
“Sabrina” panggil Cakra membuat tatapan Sabrina teralihkan. Yohan merentangkan tangannya ke arah pintu Lift agar tidak menutup, dia menunggu Sabrina untuk beranjak keluar dari lift.
“eyang, pak lek” ujar Sabrina akan melangkah keluar dari lift. Merasa jika tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk berbicara dengan Sabrina, Shu Kye dengan berani memegang tangan Sabrina mencegahnya untuk keluar dari Lift.
“tunggu Sabrina... “ ujar Shu Kye menatap penuh harap.
“Nyonya Shu Kye... Lepaskan tangan cucu ku” ujar Adiwijaya dengan tatapan dingin, Park Joon masih memegangi tangan istrinya dan sedikit memberi kode untuk melepaskan Sabrina.
“Istriku... “ Park Joon menggelengkan kepalanya perlahan saat Shu Kye menatap ke arahnya, Shu Kye kembali menatap ke arah Sabrina yang menatapnya dengan kebingungan.
Ini adalah kesempatan ku... Demi putraku dan keluarga ini....Gumam Shu Kye dalam hati membulatkan tekadnya.
“tidak suamiku, sudah saatnya dia tahu... Aku tidak ingin di saat terakhir Arman pergi dengan penyesalan” ucapan Shu kye sukses membuat Sabrina terkejut, dia menatap ke arah pasangan itu dengan berbagai macam pertanyaan.
****
Suasana terlihat mendung di lorong lantai rumah sakit itu, Sabrina dan lainnya kini berada di tengah lorong antara kamar Ningsih dan Arman. Yohan dan para anak buahnya terlihat berjaga – jaga di sekitar lorong itu, mereka memberi jarak agar nyonya muda dan keluarganya bisa bicara dengan tenang.
“Apa tadi maksud dari perkataan nyonya?! Dan siapa anda juga tuan ini?! Mengapa anda ingin berbicara dengan ku?! Apa yang terjadi dengan pa..... “ ucapan Sabrina terhenti sesaat dia teringat dengan kilasan peristiwa di masa yang telah berlalu,
.......aku mengembalikan setiap tetesan darah yang anda minta. Darah di bayar dengan darah, disaat darah ini mengalir keluar dari tubuhku saat itu juga hubungan kita sudah tidak ada.... Tidak ada.... Tidak ada...
Ucapan itu terus terngiang di benak Sabrina, Andhini dan Wiyasa menatap sedih ke arah Sabrina yang berhenti berbicara. Mereka tahu bagaimana sedih dan terlukanya Sabrina saat teringat perlakuan dan penghinaan yang di lontarkan Arman.
Shu kye dan Park Joon terdiam menatap lama ke arah perempuan cantik itu, terlihat jelas bagi mereka mata jernih itu terlihat sendu dan terluka.
Arman... Bagaimana bisa kamu dengan tega memperlakukan buruk putrimu? Dia adalah darah daging yang sudah seharusnya kamu curahkan kasih sayang, dia bahkan merasa berat untuk memanggilmu papa... Gumam Park Joon menatap sedih ke arah Sabrina. Shu Kye dapat melihat jelas kesedihan di mata Sabrina, namun bayangan Arman yang kritis memaksanya untuk berbicara dengan Sabrina.
__ADS_1
Raut wajah Adiwijaya terlihat dingin menatap ke arah keluarga Kusumo, matanya sempat menatap tajam ke arah mereka. Perlahan pandangan mata itu meneduhkan saat menatap Sabrina yang menunggu jawaban dari atas semua pertanyaannya,
“nduk... Mereka.... Mereka Adalah... Kakek dan juga nenekmu Sabrina... Mereka berdua orang tua Arman... Papa mu“ ujar Wiyasa memperkenalkan keluarga Kusumo pada Sabrina yang termangu mendengarnya. Mata jernih nan indah itu menatap ke arah Adiwijaya, seakan mencari pembenaran dari apa yang di dengarnya.
Adiwijaya menundukkan matanya sembari kepala mengangguk perlahan, Sabrina hanya diam seribu bahasa dengan perasaan yang tercampur aduk. Andhini bereaksi cepat dengan memegangi tubuh putrinya, begitu juga dengan Shu Kye yang memberanikan diri menghampiri Sabrina.
Tapi, Tangan Andhini kalah cepat dengan Shu Kye yang sudah merangkul pundak Sabrina. Andhini yang sedari kecil sudah di ajarkan oleh keluarganya untuk menghargai yang lebih tua mengalah dengan membiarkan Shu kye memegangi Sabrina, tangan Andhini turun perlahan menatap sedih pada Sabrina. Shu Kye menyadari hal itu dan bermaksud memberi kesempatan pada Andhini untuk berada di samping Sabrina, namun Shu kye menatap ke arah Andini yang seakan memberi kode melalui matanya memberi kesempatan untuk dia dekat dengan cucu perempuannya.
Kesempatan itu tidak di sia – siakan Shu Kye yang langsung berbicara dengan penuh kelembutan,
“Sabrina... Maafkan kami jika mendadak kami bersikap seperti ini. Kami tidak bermaksud mengganggu dan membuka luka lama di hati mu, kami tidak ingin menghancurkan kebahagiaanmu... Tapi... “ Shu Kye dengan wajah sendiri menceritakan apa yang diketahuinya tentang Arman, tidak lupa pula dia memberi tahu tentang meninggalnya Ibu dan saudara tiri perempuannya serta kejadian yang terjadi pada ibu kandungnya Rianti.
Semua yang mendengar sangat terkejut dan marah dengan apa yang telah di lakukan oleh almarhumah Indah, karena hasutan dan pengaruhnya membuat Arman dengan tega meninggalkan Sabrina begitu saja.
“.... Arman sangat menyesal atas dosa – dosa yang di lakukannya padamu Sabrina, dia tengah sekarat dan terus menerus memanggil – manggil nama mu... “ ujar Shu Kye menyudahi penjelasannya. Sabrina hanya diam seribu bahasa, bayangan kilas masa lalu dan trauma yang di dapatkannya sangat membekas di hati.
Sepasang Mata teduh tengah menatap ke arah Sabrina, Ningsih yang terbaring di ranjang dapat mengetahui perasaan yang di rasakan oleh perempuan cantik itu.
“Sabrina.....” panggil Ningsih lemah, mata cantik Sabrina menatap ke arah Ningsih. Kedua tangannya segera menyeka air mata yang hampir saja jatuh membasahi pipinya, dia segera menghampiri Ningsih yang tersenyum hangat.
“Eyang.... “ Sabrina segera duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang Ningsih, tangannya memegang tangan yang tampak keriput dengan jarum infus menancap di punggung tangan.
“ eyang.... Ada apa eyang? Apa eyang butuh sesuatu?” tanya Sabrina berusaha tersenyum, dia tidak ingin membuat kesehatan Ningsih semakin menurun dengan permasalahan yang di hadapinya. Perlahan Ningsih melepaskan genggaman tangan Sabrina yang menatap bingung, tangan lemah Ningsih bergerak ke arah wajah cantik dengan ibu jari menyeka sisa air mata yang masih ada di sudut mata.
Sabrina menatap Ningsih dengan mata yang kembali terlihat berkaca – kaca, hatinya terluka dengan masa lalu yang sangat menyakitkan kembali terbuka dan menimbulkan rasa sakit di hatinya.
Di saat dia membutuhkan pelukan hangat serta dorongan semangat dari Arman, namun dia di tinggalkan begitu saja. Kini di saat Sabrina bisa melupakan masa lalunya dan kembali tersenyum, masa lalu itu kembali membayangi. Ningsih membelai kepala Sabrina yang tertutup hijab, ada rasa aman, nyaman dan tenteram dalam setiap belaian membuat Sabrina tenang.
__ADS_1
Adiwijaya dan lainnya terdiam termangu menatap ke arah pintu kamar Ningsih, raut wajah sedih terlihat jelas di wajah Shu Kye dan Park Joon. Mereka tidak bisa menyalahkan sikap Sabrina yang pergi begitu saja, air mata Shu Kye meneteskan saat teringat dengan kondisi Arman. Park Joon berdiri di samping dan merangkul pundak istrinya seolah memberikan ketenangan,
“aku sudah meminta kalian untuk tidak menemui Sabrina, kehadiran kalian hanya membuka luka lamanya” ujar Adiwijaya dingin, Park Joon dan Shu Kye menatap ke arah Adiwijaya, ada rasa perasaan bersalah menghinggapi hati mereka melihat kepergian Sabrina.
“maafkan kami Tuan Wijaya, sungguh kami tidak bermaksud untuk menyakiti Sabrina. Kami terpaksa mengabaikan ucapan anda, lantaran kondisi Arman yang semakin memburuk.... Dia menolak setiap pengobatannya dan terus menerus memanggil nama Sabrin, hal itu membuat kami.... “ raut wajah Park Joon terlihat sedih.
Adiwijaya bukanlah sosok yang arogant dan egois, dia dapat mengerti bagaimana perasaan kedua orang tua Arman. Namun saat menatap wajah Sabrina, ingatan di saat cucunya yang terus menanti Arman membuatnya terlihat sedih juga kecewa dengan sikap menantunya.
Cukup lama Sabrina bisa melupakan rasa trauma dan mimpi – mimpi buruknya, hal itu menjadi pertimbangan bagi keluarga Adiwijaya untuk membolehkan Sabrina bertemu dengan papanya.
......................
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
mohon maaf karena beberapa bulan yang lalu Author tidak update karya, Lantaran di karenakan Author harus berehat sejenak sembari meenari ide - ide cerita.
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1