
Sabrina terlihat malu dan canggung saat berada satu ruangan dengan Nicholas, walaupun mereka sudah melewati malam indah bersama namun Sabrina masih begitu malu. Dia segera mengambil under miliknya dan mengenakannya dengan wajah merona, sedangkan Nicholas meraih sebuah t-shirt hitam lengan pendek dan memakainya. T-shirt itu sangat pas di tubuh Nicholas yang terlihat mencetak lekuk tubuh dan dada bidangnya, menambah nilai ketampanan hakiki dari dalam dirinya.
Aaduuuuh Aku malu banget dan merasa sangat canggung ...ndak... ndak boleh begini Sabrina, walau bagaimana pun Nicholas udah jadi suami mu. Dia berhak untuk melihat diri kamu seutuhnya... gumam Sabrina dalam hati, dia membuka tali bathrobe dan meraih pengamanan ekstra pegunungan. Mata biru elang Nicholas sejenak melihat ke arah Sabrina yang tengah mengenakan pengamanan itu dan berusaha mengaitkan pengaitnya di belakang punggung. Tangan Nicholas terulur membantu mengaitkan pengait itu, sejenak pandangannya terhenti pada bekas luka bakar di punggung Sabrina. Tangannya membelai lembut bekas luka sambil bibirnya mengecup lembut di sana membuat Sabrina sejenak memejamkan mata, tangan Nicholas meraih pakaian syar’i Sabrina dan membantu mengenakannya.
Rambut gadis itu yang tertutup handuk segera di lepaskan oleh Nicholas, rambut yang basah itu tergerai dan segera di kesampingkan pada pundak sebelah kanan Sabrina. Nicholas menarik resleting pakaian syar’i di belakang punggung Sabrina, semua perlakuan lembut Nicholas membuat jantung Sabrina berdegup dengan cepat. Dia terlihat sangat grogi dan malu,
“ok, everything is ok. Let's have breakfast (oke, semua sudah beres. Ayo kita sarapan)” ujar Nicholas kembali menggandeng tangan Sabrina, mereka melangkah menuju sofa di mana meja kecil tepat berada di atas meja kaca terisi dengan berbagai aneka sarapan terhidang di atasnya.
Mereka lalu sarapan bersama dalam satu piring berdua, sesekali Nicholas menyuapi makanan pada Sabrina begitu juga sebaliknya. Setela sarapan bersama Nicholas bangkit dari sofa melangkah meja rias milik Sabrina, dia mencari sesuatu dari dalam lemari kecil di bagian bawah meja rias itu.
“what are you looking for? (kamu mencari apa?)” tanya Sabrina heran menatap ke arah Nicholas yang sudah menemukan apa yang di carinya.
“I was looking for this, your hair is still wet. I don't want you to catch a cold by it (aku mencari ini, rambutmu masih basah. Aku tidak ingin kamu sampai terkena flu olehnya)” ujar Nicholas kembali melangkah ke sofa dengan hair dryer di tangannya, dia kembali duduk di tempatnya dengan Sabrina yang duduk di antara kedua kaki panjang itu. Setelah mencolokkan ke listrik hair dryer itu berfungsi dengan baik, Nicholas mulai membantu Sabrina mengeringkan rambutnya.
Sabrina terdiam dan larut dalam pikirannya, Nicholas masih mengeringkan rambut panjang Sabrina sejenak melihat dari samping wajah gadis cantik itu yang terlihat murung.
“What is it, honey? (ada apa sayang?)” tanya Nicholas sejenak mematikan hair dryer dan meletakkan di atas sebuah meja kecil di samping sofa yang di dudukinya.
__ADS_1
“hmmm.. “ Sabrina memalingkan wajahnya ke samping menatap ke arah Nicholas, kedua tangan kekar Nicholas memeluk pinggang ramping Sabrina sambil kepalanya bersandar di pundak kanan Sabrina yang kini menatap pemandangan di luar jendela kamar. Kedua tangan gadis itu memegangi tangan kekar Nicholas, punggungnya tersandar pada dada bidang pria gagah itu.
“what are you thinking about that your pretty face looks so gloomy? (apa yang sedang kamu pikirkan sehingga wajahmu yang cantik ini terlihat begitu murung?)” tanya Nicholas, sebelah tangannya mengesampingkan rambut panjang ke sebelah kiri lalu kembali memeluk dari belakang tubuh Sabrina. Mata Nicholas sejenak terpejam merasakan kehangatan kebersamaan bersama gadis yang sangat di cintainya,
“Nic... do I... I... can I work? ( Nic... apakah aku... aku... aku boleh bekerja?)” tanya Sabrina dengan hati-hati. Mata Nicholas langsung terbuka saat mendengar ucapan Sabrina, dia mengangkat dagunya yang semula bersandar di pundak gadis cantik itu.
Sabrina langsung membalikkan tubuhnya menatap ke arah Nicholas yang juga membalas menatapnya dengan tatapan tidak mengerti.
“You want to work? Is there something you need or is there something you want? Didn't I give you two black cards? You just use one of those cards (Kamu ingin bekerja? Apakah ada sesuatu yang kamu butuh kan atau ada barang yang kamu inginkan? Bukankah aku sudah memberikan dua kartu black card padamu? Kamu gunakan saja salah satu kartu itu)” Nicholas menatap ke arah Sabrina dengan tatapan heran, setelah sampai di Australia Nicholas memberikan dua kartu black card untuk di gunakan Sabrina.
Namun kedua kartu itu sama sekali belum di gunakan dan bahkan tidak pernah di pakai oleh Sabrina, ada keraguan di hati gadis cantik itu saat akan menggunakan uang yang di berikan Nicholas. Perasaan keraguan Sabrina segera di tepis Nicholas yang menjelaskan jika uang di dalam kartu itu adalah uang yang dia dapatkan dari keringat jerih payahnya dalam menjalankan bisnis.
Sabrina langsung menggelengkan kepalanya menatap ke arah mata Nicholas,
“no... That's not what I meant. I... I... I want to fulfill my dream and serve by carrying out my profession as a doctor. I want the knowledge I learn to be useful for other people's lives, moreover I feel very bored being in the room all the time doing nothing (bukan... Bukan itu maksudku. Aku... aku.... aku ingin mewujudkan mimpi dan mengabdi dengan menjalankan profesi ku sebagai seorang dokter. Aku ingin ilmu yang aku pelajari menjadi bermanfaat bagi kehidupan orang lain, apalagi aku merasa sangat bosan berada di kamar terus tanpa melakukan apa pun)” ujar Sabrina sedikit merajuk.
Diakuinya selama tinggal di apartemen sama sekali tidak bisa mengerjakan apapun karena sudah di kerjakan oleh Yohan dan para maid, Nicholas tampak berpikir sejenak dengan matanya menatap ke arah gadis cantik itu.
__ADS_1
“If you want to work fine, I'll build a hospital so you... (jika kamu ingin bekerja baiklah, aku akan membuatkan rumah sakit agar kamu...)”
“no.... No, I'm not experienced enough to open a hospital myself. My experience is still shallow and it will all be in vain (bukan.... Bukan begitu, aku belum berpengalaman untuk membuka rumah sakit sendiri. Pengalaman ku masih dangkal dan itu semua akan menjadi sia-sia)”
jika Nic membuatkan rumah sakit... ndak... ndak... aku ndak bisa membiarkan Nic membangun rumah sakit, gumam Sabrina dalam hati membayangkan kekacauan apa yang mungkin akan terjadi jika seorang mafia membangun rumah sakit. Bukan hanya nantinya musuh Nicholas yang berulah, Gadis cantik itu juga membayangkan jika anak buah Nicholas akan berbuat nekat dengan memaksa atau mengancam para psien untuk berobat ke rumah sakit yang di kelolanya.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...