
Raka dan lainnya menunggu di luar pintu dapat melihat ke arah dalam ruangan itu, Raka menatap ke arah Nicholas yang memandang Sabrina penuh cinta. Dia tersenyum senang melihat pemandangan itu, terbesit rasa kagum di dalam hatinya pada pria yang berada di samping Sabrina.
Araf, Bima, Anjani dan Asmirah menatap ke arah Raka yang tersenyum, mereka menatap dengan raut wajah bingung. Merasa di tatap Raka melihat ke arah mereka,
“kenapa? “ tanya Raka bingung.
“kita malah nanya balik kak, kenapa kak Raka malah senyum gitu dalam situasi seperti sekarang? “ ujar Bima setengah berbisik.
“aku tersenyum bukan senang karena kondisi Sabrina, tapi aku senang akhirnya Sabrina berbahagia dengan pria yang benar – benar tulus mencintainya” ujar Raka kembali menatap ke arah pasangan itu.
“kak Raka apa.... “ ucapan Anjani terhenti taktkala dia menatap ke arah Araf dan Asmirah yang membalas menatap mereka kebingungan.
“kok natap mas gitu, Jani kamu mau nanya apa Sama Raka? Ada yang mau kalian rahasiakan dari mas, ya?” tanya Araf dengan pandangan yang menyelidik, Anjani dan Bima tampak gelagapan seketika langsung menggelengkan kepala. Raka malah menatap kebingungan dengan reaksi mereka berdua,
“sebenarnya kalian kenapa? “ tanya Raka.
Mereka bertiga saling berpandangan lalu menatap ke arah Raka,
“Kak Raka... Apa...??? “ Bima terlihat ragu – ragu bertanya sambil sesekali menatap ke arah Sabrina yang masih dalam penanganan, Araf dan Raka kini mengerti dengan apa yang ingin mereka tanyakan. Araf juga penasaran bagaimana perasaan Raka sebenarnya, dia menatap ke arah Asmirah yang terlihat sedih.
Mereka semua tahu bagaimana perasaan Raka pada Sabrina dulu, saat mendengar Raka memutuskan menikah dengan Asmirah membuat mereka bertanya – tanya.
“ sekarang aku mengerti kenapa kamu sering murung Mirah” ujar Raka membuat Asmirah menatap ke arahnya.
Araf, Anjani dan Bima sedikit memberi jarak memberi kesempatan Raka juga Asmirah untuk berbicara dari hati ke hati.
“aku.... “
“Mirah.... Maafkan aku”
__ADS_1
“oppa” Asmirah tampak sedih, matanya tampak berkaca – kaca. Kedua tangan Araf terkepal kuat saat mendengar ucapan Raka, namun dia berusaha bersikap tenang dan bersabar.
Bima dan Anjani terlihat iba menatap ke arah Asmirah yang sudah meneteskan air mata, mereka ingin mendekat dan menghibur Asmirah namun di urungkan. Mereka tahu jika masalah ini harus segera di bicarakan, kepala Asmirah tertunduk dengan air mata yang menetes.
Raka tahu jika apa yang di utarakannya pada Asmirah akan menyakitinya dan keluarga Adiwijaya, namun dia memilih untuk berkata jujur walau pun itu akan sangat menyakitkan.
“oppa.... “
“ Mirah, maafkan aku yang merasa bimbang dengan perasaanku di masa lalu, aku menyadari jika perasaan itu hanya sebatas rasa kagum” ujar Raka membuat Asmirah mengangkat kepalanya dan menatap ke arah mata pria yang berdiri di hadapannya.
“aku tidak ingin membohongi dan memberi harapan palsu pada mu Mirah, karena aku tahu itu akan sangat menyakiti mu” ujar Raka kembali membuat Asmirah semakin sedih, namun dia berusaha untuk kuat dan menghadapi dengan berani. Asmirah tidak bisa terus menerus lari dari masalah, sudah saatnya dia menghadapi dan menyelesaikannya.
Tanpa mereka duga, pembicaraan mereka di dengar oleh keluarga Adiwijaya dan Wiguna yang berdiri tidak jauh dari sana. Keluarga Wiguna datang ke rumah sakit bermaksud menjenguk sekaligus membicarakan pernikahan Raka dan Asmirah, karena tidak ingin mengganggu Ningsih yang dalam masa pemulihan mereka sepakat untuk berbicara di ruangan yang di sediakan oleh Adrian.
Saat tengah menuju ke ruangan itu mereka semua mendengar tentang Sabrina yang tidak sadarkan diri, mereka lalu memutuskan untuk menjenguk Sabrina terlebih dahulu. Langkah mereka semua terhenti saat melihat Raka dan Asmirah tengah berbicara serius, Helena hendak menyapa di cegah oleh Candra.
Cakra dan Wulan menatap sedih ke arah Asmirah, namun mereka tidak bisa menyalahkan atas sikap Raka. Mereka semua tahu dan menyadari dengan akibat yang akan di alami Asmirah, mereka tidak ingin pernikahan itu di landasi dengan kebohongan dan paksaan.
Raka menatap Amirah yang masih menundukkan kepalanya, sesekali dia bisa mendengar isakkan tangis dari perempuan manis di hadapannya. Tangan kanan Raka masuk ke dalam saku celana dan mengambil sesuatu di dalam sana, walaupun kedua keluarga besar sudah mempersiapkan pernikahan mereka namun Raka sama sekali belum berbicara dengan Asmirah.
“Mirah...” panggil Raka yang langsung mengambil posisi di hadapannya, semua mata tertuju ke arah Raka dengan pandangan tidak percaya. Mata mereka terbuka lebar dan tidak ada satu pun yang berkedip, begitu juga dengan Asmirah yang terkejut menatap ke arah Raka.
Raka mengeluarkan tangannya, sebuah cincin bertatahkan berlian di pegang dan di tunjukan pada perempuan manis itu. Semua yang ada di sana terkejut dan terharu melihat pemandangan itu,
“Mirah, butuh waktu untuk ku mempertimbangkan semuanya dan kamu masih bersabar menunggu ku. Mirah, aku ingin kamu menjadi perhiasan terindah yang menutupi segala kekuranganku. Kelak kita bersama mengarungi titian surga menggapai Ridho-Nya, aku ingin menjaga hingga nantinya halal bagiku untuk menyentuhmu. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim jadilah pendamping hidupku” ujar Raka sukses membuat semua yang ada di sana terkejut sekaligus terharu, Asmirah terdiam tidak percaya dengan apa di dengar juga di lihatnya.
Helena, Wulan, Andhini dan Anjani meneteskan air mata haru saat melihat Raka melamar Asmirah, mereka tersentuh dengan ucapan Raka yang tulus. Begitu juga dengan Eliana, dia tersenyum senang dengan pemandangan di depan mereka . Senyuman di wajah Eliana memudar saat dia mengalihkan pandangannya ke arah Helena, Wulan dan Andhini.
“Hiksss.... Benar.... Be... Benar oppa mau menikah dengan...huhuhu... Mirah.... Huhuhhu” ujar Asmirah sambil menangis dan terharu.
__ADS_1
Araf menepuk jidat menatap Asmirah yang menangis seperti anak kecil, Anjani tersenyum sambil menitikkan air mata haru. Sebelah tangannya menyeka air mata yang ke pipi, Gendis menatap bingung ke arah ibunya dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah Raka juga Asmirah.
Raka kembali berdiri sambil meraih tangan kiri Asmirah, dengan perlahan dia menyematkan cincin itu ke jari manis perempuan manis itu.
“Aku ingin menikah dan membina rumah tangga bersama mu, aku ingin kamu menjadi pelengkap dari segala kekurangan ku Mirah” ujar Raka kembali, tanpa terduga Asmirah berhamburan memeluk tubuh pria gagah di hadapannya.
Raka terkejut dengan aksi yang di lakukan Asmirah, begitu juga dengan semua yang ada di sana.
“Miraaaah..... Kamu ini.... “ ujar Anjani bergegas menghampiri Raka juga Asmirah, tapi langkahnya terhenti saat Araf memegang tangannya.
“Loh mas, kenapa Jani malah di cegah?” ujar Anjani, Bima hanya tersenyum sambil menatap ke arah pasangan itu. Araf menatap ke arah Anjani sambil tersenyum penuh arti, kemudian Anjani menatap ke arah Asmirah yang tengah berbahagia.
Anjani hanya bisa menghela nafas kasar dan menggelengkan kepalanya, wajah Asmirah yang terlihat murung belakangan hari kini terlihat ceria secerahnya mentari pagi.
......................
Dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1