Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 194


__ADS_3

“ndak usah eyang, Sabrina bisa beristirahat...” ucapan Sabrina terhenti saat Cakra memotong perkataannya begitu saja.


“ sebaiknya kamu kembali nduk, kasihan bayi mu. Dia pastinya sangat lelah karena perjalanan jauh, lebih baik sekarang kamu pulang” ujar Cakra.


“tapi pak Lek, Sabrina masih mau menemani eyang uti ” Sabrina merasa enggan untuk pulang, dia sangat ingin menemani Ningsih yang masih lemah.


"kamu bisa menjenguk eyang esok hari, sekaligus kita bisa membahas langkah medis untuk eyang utimu. Lebih baik Sekarang sebaiknya kamu pulang, yo" ujar Adiwijaya membujuk Sabrina untuk mau pulang. Cakra menatap ke arah Yohan yang terlihat sudah siap menerima perintah,


“you (pointing to Yohan) please take Sabrina and the baby home, surely you all need to rest (kamu (menunjuk ke arah Yohan) tolong antar Sabrina dan bayinya pulang, pastinya kalian semua perlu beristirahat)” ujar Cakra pada Yohan yang berdiri tidak jauh dari mereka. langsung di angguki oleh Yohan.


"yes Sir (baiklah tuan,)" ujar Yohan sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat. Dia berbicara dengan salah seorang anak buahnya dam memerintahkan untuk segera menyiapkan mobil untuk mereka kembali pulang ke rumah.


Wiyasa dan Sabrina saling menatap sejenak dengan mata yang menyiratkan rasa heran, mereka berdua kembali menatap ke arah Adiwijaya dan Cakra yang terlihat gugup juga waspada.


Wiyasa menatap ke arah adik iparnya yang melirik ke arah lorong lantai itu, dia terheran saat melihat beberapa orang yang berdiri mematung menatap ke arah mereka. Dia semakin bingung saat dua orang asing yang menatap dengan tatapan berbeda ke arah Sabrina juga lainnya,


Ada apa dengan bapak dan dek Cakra? Kenapa mereka begitu ingin Sabrina untuk pergi?!!! Dan....mereka siapa? kenapa setelah melihat mereka reaksi bapak sangat berbeda? Gumam Wiyasa dalam hati menatap ke arah Park Joon dan lainnya yang masih menatap dengan penuh harap ke arah mereka.


Sabrina kembali menatap ke arah bapaknya yang masih menatap ke arah lorong lantai dan mengalihkan pandangannya ke arah Wiyasa Menatap, Cakra segera menghalangi dengan berdiri tepat di depan Sabrina yang langsung menatapnya dengan kebingungan.


“Sabrina, sebaiknya sekarang kamu bersiap - siap Ayo...” ajak Cakra.


“sebentar pak Lek... Sabrina mau pamit dulu sama eyang uti dan lainnya” ujar Sabrina yang kembali masuk ke dalam kamar perawatan Ningsih dengan perasaan heran bercampur bingung akan sikap kakek dan pamannya. Di temani Cakra yang ikut masuk ke dalam kamar perawatan untuk memastikan Sabrina berkemas dan pamit dengan para perempuan keluarga Adiwijaya.


Park Joon dan Shu Kye tentu saja tidak ingin kesempatan untuk bertemu dengan Sabrina hilang begitu saja, mereka bergegas mendekat ke arah Adiwijaya dan lainnya.

__ADS_1


“Tuan....” belum selesai Park Joon berbicara, tangan kanan Adiwijaya terangkat ke udara.


“TIDAK.... Tidak sekarang “ Ujar Adiwijaya dengan sikap dan tatapan dingin. Rasa sedih dan putus asa tergambar jelas di wajah Shu Kye juga Park Joon, namun mereka sadar dan memahami sikap dingin keluarga Adiwijaya.


***


Andhini tengah menggendong baby Yusuf dengan penuh kasih sayang, sesekali pipi gembul itu di hujani ciuman lembut oleh Wulan dan Anjani. Jari mungil Gendis di pegangi oleh baby Yusuf yang terlihat asyik memainkannya,


“uuuu... Yusuf, tante gemes banget ama kamu... “ ujar Anjani dengan tangan bergerak ke arah pipi dan melakukan gerakan seolah mencubit pipi tembam baby Yusuf.


“mbak Dhini, gantian mbak.... Aku juga mau gendong Yusuf nya” ujar Wulan dengan kedua tangan terulur ke arah tubuh mungil baby Yusuf.


“yo wes ... Nih.. “ ujar Andhini mempersilahkan Wulan menggendong baby Yusuf. Mata bulat berwarna biru itu menatap lama ke arah Wulan lalu sebuah senyuman manis khas bayi tersungging di bibir mungil itu,


“masyaAllah, matanya mbak.... mirip bener sama bapak e” ujar Wulan terpesona dengan baby Yusuf yang mengingatkan mereka dengan Nicholas, Asmirah yang berada di sisi lain sejenak menatap ke arah Wulan sedang menimang baby Yusuf. Dia ingin mendekat dan menyapa baby mungil itu, tapi rasa cemas dan keegoisan menghalangi niatnya.


“eyang.... Sabrina pamit pulang ya, “ ujar Sabrina menggenggam tangan kanan Ningsih sambil menyalaminya, Ningsih menganggukkan kepalanya perlahan sambil tersenyum lemah. Wulan menghampiri ranjang Ningsih dan berdiri di samping Sabrina, baby Yusuf terlihat tenang dalam gendongannya.


“pulang?! ” ujar Wulan heran, Andhini dan lainnya juga menatap heran ke arah Sabrina. Rasa rindu mereka masih belum ter tuntaskan dan mendadak saja perempuan cantik itu ijin pamit untuk pulang ke kediamannya.


“sebenarnya Sabrina masih mau...” belum selesai Sabrina berbicara, Cakra langsung memotong pembicaraan Sabrina.


“bapak dan aku yang meminta Sabrina untuk pulang supaya dia juga lainnya bisa beristirahat, mereka baru saja landing dan langsung datang kemari. Tentunya mereka lelah setelah perjalanan jauh” ujar Cakra membuat para perempuan lainnya mengerti.


“ tapi....” Sabrina masih tampak enggan untuk meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


“benar kata pak de mu , nduk. Sebaiknya sekarang kamu pulang dengan yang lainnya, kasihan Yusuf kalo terus di sini” ujar Andhini. Sabrina terlihat enggan untuk mengikuti keinginan Cakra juga keluarga lainnya, dia menatap ke arah Ningsih yang membalas menatap dengan lembut.


Akhirnya dengan berat hati Sabrina berpamitan pada Ningsih dan lainnya, baby Yusuf pun tidak luput dari ciuman dan rasa gemas dari Wulan juga lainnya. Sabrina menyalami Andhini seraya memeluk erat, dia terlihat enggan untuk pulang lebih dulu. namun, saat menatap babynya Sabrina memilih menuruti anjuran Cakra dan Adiwijaya. Sabrina lalu berpamitan dengan Asmirah yang tersenyum canggung padanya, perubahan sikapnya semakin membuat tanda tanya besar di dalam hati Sabrina.


Mirah Kenapa ya? kok sikapnya berbeda dari biasanya? apa ada sikap ku yang udah bikin dia tersinggung? Gumam Sabrina dalam hati membalas tersenyum ke arah Asmirah.


Perubahan sikap Asmirah juga di rasakan oleh Andhini dan lainnya, Andini menatap heran ke arah Asmirah yang terlihat canggung dan sedikit menjaga jarak. Tanpa di sadari Sabrina, Ningsih, Andhini, Cakra dan Wulan mata bulat Anjani melotot memberi signal pada Asmirah yang sempat menatap ke arahnya, signal tatapan intimidasi darinya di tangkap dengan baik oleh Asmirah yang langsung berubah sikap sewajarnya.


“Mirah, kamu kenapa?! Mbak perhatiin dari tadi kamu.... “ belum selesai Sabrina bertanya pada Asmirah, Anjani segera berinisiatif mengalihkan pembicaraan.


“aah... Mbak... mbak pastinya belum kenalan dengan putri Jani (kedua tangan Anjani memegang pundak putri semata wayangnya) ini anak Jani namanya Gendis.... Gendis kenalin ini tante Sabrina, ini mbaknya mama” ujar Anjani memperkenalkan putrinya pada Sabrina yang langsung menatap ke arah gadis kecil di depannya. Sebelah tangan Anjani memegangi tangan Gendis yang langsung di sambut oleh Sabrina, Senyuman manis tersungging di wajah cantik Sabrina yang lalu bersimpuh di depan Gendis.


......................


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2