – apa, Sabrina. I'm sorry Mr. Nicholas, next time I will invite you to lunch or coffee together (Saya permisi tuan Nicholas, di lain kesempatan saya akan mengundang anda makan siang atau minum kopi bersama)” ujar Adrian.


“I will wait for that opportunity Mr Adrian (Saya akan menanti kesempatan itu tuan Adrian)” ujar Nicholas tersenyum bisnis pada Adrian, setelah berpamitan dan mengucapkan salam Adrian memutuskan untuk keluar dari kamar VVIP itu meninggalkan Sabrina juga Nicholas.


Sabrina menghela nafas panjang, matanya yang sempat terpejam kembali terbuka dan melayangkan tatapan tajam ke arah Nicholas yang mengalihkan pandangannya. Tatapan itu di layangkan oleh Sabrina karena tindakan nackal Nicholas, saat pembicaraan bersama dokter Adrian sang king kobra dapat di kendalikan dan kembali ke masa hibernasinya.


Senyuman nackal tersungging di wajah tampan Nicholas saat menatap Sabrina yang tengah merajuk, Perempuan cantik itu bahkan sengaja menggeser dan memberi jarak dengan Nicholas. Tangan kekar itu kembali menarik pinggang ramping Sabrina dan sedikit mengangkat tubuhnya, kini posisi Sabrina berada di atas tubuh Nicholas yang merebahkan diri di atas ranjang rumah sakit.


“angry ( marah? ) “ Nicholas menatap lembut ke arah Sabrina, pipi putih merona itu tampak sedikit menggelembung. Raut wajah Sabrina terlihat cemberut dengan mata yang menatap ke arah kemeja biru dongker Nicholas, dia tidak menjawab pertanyaan suami tampannya yang tersenyum nackal.


......................


Dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2