Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 169


__ADS_3

Jack terdiam sesaat dia lalu melihat ke arah Yohan yang membalasnya tersenyum, senyuman itu di mengerti oleh Jack yang juga ikut tersenyum.


Looks like young master's past trauma has been gradually diminishing, I'm so glad young master can finally let go of his past (Sepertinya trauma masa lalu tuan muda sudah berangsur-angsur berkurang, aku turut senang tuan muda akhirnya bisa melepaskan masa lalunya) gumam Yohan dalam hati. Jack tersenyum senang melihat kebahagiaan Nicholas, mendadak wajahnya terlihat begitu serius. Perubahan wajah Jack terlihat oleh Yohan,


“what's up?(Ada apa?)” tanya Yohan.


“He's out of jail (Dia sudah keluar dari penjara)” ujar Jack teringat dengan informasi dari mantan anak buahnya saat masih di dunia hitam. Mata Yohan terbuka lebih besar saat mendengar informasi itu,


“Hadn't he been sentenced to life? (Bukankah Dia sudah di hukum seumur hidup?)” Yohan teringat dengan musuh bebuyutan Nicholas saat masih menjadi mafia.


Sebelum menikah dengan Sabrina, Nicholas seorang Mafia yang memiliki musuh di mana-mana. Termasuk seorang mafia kejam Isaac, mafia kelas kakap yang berhasil di kirim Nicholas ke penjara untuk menjalani hukum yang sudah di tentukan oleh hakim.


Bukan hanya di kirim ke penjara saja, adik Isaac juga tidak sengaja terbunuh oleh anak buah Nicholas saat baku hantam senjata. Hal itu membuat rasa dendam dalam diri Isaac semakin dalam, dengan koneksi dan mengeluarkan uang yang banyak Isaac berhasil membuat dirinya keluar dari penjara sebelum waktunya.


Jack masih dapat mengingat tatapan tajam penuh dendam dari Isaac saat mereka berpapasan masuk ke pengadilan, tatapan dengan hasrat membunuh terlihat jelas jika tangannya tidak terikat mungkin saja senjata milik petugas di rebut Isaac dan di tembaki ke arah Nicholas dan lainnya.


“you should inform young master asap (kamu harus memberi tahu tuan muda secepatnya)” ujar Yohan, raut wajahnya terlihat cemas.


“I plan to tell boss now (aku berencana akan memberi tahu bos sekarang),” ujar Jack menatap ke arah pintu kamar Nicholas yang tertutup.


Sabrina sudah tampak sedikit merasa tenang, merasa bosan dia mengambil ponselnya di nakas samping ranjang. Punggungnya di sandarkan ke kepala ranjang sambil jari jemarinya bermain di layar datar ponsel itu, Sabrina memeriksa beberapa email dan pesan yang baru masuk.


Ceklek...

__ADS_1


Sabrina menatap ke arah pintu kamar yang tertutup oleh Nicholas yang masuk ke dalam kamar, tangan kekar itu memegang gelas berisi susu coklat hangat. Ponsel di tangan Sabrina bergetar dengan sebuah email yang baru saja masuk, matanya kembali menatap ke arah ponsel yang pada layar ponsel itu tertera foto riwayat medis pasien yang di tanganinya.


Nicholas melangkah mendekati ranjang menatap penuh kasih pada istrinya yang terfokus pada pekerjaannya,


“Brina sayang, please drink this (Brina sayang, minumlah ini)” Nicholas berdiri di samping Sabrina sambil menyodorkan gelas susu itu.


“wait a minute honey, I'm reading this in a minute (sebentar sayang, aku membaca ini sebentar lagi)" Sabrina tampak sangat fokus menatap ke arah layar ponsel.


“sayang, at least drink this to keep your body warm (sayang, setidaknya minumlah ini untuk membuat tubuhmu hangat)” Nicholas tidak pantang menyerah, dengan penuh kasih dia meminta Sabrina untuk meminum susu buatannya.


“Nico, wait a minute. A little more this will be over after that I will drink until the milk runs out (Nicho, tunggu sebentar. Sedikit lagi ini akan selesai setelahnya aku akan minum sampai habis susunya)” ujar Sabrina, jari jemarinya tampak mengetik sesuatu di layar ponsel.


Nicholas menghela nafas dan tersenyum menatap Sabrina yang serius dengan ponselnya, dia lalu menatap ke arah gelas susu yang di pegangnya.


Nicholas meminum susu itu sedikit lalu tangan kirinya dengan lembut memegang dagu Sabrina yang menatap heran ke arahnya, tanpa membuang waktu Nicholas mendekatkan wajahnya dan bibir mereka pun saling bertemu.


Ciuman itu meningkatkan levelnya hingga susu yang di minum Nicholas masuk dengan lancar ke mulut dan tenggorokan Sabrina, mata mereka saling terpejam menikmati ciuman hangat itu. Nicholas mengakhiri ciuman itu saat Sabrina tampak kepayahan mencari oksigen, mata mereka saling bertemu saling menatap dalam. Bahu Sabrina tampak naik turun berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin.


"very often we kiss, but you still can't breathe well (sangat sering kita berciuman, tapi kamu masih tidak bisa bernafas dengan baik)”ujar Nicholas tersenyum nakal dengan tangan kirinya menyeka sali** yang mengalir di sudut bibir Sabrina.


Tangan kanan Nicholas masih memegangi gelas susu coklat sedangkan kedua tangan Sabrina berada di dada bidang suaminya dengan kemeja yang masih belum terkancing. Ponsel yang di pegangnya sedari tadi sudah terjatuh di atas ranjang, wajah cantiknya bersemu memerah mendengar komentar dari suaminya.


Tangan Sabrina memukul manja dada bidang Nicholas, wajahnya terlihat cemberut dan menggemaskan.

__ADS_1


“you are also very happy to kiss me without giving a warning (kamu juga sangat senang menciumku tanpa memberi peringatan)” Sabrina terlihat merajuk membuat Nicholas merasa sangat gemas. Pria tampan itu mencubit lembut pipi Sabrina, bibir seksinya kembali menempel pada pipi Sabrina mengecup dengan penuh kasih sayang.


“ok... now my angel should drink her milk, so that she grows healthy and develops well (baiklah... sebaiknya sekarang bidadariku meminum susunya, agar dia tumbuh sehat dan berkembang dengan baik)”ujar Nicholas menempelkan pinggiran gelas ke bibir istrinya.


Sabrina perlahan meminum susu buatan Nicholas sampai habis, mata mereka saling menatap satu sama lain. Seakan mereka berdua saat ini berada di dunia lain, tatapan lembut dan tajam Nicholas seolah menghipnotis Sabrina.


Di seberang gedung apartemen milik Nicholas tampak seorang pria berpakaian serba hitam, dengan menggunakan topi dan masker hitam untuk menyamarkan dirinya. Pria berbadan besar itu memiliki mata tajam berwarna coklat tua dan aura yang membuat siapa saja takut untuk mendekati, bahu kiri pria itu menyandang sebuah tas berukuran besar dan panjang. Siapa pun yang melihat tas itu sudah bisa menebak jika pria yang tengah memasuki lift membawa senjata api yang berbahaya. Senyuman smirk tersungging di balik masker hitam yang di kenakan pria itu, jari telunjuknya menekan sebuah tombol di dinding lift.


“I will not waste this opportunity, I will send you to hell today (kesempatan ini tidak akan ku sia-siakan, aku akan mengirim kamu ke neraka hari ini)” ujar Pria itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Isaac.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2