Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 189


__ADS_3

“kalau begitu kami duluan ya Sabrina, sampai jumpa lagi Yusuf” ujar Helena memegangi tangan mungil baby Yusuf. Adrian dan lainnya ikut berpamitan juga menyapa Yusuf kecil, Raka terlihat masih ingin berbicara dengan Sabrina tapi Helena segera memegang tangan dan menariknya sedikit sambil tersenyum pada Sabrina.


“Ayo Raka...” bisik Helena yang terpaksa di patuhi oleh Raka. Adrian dan Wibisana melangkah di belakang Helena juga Raka yang sudah berjalan lebih dulu, Eliana dan Bima yang masih tertinggal menghampiri Sabrina dan Yusuf.


“mbak... Maafin sikap mami ya...” Ujar Bima yang tidak enak hati, walau bagaimana pun Sabrina adalah kakak ipar yang di hormatinya.


“Ndak apa – apa Bima, mbak ngerti... Hal ini sangat sensitif dan mbak tahu jika tante Helena sangat tidak ingin terjadi apa pun menjelang pernikahan mas Raka dan Mirah” ujar Sabrina.


“kami jadi nggak enak mbak...” ujar Eliana.


“Kita ini keluarga... Ndak perlu merasa ndak enak hati begitu” ujar Sabrina tersenyum hangat pada Eliana dan Bima.


“kalo gitu biar kami antar mbak sampai ke mobil, sini Yusufnya mbak... Pak de nya mau kenalan dengan ponakan imut ini” ujar Bima yang meminta izin untuk menggendong Yusuf, dengan senang hati Sabrina memberikan Yusuf ke tangan Bima. Mereka lalu bersama – sama menuju pelataran bandara di mana mobil mewah milik Sabrina sudah terparkir cantik.


“selamat datang nyonya...” sapa para body guard yang menyambut kedatangan Sabrina. Penyambutan itu mendapat perhatian dari para pengunjung lainnya termasuk keluarga Wiguna, dari kejauhan mereka melihat pengamanan dan mobil mewah yang menguasai pelataran bandara kedatangan.


Sabrina terkejut saat mendapat sambutan dari para body guard, hal yang sama juga terjadi pada Bima dan Eliana yang terkejut dengan pengawalan ekstra itu.


“ajiiim kak... Kaget aku liat body guardnya... Badannya ya ampuuun... parasnya juga ngalahin oppa – oppa Korea sana... Laki banget” Bisik Eliana salfok saat melihat Body guard yang mengenakan kaca mata serta setelan jas hitam. Bima juga salfok saat melihat mobil jemputan Sabrina, mobil mewah yang pernah di lihatnya di sebuah majalah otomotif.


“does it need to be like this, Yohan? (apa perlu harus seperti ini, Yohan?)” tanya Sabrina merasa canggung.


“I'm sorry madam, but this is in accordance with standard security procedures. The safety of the madam and young master means a lot to us, madam, take it easy because I have sorted out the people so that the young master and madam feel comfortable (maafkan saya nyonya, tapi ini sudah sesuai dengan standar prosedur pengamanan. Keselamatan nyonya dan tuan muda sangat berarti bagi kami, nyonya tenang saja karena saya sudah memilah orang – orangnya agar tuan muda juga nyonya merasa nyaman)” ujar Yohan.


Semua ini malah membuatku merasa semakin tidak nyaman... gumam Sabrina yang hanya bisa menghela nafas panjang. Dia lalu membalikkan tubuhnya menatap ke arah Bima yang langsung mengerti dan segera memberikan Yusuf pada Sabrina.


“kalau begitu mbak duluan ya Bima, Eliana” ujar Sabrina pamit.

__ADS_1


“Iya mbak... Ntar aku nyusul ke rumah sakit” ujar Bima yang langsung di angguki oleh Sabrina.


Salah seorang body guard membukakan pintu dan mempersilahkan Sabrina untuk naik, dengan hati – hati dia masuk ke dalam mobil mewah itu di ikuti dengan Hee Na yang duduk di sampingnya. Yohan membuka pintu di depan samping pengemudi,


“sampai ketemu di rumah sakit. Assalamualaikum...” ujar Sabrina yang langsung di jawab oleh Eliana dan Bima. Para body guard yang lain segera masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan roda empat itu menuju tujuan mereka.


Pemandangan itu tidak lepas dari pantauan keluarga Wiguna yang menatap dari kejauhan,


“Mi... kenapa mami bersikap dingin pada dokter Sabrina? Apa mami masih belum bisa mengikhlaskan yang sudah terjadi? Tidak seharusnya mami bersikap seperti itu pada dokter Sabrina” ujar Adrian merasa sedikit kecewa.


“mami tidak akan bersikap seperti ini pi, kalo Raka sendiri masih belum bisa melupakan Sabrina. Mami bisa melihat dengan jelas dari mata Raka bagaimana perasaannya pada Sabrina,” ujar Helena menatap ke arah Raka yang duduk di belakang kemudi.


“tan... Kak Raka sendiri yang udah bilang ke kita kalo dia akan menikah dengan Mirah. Aku sangat yakin Kak Raka tidak akan melanggar apa yang sudah di katakan, tante kan tahu kalo kak Raka bakalan menepati semua perkataannya” bela Wibisana yang duduk di samping Raka. Sesekali dia menatap ke arah Raka yang membalas tersenyum sekenanya,


Maaf Wibi... kamu sudah berpikir salah, apa yang di katakan mami memang benar. Aku masih berharap untuk bisa bersatu dengan Sabrina dalam ikatan pernikahan... maafkan aku Mirah... Tapi aku benar – benar tidak bisa membohongi perasaanku gumam Raka dalam hati sejenak menatap ke arah iringan mobil Sabrina yang sudah berlalu.


Adrian dan Wibisana hanya menghela nafas menatap reaksi Helena yang bersikap siaga dua, Raka sejenak melirik ke arah kaca spion bagian depan mobil yang menyorot bagian bangku penumpang. Terlihat jelas raut wajah Helena yang khawatir, Raka kembali mengalami dilema di hatinya.


***


Ningsih tampak terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, di sisi samping Kanan ranjang duduk Adiwijaya yang tengah menatapi belahan jiwanya. Sebelah tangannya senantiasa memegangi tangan istrinya yang tertidur pulas karena pengaruh obat, di sofa ruangan perawatan VVIP Andhini tengah melantunkan hafalan ayat suci alquran.


Wiyasa dan Cakra tengah menemui dokter untuk berbicara perihal pengobatan Ningsih, di sudut sebuah lorong terlihat Asmirah yang tampak khawatir dan cemas. Dia terlihat tidak tenang dan modar – mandir di depan kursi ruang tunggu yang di duduki Wulan,


“kamu kenapa Mirah kelihatan cemas gitu?!” tanya Wulan menatap heran putrinya, Asmirah tidak menjawab pertanyaan Wulan dia terlihat semakin gelisah.


“Mirah...” panggil Wulan membuat Asmirah menatap ke arahnya.

__ADS_1


“iya ma...” ujar Asmirah kembali.


“sebenarnya kamu kenapa Mirah, kelihatan cemas dan takut begitu?”


“ma... Apa mbak Sabrina benar – benar balik ke sini?”


“kamu ini gi mana sih Mirah, pernikahan kamu itu sebentar lagi ndak mungkin toh Sabrina ndak di beri tahu. Apa lagi kondisi eyang mu seperti sekarang, tentu saja mbak mu itu harus ada di sini”


“kenapa harus sih ma?”


“apa maksud nada perkataan kamu Mirah? Seharusnya kamu senang mbak mu kembali, apa lagi mbak mu harapan untuk eyang uti untuk sembuh. Apa kamu ndak senang seluruh keluarga kita berkumpul di hari pernikahan kamu?”


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Mohon maaf 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 kepada seluruh reader karena jarang update, hal ini di karenakan begitu banyak urusan di dunia nyata yang harus author selesaikan.


Tetap Terus dukung karya - karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2