
“Mirah, kamu bawa Raka ke puskesmas sekarang. Aku dan Dewi akan ke perangkat desa untuk melaporkan hal ini” ujar Thio.
“tidak usah, lukanya tidak terlalu dalam. Aku ikut dengan mu” ujar Raka berusaha melangkah sambil memegangi perutnya yang masih mengeluarkan darah.
“lu jangan ngeyel Raka, kalo ada apa – apa dengan lu gi mana gua mau jelasin ke orang – orang rumah?! lebih baik sekarang lu di obati biar lukanya kagak infeksi” ujar Thio mengode ke arah Asmirah untuk membantu Raka. Thio bergerak cepat melangkah beriringan dengan Dewi menuju kantor kepala desa, mereka meninggalkan Raka dengan Asmirah begitu saja.
Asmirah dengan sigap membantu memegangi lengan Raka melangkah menuju ke puskesmas setempat, dengan perlahan dan sikap gentlemen Raka menolak batuan Asmirah. Namun, melihat Raka yang kesulitan melangkah membuat Asmirah tidak tega dan langsung menolongnya memapah dengan hati - hati.
Sepanjang perjalanan menuju ke puskesmas Asmirah dan Raka sering berpapasan dengan penduduk lokal, para penduduk tampak berbisik – bisik dan mulai membicarakan mereka berdua. Asmirah dan Raka sama sekali tidak menggubris bahkan sengaja mengabaikan setiap pembicaraan mereka, terlihat jelas dari raut wajah para penduduk yang tidak senang dengan kedekatan mereka.
Asmirah membantu Raka duduk di sebuah ranjang di puskesmas sambil melihat ke sekeliling ruangan,
“oppa... tunggu sebentar di sini, Mirah cari dokter dulu ya” ujar Asmirah yang langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh Raka yang mulai tampak melemah. Dia lalu melihat ke sekeliling gedung puskesmas untuk mencari keberadaan dokter atau mantri yang bertugas, namun tidak seorang pun di temuinya.
__ADS_1
Asmirah lalu mengambil perlatan seperti benang, jarum jahit, perekat, kasa dan beberapa perlatan yang dibutuhkan, dia lalu bergegas kembali ke ruangan darurat di mana Raka tengah membuka kemeja yang di gunakan. Raka saat itu membelakangi Asmirah yang berdiri di depan pintu ruangan, dia termenung dan terpesona dengan pemandangan yang menggoda iman.
Punggung bidang terlihat kokoh dan kuat serta lebar, membuat kaum hawa mana pun tergoda untuk bersandar di punggung itu. Asmirah masih terpesona dengan pemandangan dari maha karya sang pencipta hingga dia tersadarkan oleh Raka yang menjentikkan tangannya tepat di hadapan wajahnya, dia lalu melaksanakan tugasnya membantu Raka mengobati luka yang masih mengalirkan darah.
Thio dan Dewi segera melaporkan kejadian yang menimpa mereka, tapi hal mengejutkan di luar perkiraan mereka telah terjadi. Mereka berdua termenung saat melihat para penduduk desa ramai di depan balai desa, raut wajah para penduduk itu terlihat tidak senang dan marah. Di antara para penduduk itu ada beberapa pemuda yang sempat berselisih paham dengan Raka dan mantri atau dokter yang bertugas di puskesmas, Thio hendak melaporkan apa yang baru menimpa mereka malah membuat kobaran api kemarahan penduduk semakin membesar.
Rupanya para penduduk desa sudah termakan hasutan dari para pemuda itu, hasutan itu juga di perkuat saat mereka yang selama ini melihat kedekatan Asmirah dan Raka. Semula para penduduk mengira jika Raka dan Asmirah adik kakak, tapi saat mantri itu menjelaskan hubungan Asmirah dengan Raka yang tidak seperti dugaan membuat mereka marah dan tidak senang.
Para penduduk merasa khawatir pada para anak gadis mereka akan terpengaruh dengan kebebasan yang di tunjukkan Asmirah dan Raka, bersusah payah Thio dan Dewi menjelaskan jika hubungan Raka juga Asmirah tidak seperti yang mereka bayangkan. Bahkan mereka berdua juga memberikan bukti masih membuat para penduduk desa tidak percaya, hasutan dari beberapa pemuda mematahkan setiap bukti yang di tunjukkan oleh Thio.
Bukankah ini hal yang bagus?! Dengan begini Raka akan mau menikah, apa lagi Mirah sudah aku kenal dari kecil dan Raka bisa melupakan cintanya pada Sabrina gumam Helena dalam hati mendapat ide di benaknya.
Thio masih memegangi ponselnya menunggu respond dari seberang sana, dia lalu memanggil – manggil Helena yang masih terdiam dan belum berbicara sepatah kata pun. Helena tersadar dari lamunannya melihat ke atas meja yang ada di depannya, sebuah kantong kresek bekas bungkus jajanan yang di belinya memberi sebuah ide. Kantong kresek itu di ambilnya dan di dekatkan pada ponsel itu, Helena menirukan suara ribut yang sering di lihatnya di dalam drama – drama tontonannya.
__ADS_1
Kresek.... Kreessss.... Kressseeek...
Thio yang mendengar suara aneh menatap layar ponselnya sejenak sambil berpikir jika ada yang salah dengan ponsel atau signal miliknya, pada layar itu tertera signal dalam keadaan baik.
“hal... Ha...haloook..... Thioo....thio.... Kena... Pa... Nggak..... Ada.... Su...araaa...nyaaa...” ujar Helena membuat suara gaduh dan terputus – putus, sambungan telepon itu pun di putuskan secara sepihak olehnya. Kening Thio berkerut saat menatap ponselnya yang sudah menggelap layarnya, semua mata penduduk desa tertuju ke arah Thio yang hanya bisa diam.
Sesuai dengan keputusan bersama para tetua dan kepala desa di ambillah kesimpulan untuk mengusir Asmirah, Raka, Thio dan Dewi dari desa. Tentu saja hal itu di tentang Thio dan Dewi begitu juga dengan Asmira juga Raka yang datang ke balai desa, mereka berdua memutuskan untuk menyusul Thio dan Dewi. Hal yang tidak terduga saat mereka mendengar pernyataan dari para penduduk desa yang tidak senang dan menuduh mereka yang tidak – tidak, Raka lalu menjelaskan bagaimana hubungan mereka.
Para penduduk desa tentu saja tidak bisa menerima apa yang di jelaskan Raka, mereka memiliki opini dan bukti yang sangat di yakini. Asmirah juga ikut menolak keputusan kepala desa yang mengusirnya karena masa pelatihannya yang masih belum selesai. Desakan dan tudingan dari para penduduk desa juga untuk menyelamatkan kehormatan Asmirah yang di pertanyakan, Raka pun melontarkan sebuah pernyataan yang
membuat Asmirah, Thio dan Dewi termenung mendengarnya.
“Dia adalah calon istri saya, sebaiknya anda menghormati dan tidak mempertanyakan kehormatannya” ujar Raka lantang yang sudah merasa marah saat mendengar lontaran perkataan yang merendahkan Asmirah. Ucapan Raka sukses membuat Thio, Dewi dan Asmirah termenung mendengarnya, ada rasa bahagia yang menyelimuti hati Asmirah membuat pipinya merona merah.
__ADS_1
Semua orang yang mendengar pernyataan Raka langsung terdiam, mereka saling berpandangan dan saling berkomentar mengutarakan pendapat mereka masing – masing. Para tetua dan kepala Desa tampak berunding kembali, mereka pun bermufakat untuk tidak memperpanjang masalah hal itu. Berbeda dengan para pemuda yang masih merasa dendam dan tidak bisa menerima keputusan yang di ambil, Raka dan lainnya lalu di perbolehkan kembal ke kediaman mereka.