
Asmirah seperti kameramen profesional terus mengarahkan ponselnya yang sedang terhubung dengan keluarga Adiwijaya lainnya. Para Anak buah Nicholas segera menyingkir memberi kesempatan untuk Bos mereka berbicara.
“Mr. Nicholas... sir... (tuan Nicholas... tuan...)” sapa Araf sambil memegang tangan Sabrina melangkah menghampiri pria tampan itu. Raut wajah Nicholas tampak kebingungan menatap ke arah mereka berdua,
“Mr Araf, what are you doing here and... (tuan Araf, sedang apa anda di sini dan...)" Nicholas termenung saat melihat Sabrina yang juga ikut datang. Araf menarik tangan Sabrina untuk menghampiri Nicholas tampak kebingungan,
"that's.... i.... (itu... aku...)" belum selesai Araf berbicara Nicholas langsung memotong pembicaraannya.
"Mr. Araf, I know if you and your family want us to separate as soon as possible. I also told Sabrina that I would send a farewell letter as soon as possible.... (tuan Araf, aku tahu jika anda dan keluarga ingin secepatnya kami berpisah. aku juga sudah mengatakan pada Sabrina jika aku akan mengirimkan surat perpisahan secepatnya....)” ucapan Nicholas terhenti saat Araf langsung memotong.
“no... it's not like that. I came here to deliver and represent our extended family to hand over my sister Sabrina to you (bukan... bukan begitu. Aku datang kemari ingin mengantarkan dan mewakili keluarga besar kami menyerahkan Sabrina adikku pada mu)” ujar Araf membuat Sabrina menatap tidak percaya dengan apa yang di utarakannya. Nicholas juga terkejut mendengar apa yang di katakan Araf
“What?! Mr. Araf.... did I not hear it wrong? A few hours ago you were still against even doubting me. Now how can you hand your sister over to me? (Apa?! tuan Araf.... apa aku tidak salah mendengarnya? Beberapa jam yang lalu anda masih menentang bahkan meragukan ku. Sekarang bagaimana anda bisa menyerahkan adik anda padaku?)” tanya Nicholas terlihat ragu.
“it all happened because I was shocked by your marriage and my unpreparedness had to lose my two sisters in the very near future ( itu semua terjadi lantaran aku yang terkejut dengan pernikahan kalian dan ke tidak siapan ku harus kehilangan kedua adikku dalam waktu yang sangat dekat )” ujar Araf menatap ke arah Sabrina dan Anjani. Mata para gadis itu tampak berkaca-kaca mendengar apa yang di ungkapkan oleh mas mereka,
“mas Araf...” Sabrina memegang tangan Araf dengan kedua tangannya.
“Dek... what Grandpa said is true. Raka is a good and polite man because I have known him for a very long time ( menatap ke arah Nicholas) but... the man in front of us right now who is willing to sacrifice his love and happiness for your happiness really deserves to be beside you (Dek... apa yang di katakan eyang benar adanya. Raka memang pria yang baik dan santun lantaran mas mengenalnya sudah sangat lama, ( menatap ke arah Nicholas) tapi... pria yang ada di hadapan kita saat ini yang rela mengorbankan cinta dan kebahagiaannya demi kebahagiaan mu sangat pantas untuk berada di samping mu)” ujar Araf pada Sabrina yang menatapnya dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
“mas...” Sabrina berhamburan memeluk tubuh kekar dan dada bidang Araf. Kedua tangannya melingkar di pinggang Araf dengan wajah yang menempel di dada pria gagah itu.
__ADS_1
Nicholas menatap kagum pada Araf yang sangat menyayangi adik-adiknya.
“Mr. Nicholas, since childhood Sabrina has always suffered and therefore I acted which may have offended you. not because I hate you, but the magnitude of my love for my sisters (tuan Nicholas, sedari kecil Sabrina selalu menderita dan karenanya aku bertindak yang mungkin telah menyinggung dirimu. bukan karena aku membencimu, tapi besarnya kasih sayang ku pada adik-adikku)”
“I know that and understand it. You are only carrying out your duty as a brother who protects a sister who is very dear to you (aku tahu hal itu dan memahaminya. Anda hanya menjalankan tugas anda sebagai kakak yang melindungi adik yang sangat di sayangi)” Nicholas menatap ke arah Sabrina yang masih memeluk tubuh Araf.
“ thank you mr. Nicholas. Please replace us to care for, cherish and love him with all our heart. If later he makes a mistake, advise him, don't you ever hurt him. When that happens I will make good calculations with you of course (terima kasih tuan Nicholas. Tolong gantikan kami untuk menjaga, menyayangi dan mencintainya dengan sepenuh hati. Jika nantinya dia berbuat salah nasihatilah dia, jangan pernah sekalipun anda menyakitinya. Bila hal itu terjadi aku akan membuat perhitungan yang baik dengan anda tentunya)” ujar Araf penuh ancaman pada Nicholas yang tersenyum hangat padanya.
“I promise like a real man, you can take my word for it (aku berjanji sebagaimana layaknya seorang pria sejati, kamu bisa memegang perkataan ku ini)” ujar Nicholas dengan mantap dan penuh keyakinan.
Adiwijaya dan lainnya yang menyaksikan siaran langsung di ponsel Andhini tersenyum senang juga kagum dengan keteguhan hati Nicholas.
Perlahan kedua tangan Araf memegang kedua lengan Sabrina untuk melepaskan pelukan Sabrina dengan perlahan. Asmirah dan Anjani tampak begitu terharu dengan peristiwa yang terjadi di hadapan mereka.
Sabrina masih meneteskan air matanya menganggukkan kepalanya pada Araf, Asmirah dan Anjani menghampiri Sabrina dan mereka berempat pun berpelukan kembali.
“mbaaak... huhuhuhu.... selamat menempuh hidup baru.... jangan lupa untuk selalu menghubungi kami.... huhuhu” Asmirah menangis memeluk Sabrina dari arah belakang dengan tangan sebelahnya masih memegang ponsel yang mengarah ke mereka berempat, Anjani memeluk Sabrina dari samping menyandarkan kepalanya di pundak gadis cantik itu.
Seluruh keluarga Adiwijaya dapat melihat apa yang terjadi di bandara dan mendengar apa yang mereka bicarakan, mata para perempuan tampak berkaca-kaca bahkan menangis terharu.
“ Mbak... Selamat menikah dan menempuh hidup baru yang mbak, meski kita berjauhan tapi selalu dekat di hati” ujar Anjani yang menangis haru.
__ADS_1
Wiyasa mengode pada istrinya untuk meminjamkan ponselnya, Andhini segera menghampiri suaminya dan mendekatkan ponselnya ke wajah Wiyasa.
“nduk....” ujar Wiyasa menyapa Sabrina yang sedang berpelukan seperti teletabies dengan Araf, Asmirah dan Anjani. Sabrina mendengar suara bapaknya segera mencari sumber suara itu yang berasal dari ponsel Asmirah.
“bapak....” Sapa Sabrina, matanya tampak sembab karena menangis sedari tadi. Senyuman hangat tersungging di wajah Wiyasa,
“ Sabrina, kini kamu sudah menjadi istri ketahuilah nak Seorang suami dapat menjadi pintu surga bagi istrinya hiasilah rumah tangga mu dengan agama, ilmu dan saling percaya sebagai pilarnya” nasihat Wiyasa pada putrinya yang langsung menganggukkan kepalanya.
“Mirah... tolong hadapkan layar ini pada Nicholas, pak de ingin berbicara dengannya” Pinta Wiyasa yang langsung di lakukan Asmirah. Pria setengah baya itu menatap Nicholas yang balas menatapnya dengan sikap seorang pria sejati.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...