
“MAA... aku nggak mau. Kenapa mama malah memaksaku untuk mengakhiri hubungan kami? Aku tidak akan pernah putus dengan Roy” Adelia berdiri tepat di depan Roy yang diam-diam tersenyum smirk ke arah Indah.
Tidak... tidak ini tidak boleh terjadi, tidak dengan putriku... gumam Indah dalam hati dengan perasaan cemas.
“kamu harus putus dengan pria ini, kamu jangan pernah memiliki hubungan dengannya lagi” Indah tampak sangat emosi.
“nggak aku nggak mau, mama nggak bisa memaksa aku. Aku udah gede dan bisa menentukan jalan ku sendiri” Adelia keras kepala menentang keinginan Indah.
“nggak Adel, kamu harus memutuskan hubungan kalian arena dia adalah papa kandung kamu” Ujar Indah yang sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Adelia terkejut saat mendengar apa yang di ucapkan Indah, dia terlihat sangat begitu shock dan tidak mempercayai dengan apa yang di katakan Indah. Roy juga sangat terkejut dengan apa yang di beri tahu Indah, menghampiri sambil memegang kuat lengan Indah.
“apa kamu bilang? Tidak... katakan itu tidak benar” ujar Roy menatap nanar ke arah Indah yang menitikkan air matanya. Rahasia yang di simpannya dengan rapat-rapat akhirnya terungkap, diamnya Indah membuat Roy tahu jika apa yang di katakan Indah adalah kebenaran.
“tidak... tidak mungkin. Kamu sendiri yang memberi tahu aku jika kamu mengandung anak Arman, bahkan kamu memberikan bukti tes DNA jika dia adalah putri Arman. Kamu juga meminta bantuan ku untuk menyingkirkan Rianti istri Arman dengan membayar supirnya untuk meracuni agar dia mati dengan perlahan-lahan” ujar Roy tidak percaya, dia memegang kuat lengan Indah yang meringis kesakitan.
Adelia tampak sangat shock dan tidak fokus dengan apa yang di bicarakan Indah juga Roy, Indah memegang tangan Roy dan berusaha untuk melepaskan pegangan kuat itu.
“kita sama-sama tahu kalau kekayaan kamu masih jauh di bawah Arman, demi mendapatkan kepercayaannya aku mengubah sertifikat DNA Adelia dan aku bahkan rela mengotori tangan ku dengan membunuh Rianti agar kehidupan aku dan putriku terjamin” pengakuan Indah dan Roy terdengar oleh Arman yang berdiri tepat di depan ruangan istirahat itu.
Rasa amarah dan emosi menyelimuti hatinya seketika saat mendengar apa yang di ungkapkan Indah pada Roy, dia sangat terkejut dengan kenyataan kematian istri pertamanya akibat di racuni oleh Indah bukan karena melahirkan Sabrina.
Adelia merasa sangat shock dan tidak bisa menerima kenyataan pahit yang harus di tanggungnya,
“Hahaha... ayolah ma... Kalo mau nge prank nggak usah dengan cara seperti ini. Nggak lucu ah ma” ujar Adelia menolak untuk percaya dan menganggap apa yang di lakukan Indah adalah sebuah prank untuk membuatnya terkejut, Indah menatap nanar ke arahnya merasa sangat kesal.
__ADS_1
“Menurutmu mama akan Bercanda untuk saat ini?” Ujar Indah marah dan merasa kesakitan karena pegangan Roy yang semakin kuat.
“nggak... ini nggak mungkin terjadi... nggak... nggak... aku Adelia Kusumo putri kandung dari Arman Kusumo” ujar Adelia berusaha untuk meyakini dirinya, kedua tangannya memegangi rambut yang terikat rapi dengan tas kecil yang terpegang di tangan kirinya. Indah menangis sedih dengan Roy masih memegang erat lengannya, tatapan pria itu tajam dan dingin seolah-olah ingin memakan hidup-hidup perempuan di hadapannya.
Tas kecil yang ada di pegang Adelia terjatuh dan membuat seluruh isinya berhamburan keluar. Sebuah benda kecil menggelinding mengenai samping sepatu Roy, mata indah membuka sempurna saat melihat benda itu. Dia sangat mengenali benda itu dan tidak menyangka dengan hasil yang tertera di sana, Roy menatap heran pada Indah dan mengikuti ke arah perempuan itu menatap.
“Apa ini?” tanya Roy melepaskan pegangannya dari lengan indah, tangannya meraih benda yang tidak lain adalah sebuah test pack kehamilan yang menunjukkan garis dua berwarna merah. Indah menatap putrinya dan menghampiri sambil memegangi kuat lengan Adelia,
“A....Aa....Adel.... Katakan... Katakan ini tidak benar nak... Katakan...” tanya Indah memastikan jika hasil test pack itu salah. Mata Adelia berkaca-kaca menatap ke arah Indah yang berdiri di hadapannya, Roy masih bingung dengan benda yang di pegangnya itu.
“Seseorang beri tahu aku, benda apa ini” bentak Roy kasar menunggu jawaban dari Para perempuan itu.
“Adel, katakan jika apa yang mama pikirkan salah. Katakan jika kamu tidak hamil...” bentak Indah pada Adel yang mulai menangis sedih. Roy melihat ke arah Idah terkejut mendengar apa yang di ungkapkannya, dia menatap horor pada Indah dan Adelia.
“jawab aku Adel, apa Kamu hamil?” tanya Roy sekali lagi menatap tajam ke arah mata Adelia yang mulai meneteskan buliran air mata. Momen yang menurut Adelia seharusnya di sambut dengan kebahagiaan, semuanya berubah seketika menjadi momen yang sangat sulit untuk di terimanya.
****
Mobil taksi Sabrina memasuki pelataran apartement, beberapa body guard segera turun dan menghampiri mobil itu. Salah satu dari mereka membantu membukakan pintu yang berada tepat di samping Sabrina,
“Miss... “ sapa Body guard itu sambil mempersilahkan Sabrina untuk turun.
“wait a moment ( tunggu sebentar)” ujar Sabrina sambil membuka tas yang di pegangnya. Body guard itu tahu apa yang akan di lakukan oleh Sabrina,
“Miss Sabrina let me take care of it (nona Sabrina biar saya saja yang mengurusnya)” ujar body guard itu merogoh saku celananya untuk mengambil beberapa lembaran uang.
__ADS_1
“ok, give more for him (baiklah, berikan lebih untuknya)” ujar Sabrina memilih untuk membiarkan body guard itu membayar ongkos taksi. Tubuhnya terasa sangat lelah dan dia sangat ingin berbaring di tempat tidur sambil membaui pakaian Nicholas, Sabrina merasa heran pada dirinya sendiri yang akhir-akhir ini sangat senang dengan aroma dari Nicholas.
Dua hari tidak bertemu dengan Nicholas membuat Sabrina merasakan rindu yang teramat, matanya terus memperhatikan layar kecil di atas lift yang menunjukkan angka-angka setiap lantai apartemen. Pintu lift perlahan terbuka di lantai teratas, Sabrina melangkah keluar dari lift menuju anak tangga yang berada di samping lift.
Sabrina kini berada di depan pintu apartemennya dan menekan bel pintu, melihat kedatangan majikannya salah seorang maid membukakan pintu.
“Welcome Miss Sabrina (Selamat datang nona Sabrina)” sapa maid itu dengan ramah pada Sabrina yang membalasnya dengan tersenyum ramah. Maid itu mengulurkan kedua tangan untuk meraih jas dokter dan tas Sabrina, mata cantik perempuan itu menatap apartemen yang masih terlihat sepi.
“Nicho, not home yet? (Nicho, belum pulang?)” tanya Sabrina pada Maid yang langsung menggelengkan kepala menjawab pertanyaan. Raut wajah Sabrina terlihat sedih, ada perasaan rindu yang membuncah di hati pada pria tampan bermata biru itu.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1