
Di suatu Pagi yang cerah di hotel Grand Surakarta...
Indah baru saja sampai di hotel itu, dia melangkahkan kakinya menuju resepsionis dan bertanya di kamar mana Adelia juga Arman menginap. Adelia dan Arman sedang berada dalam lift menuju lobi untuk sarapan pagi.
ting...
Pintu lift terbuka saat sampai di tujuannya, Adelia dan Arman terkejut sekaligus senang saat melihat Indah yang berdiri di depan lift.
"mama.." panggil Adelia senang, segera memeluk Indah.
"adel sayang...mama kangen sama kamu" Ujar Indah sambil cipika dan cipiki dengan Adelia. Indah melepaskan pelukannya saat menatap kondisi suaminya, tangan kanan Arman ter perban dan di sangga agar tidak terbentur benda keras atau bertambah parah oleh hal lain.
“pa...” indah memeluk Arman yang masih tampak sangat kesakitan. Indah membantu Arman dengan memapahnya menuju restoran, Adelia menggeret koper Indah mengikuti mereka.
Mereka bertiga duduk di sebuah meja, pelayan restoran segera menghidangkan sarapan di atas meja melayani dengan sepenuh hati. Setelah itu pelayan restoran meninggalkan meja mereka bertiga yang mulai menyantap sarapan hangat.
Indah membantu Arman yang tampak sangat kepayahan menggunakan tangan kirinya, dia dengan telaten menyuapi Arman.
“sayang, kenapa papa kamu sudah keluar dari klinik? Seharusnya papa kamu masih di rawat intensif, apa kamu...”
“ma, Adel juga maunya papa di rawat sampai sembuh. Tapi papa malah minta pulang dan rawat jalan saja” ujar Adelia sedih.
“ sudahlah Indah jangan kamu menyalahkan Adel, ini semua karena anak sial*n itu juga keluarganya. Jika saja si anak sial*n itu setuju, tentunya tangan ku masih baik-baik saja dan aku bisa menjodohkan Adel dengan Raka” Ujar Arman kesal.
“Raka? Raka siapa?” tanya Indah penasaran menatap ke arah Adelia yang tampak malu-mau kucing.
“namanya Raka Candra Wiguna ma” Ujar Adelia saat teringat dengan sosok Raka, wajahnya bersemu merah saat mengingat wajah tampan Raka. Dia meraih ponselnya lalu membuka kunci, jarinya menggeser-geser me
“ Raka Candra Wiguna? Bukannya dia orang yang akan papa ajak untuk kerja sama?” tanya Indah teringat dengan proposal kerja yang di bawa Arman.
__ADS_1
“iya dia orangnya, tapi semunya hancur berantakan karena anak sial*n itu sudah bertunangan dengan Raka. Kita terlambat satu langkah dengan gadis licik itu” Arman tampak sangat geram.
“ dasar anak tidak tahu di untung, tahu dia akan bersikap seperti ini. Lebih baik kita singkirkan dia untuk selama-lamanya sejak dulu” Indah sangat kesal mendengar cerita Arman tentang Sabrina.
“tenang aja ma, aku ada rencana...” ujar Adelia tersenyum licik. Mereka berdiskusi cukup lama menyusun rencana untuk menjadikan Sabrina menjadi Jaminan secara sukarela pada Nicholas.
Adelia juga sudah memberi laporan mata-mata yang di tugasinya untuk memata-matai keluarga Adiwijaya. Senyuman smirk tersungging di wajah Arman saat mendengar laporan dari pria itu, dia senang saat mendengar keluarga Adiwijaya dan Wiguna mengalami hambatan dalam pengurusan surat pernikahan.
Rencana kini sudah tersusun dengan sempurna, Arman meminta Adelia dan Indah untuk berhati-hati juga tidak menyakiti Sabrina. Dia melihat ke kanan dan kiri memastikan sesuatu dan benar saja Arman melihat beberapa pria tengah mengawasinya dengan intens.
“rencana ini tidak boleh bocor, apa lagi di ketahui oleh tuan Nicholas. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika tuan Nicholas sampai tahu” ujar Arman bergidik ngeri membayangkan apa yang akan di lakukan Nicholas.
Adelia dan Indah melihat ke arah yang sama di lihat oleh Arman, mereka sadar jika mereka di awasi oleh orang-orang Nicholas. Diam-diam tanpa di ketahui oleh Arman dan yang lainnya, anak buah Nicholas mengambil foto mereka dan mengirimkannya pada bos mereka.
Nicholas tengah menikmati sarapan paginya bersama Jack, terdengar notifikasi pesan masuk di ponsel Jack. Pesan itu segera di buka oleh Jack dan langsung di perlihatkan pada Nicholas yang tengah menikmati kopi hangatnya. Mata tajam itu melihat foto Arman dan sebuah pesan di bawah foto itu.
“ternyata perempuan ja**ng itu sudah datang kemari, katakan kepada mereka untuk terus mengawasi mereka. Jika mereka ada niat untuk menyakiti Sabrina segera laporkan pada ku” ujar Nicholas menatap tajam penuh dengan aura membunuh di sekitar tubuhnya.
***
Di kediaman Adiwijaya...
Pagi itu tampak begitu ramai di kediaman Adiwijaya, para tetangga, tetua dan keluarga besar Adiwijaya tampak sibuk. Beberapa tampak sedang memasang tenda dan dekorasi, tidak tampak keluarga Candra Wiguna di antara mereka.
Keluarga Candra Wiguna kini pindah ke kediaman lama Wiguna, karena pernikahan Raka dan Sabrina yang akan sebentar lagi di gelar. Kini Raka dan Sabrina harus ‘dipingit’ atau tidak di izinkan bertemu sampai acara akad nikah selesai.
Sebelum bertemu dengan ulama besar Adiwijaya sudah menyiapkan beberapa rencana cadangan untuk kelancaran pernikahan Sabrina dan Raka. Dia juga sudah mempersiapkan orang yang akan di kirimnya ke Korea Selatan untuk menemui keluarga besar Kusumo dengan resiko pernikahan Sabrina di tunda lebih lama.
Hal itu tidak di setujui oleh kedua keluarga, mereka tidak ingin rencana ini gagal dan Arman mengambil kesempatan untuk memaksa Sabrina. Mereka pun bernafas lega saat mendengar penjelasan dari ulama besar yang memberi solusi terbaik dengan permasalahan yang mereka hadapi.
__ADS_1
Kini Raka merasa sangat tersiksa karena di pingit tidak di izinkan bertemu dengan gadis yang akan sebentar lagi menjadi istrinya.
Adrian tersenyum melihat putra pertamanya tengah duduk sambil menatapi ponsel dengan wallpaper foto Sabrina di sana, setelah mendapat kabar dari Candra tentang pernikahan Raka yang di percepat. Adrian segera terbang ke Surakarta bersama Bima dan Anjani, pengantin baru itu baru saja pulang berbulan madu mendapati kedua rumah keluarga mereka nyaris kosong.
Anjani sangat senang mendengar Mbaknya akan menikah sebentar lagi, dia meminta izin pada Bima untuk menginap di rumah eyangnya. Alhasil kini Bima harus terpisah sementara dengan Anjani, kerinduan begitu terasa di hati Bima yang sedang duduk di samping Raka dengan ponsel di tangannya. Mereka berdua seakan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Eliana, Helena dan Wibisana baru saja kembali dari mall setempat, Eliana dan Wibisana tampak menggerutu kesal dengan banyak barang yang harus mereka bawa.
“assalamualaikum papi” sapa Helena senang karena mendapat segala sesuatu yang dibutuhkannya.
“waalaikum salam” Ujar Adrian menatap heran ke arah Eliana dan Wibisana.
“Lo kok pada nggak ucapin salam?” ujar Adrian pada Eliana dan Wibisana, mereka berdua kelelahan. Eliana duduk di antara Adrian dan Wibisana.
“sorry pi.... tapi.... jujur sekarang Elia kagak mau ikut mami belanja lagi” keluh Eliana kapok.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...