Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 203


__ADS_3

Tangan Sabrina terulur hendak membuka pintu ruangan itu, tapi mendadak saja pintu itu terbuka lebar saat Shu Kye hendak keluar dari ruangan itu. Mereka berdua tampak terkejut dan saling menatap satu sama lain,


“Sabrina... “ panggil Shu Kye, Adiwijaya dan Wiyasa yang berjalan lebih dulu terhenti saat mendengar suara Shu Kye. Mereka berdua membalikkan tubuh dan melihat Sabrina berdiri tepat di depan sebuah kamar, Arman terbaring lemah mendengar samar – samar nama Sabrina yang di panggil oleh ibunya.


Perlahan matanya terbuka dan dia memalingkan wajahnya ke arah pintu kamar, matanya terlihat mengabur dan tidak dapat melihat. Siluet dia melihat bayangan Rianti yang berdiri di depan pintu, Arman menutup matanya sebentar dan kembali membuka agar bisa menatap dengan jelas siapa yang ada di depan pintu itu.


“ri... An.. Ti.... “ panggil Arman lemah mengira jika yang berdiri di depan pintu adalah istrinya, mata indah nan jernih itu menatap ke arah Arman yang memanggil nama ibunya. Tangan Arman yang terpasang infus terulur seakan ingin meraih perempuan yang sudah sangat lama dia rindukan, hati Sabrina tergerak teringin untuk menghampiri Arman.


***


Pesawat jet pribadi milik Nicholas tengah mengudara, mata biru tajam itu menatap pemandangan di balik jendela pesawat. Jantungnya berdebar – debar dan kupu – kupu seakan menari di dalam dadanya, setelah pertemuan singkat dengan koleganya, Nicholas yang sudah sangat merindukan Sabrina juga baby Yusuf memutuskan untuk menyusul mereka ke Indonesia.


Jack yang duduk di hadapan Nicholas tersenyum menatap bosnya tersenyum memandangi foto di tangannya, mata biru itu beralih menatap ke arah Jack.


“what's up? (ada apa?)” tanya Nicholas menatap bingung pada Jack.


“no boss, I'm just very happy (tidak ada bos, aku hanya sangat senang) “ ujar Jack senyum – senyum, perlahan senyuman itu memudar saat teringat film – film horor yang sempat di tonton olehnya. Pada film itu di ceritakan kisah seseorang yang kembali bertemu dengan kekasihnya, namun tidak semua menyangka jika yang kembali itu bukanlah orang yang hidup melainkan roh hantu.


Sekali lagi Jack memegang tangan Nicholas untuk memastikan jika yang di hadapannya adalah manusia, kening pria tampan bermata biru itu tampak berkerut bingung dengan tingkah laku bawahannya. Tingkah laku Jack membuat beberapa pramugari dan bawahan lainnya tercenung, mereka menatap penuh makna sambil tersenyum diam – diam. Hal itu di sadari oleh Nicholas yang semakin terlihat tidak senang,


“why hold my hand? Take it off?!! (kenapa memegang tanganku? Lepaskan?!!)” perintah Nicholas dingin, dia merasa terusik dengan perlakuan Jack.


“I just want to make sure the boss is real, not a ghost?! (aku hanya ingin memastikan jika bos adalah nyata, bukan hantu?!)” ujar Jack sontak membuat Nicholas menatap dingin ke arahnya, seketika saja terasa sangat kuat aura gelap dan mencekam di sekeliling Nicholas.


Aura seorang mantan mafia yang paling di segani di tanah kangguru itu tidak pernah luntur, Jack seketika melepaskan pegangannya saat merasakan aura intimidasi dari Nicholas. Semua penumpang di pesawat jet itu dapat merasakan radiasi dari aura Nicholas yang menekan, mereka memilih melakukan pekerjaan mereka kembali sambil berdoa dalam hati.

__ADS_1


May Mr. Jack be placed in the best place..... (Semoga tuan Jack di tempatkan di tempat yang terbaik.....) Gumam mereka dalam hati dengan raut wajah prihatin.


“so.... So...sorry Boss (ma... Ma.... Maaf bos) “ ujar Jack memilih mencari selamat dengan segera menyingkir dari hadapan Nicholas. Dia memilih pergi menuju toilet pesawat untuk melepaskan desakan panggilan alam akibat radiasi yang di rasakan, Jack masih merasakan aura dingin yang menusuk tepat ke arah punggungnya.


Tangan Arman masih tampak menggapai ke arah Sabrina yang masih berdiri di depan pintu kamar perawatan Arman, Sabrina ingin mendekat namun langkahnya terhenti saat tangan Arman yang terulur perlahan di tarik kembali. Wajah Arman yang semula berbinar perlahan – lahan berubah, matanya mulai perlahan beradaptasi.


Bayangan Rianti yang di lihat Arman perlahan berganti dengan Sabrina putri kandungnya, matanya sejenak termenung ke arah pintu. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan mata yang di pejamkannya, Arman memilih mengabaikan Sabrina saat bayangan masa lalu terputar di ingatannya.


Lagi....


Sakit tapi tidak berdarah hal itu yang di rasakan Sabrina saat Arman mengabaikannya lagi, perlahan kaki Sabrina melangkah mundur dengan wajah yang tertunduk. Mata bening dan indah itu tampak berkaca – kaca dengan sikap Arman, Shu Kye menatap sedih ke arah Sabrina yang berlalu pergi begitu saja.


Adiwijaya dan Wiyasa berdiri tidak jauh dari sana menyadari jika Sabrina tidak ada di belakang mereka, Raut wajah mereka terlihat bingung saat menatap Sabrina yang melangkah cepat menuju kamar Ningsih. mereka berdua saling menatap saat Sabrina melewati mereka,


Adiwijaya melihat ke arah kamar di mana Shu Kye berdiri dengan raut wajah sedih, dia lalu melangkah menuju ke arah Shu Kye yang tengah membalas menatapnya. Wiyasa mengikuti bapak mertuanya hingga sampai di depan kamar perawatan Arman, mata mereka terbuka lebar saat menatap kondisi Arman yang berubah drastis.


Walaupun sudah berumur tubuh Arman masih tampak gagah dan tegap, namun tubuh itu kini sudah berubah menjadi kurus dengan berbagai alat medis yang terpasang. Mereka dapat melihat dengan jelas tangan Arman yang kekar berubah kurus dan pucat, Wiyasa sama sekali tidak dapat melihat wajah Arman yang masih menatap ke arah lain.


“Bolehkah kami masuk?” tanya Adiwijaya pada Shu Kye yang segera bergeser ke samping.


“tentu saja, silah kan tuan?!” ujar Shu Kye mempersilahkan mereka untuk masuk.


Mata Arman terbuka lebar saat mendengar suara mantan mertuanya, secepat larinya flash saat di kejar oleh emaknya saat ketahuan main game online (Hehehehe) Wajah Arman berubah dingin dan tidak bersahabat.


Adiwijaya dan Wiyasa tercenung saat menatap wajah Arman yang terlihat sangat kurus, mata cekung dan bibirnya terlihat pucat. Mereka menatap prihatin dan iba melihat kondisinya, namun Arman menyalah artikan tatapan mereka yang mengira mengejeknya.

__ADS_1


Park Joon , Rian dan Indra tengah melangkah melewati lobi rumah sakit, mereka baru saja menemui dokter yang menangani Arman. Wajah mereka terlihat sedih dan tertekuk, masih terngiang di benak mereka penjelasan dokter yang sudah angkat tangan.


“... Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, jika pasien masih menolak perawatan dan obat yang kami berikan. Sebaiknya anda bersiap dengan kemungkinan terburuk....”


Mereka bertiga masuk ke dalam lift yang kebetulan terbuka, wajah mereka tergambar jelas raut kesedihan yang mendalam. Rian menekan tombol lift menuju lantai kamar perawatan Arman,


“haraboji, sekarang bagaimana?” tanya Indra, wajahnya terlihat lelah karena baru tiba dari Seoul. Park Joon hanya menghela nafas berat, dia sudah kehabisan cara membujuk Arman untuk mau menerima perawatan medis dari dokter yang menangani.


Pintu lift akan menutup segera kembali terbuka, dua pria tampan berdiri tepat di depan mereka. Para pria tampan itu tak lain adalah Raka dan Bima, mereka datang ke rumah sakit bermaksud untuk menjenguk Ningsih.


......................


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2