
“this is all purely from my wish, i want to marry you because since the first meeting i can't stop thinking of you sir.... (ini semua murni dari keinginanku, aku ingin menikah dengan tuan karena sejak pertemuan pertama aku tidak bisa berhenti memikirkan tuan....)” ujar Sabrina dengan cepat, dia sedikit menghela nafas lega saat Arman menaruh kembali serum itu di atas meja.
Sabrina sama sekali tidak memikirkan apa yang sudah di katakannya, dia hanya terfokus pada serum penawar yang berada di tangan Arman.
“what did you say? (apa yang kamu katakan?)” Nicholas tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Berat hati Sabrina kembali mengucapkan kata-katanya tadi.
“I... I want you to marry me... since the first time we met, I have... fallen in love with you sir... (aku... aku ingin tuan menikahiku... sejak pertama kali kita bertemu, aku telah... jatuh cinta pada Tuan...)” ujar Sabrina dengan berat hati.
Kupu-kupu beterbangan dengan indah di hati Nicholas, pengakuan Sabrina sukses membuat senyuman bahagia di bibir pria dingin itu. Rasa bahagia meliputi hatinya, Seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru kesukaannya.
Arman menyuruh Adelia untuk mengambil pena dan kertas, dia menulis sesuatu di sana. Setelah itu dia memperlihatkannya pada Sabrina, memintanya untuk membaca dengan keras.
“I (Sabrina tampak ragu membaca pesan itu) I... I want us to get married tomorrow morning at... (aku... (Sabrina tampak ragu membaca pesan itu) aku... aku ingin kita menikah besok pagi di...” Sabrina membaca dengan keras pesan yang di tulis Arman. Dia juga memberikan alamat tempat mereka akan menikah nanti, Nicholas tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.
“well... tomorrow morning we will meet there.... (baiklah... besok pagi kita akan bertemu di sana...)” ujar Nicholas, dia ingin kembali berbicara namun sambungan telepon itu sudah di putus secara sepihak oleh Arman yang langsung merebut ponsel miliknya.
“anak baik... (Indah menepuk-nepuk pelan pipi Sabrina) sebentar lagi kamu akan menikah, jadi sekarang kamu beristirahat agar besok tidak terlambat untuk menikah...” Indah membantu Sabrina berdiri, dia lalu mendorong dengan kasar tubuh Sabrina ke arah pria bayaran Arman. Ponsel milik Sabrina bergetar di lantai, tertulis nama Raka di sana.
Pria itu mencengkeram lengan kiri Sabrina dengan kuat hingga wajah cantik itu meringis kesakitan.
“jangann.... jangan Adel” pinta Sabrina dengan tatapan memohon.
Adelia menatap Sabrina dengan senyuman licik, dia lalu menginjak dengan kuat ponsel Sabrina hingga layar ponsel itu retak. Dia lalu mengambil ponsel Sabrina dan membanting dengan keras ke lantai hingga ponsel milik Sabrina rusak sangat parah.
“bawa dia ke kamar, awasi dia jangan sampai kabur” perintah Arman pada pria itu yang segera menjalankan tugasnya.
__ADS_1
Sabrina benar-benar tidak berdaya, dia di bawa paksa ke kamar mewah pesanan Arman. di dalam kamar itu, Sabrina di perlakukan tidak manusiawi oleh Arman, dia di paksa untuk tidur di lantai. Tanpa alas dan selimut, Sabrina meminta pada pria bayaran Arman mengizinkannya untuk menunaikan kewajiban.
Pria itu lalu menarik lengan Sabrina menyeret ke kamar mandi, dia juga mengatakan untuk memberi kesempatan pada Sabrina untuk melaksanakan kewajibannya. Tanpa membuang waktu Sabrina segera mengambil wudu dan menjalankan ibadah dengan khusyuk dengan memakai pakaian miliknya. hal itu terpaksa dia lakukan karena Indah maupun Adelia tidak memiliki mukena.
****
Nicholas berada dalam pesawat pribadinya, setelah mendapatkan telepon dari Sabrina. Segera dia menyuruh anak buahnya dan pilot mempersiapkan pesawat untuk penerbangannya ke Indonesia.
Dia diam termenung tampak berpikir keras, keinginan Sabrina sangat bertolak belakang dengan Sabrina sebelumnya. Pertemuan mereka hanya satu kali, Nicholas tidak percaya begitu saja jika Sabrina telah jatuh cinta dengannya.
Jack yang duduk di depan Nicholas merasa heran dengan bosnya, pagi tadi mereka baru saja tiba dari negara Indonesia. Kini mendadak Nicholas meminta penerbangan ke Indonesia malam ini juga.
“ boss, sorry. Why do we have to go back to Indonesia now? Even though we just arrived in Australia this morning, we haven't even fixed the problem at all (bos, maaf. Kenapa kita harus kembali ke Indonesia sekarang? Padahal kita baru saja sampai di Australia pagi tadi, bahkan kita sama sekali belum membereskan masalah yang terjadi)” ujar Jack heran.
“something happened to Sabrina.... (terjadi sesuatu dengan Sabrina....)” Nicholas menceritakan apa yang di bicarakan Sabrina padanya, Jack juga merasa heran dan aneh saat mendengar hal itu.
“From the boss' story and seeing Miss Sabrina's attitude, I think someone is forcing and pressing mis, Boss. (dari cerita bos dan melihat sikap nona Sabrina, aku rasa ada yang memaksa dan menekan nona, Bos.)”
“I thought so too, I will skin anyone who dares to hurt Sabrina (aku juga berpikir begitu, akan aku kuliti siapa saja yang berani menyakiti Sabrina)” ujar Nicholas menatap dingin pemandangan di luar jendela pesawat.
Senyuman iblis tersungging di bibir Jack, dia mengokang senjata api miliknya lalu menyimpannya di balik jas. Seluruh pesawat Nicholas tertutup aura gelap yang mencekam, pramugari dan pramugara yang akan mengantar minuman tidak berani mendekati bos mereka.
Pagi hari di kota Surakarta, pagi itu cuaca tampak mendung. Sabrina tengah tertidur di atas sejadah kecil matanya tampak bengkak karena menangis semalaman. Dia terpaksa sholat mengenakan pakaiannya yang dalam dan panjang, Sabrina dalam hatinya berdoa agar ibadahnya di terima sang Pencipta.
Sabrina tidak lupa berdoa untuk kesembuhan kedua pria yang sangat sayangi. Dia juga meminta petunjuk atas jalan yang dia pilih, Sabrina menyakini jika Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan hambanya.
__ADS_1
Setelah berdoa sepanjang malam, Sabrina tertidur pulas dengan kepala berada di atas sajadah kecil itu. Arman dan lainnya sudah bangun, mendapati Sabrina yang meringkuk kedinginan di lantai.
Adelia mengambil minuman lalu menyiram tepat di wajah Sabrina yang terkejut langsung terbangun.
“bangun jal*ng, saatnya kamu siap-siap sekarang” ujar Adelia yang menarik lengan Sabrina untuk berdiri.
Sabrina masih tampak linglung mencoba mengumpulkan nyawanya yang sempat tersebar di mana- mana. Adelia dengan kasar menyeret Sabrina ke kamar mandi, sedikit merasa sadar Sabrina dengan kuat menyentak tangan Adelia hingga dia terdorong ke belakang beberapa langkah.
“aku bisa sendiri” ujar Sabrina sambil menutup pintu tepat di wajah Adel.
“jal*ng sial*n, kalo saja bukan karena kamu akan menikah sekarang. Aku akan bunuh kamu sekarang juga” ujar Adelia sambil menendang pintu kamar mandi.
“Adel, apa surat-suratnya sudah siap?” ujar Arman memastikan surat-surat untuk pernikahan beres. Saat pertemuan dengan petugas KUA beberapa hari yang lalu, Arman berhasil mendapat surat-surat milik Sabrina.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...