
Sebelum kembali, Adiwijaya juga sempat berpesan pada Adrian untuk menjaga Sabrina yang akan bekerja di rumah sakit miliknya. Setelah itu Sabrina dan Adiwijaya kembali pulang ke rumah Cakra.
***
Sesuai dengan rapat keluarga besar pernikahan Anjani dan Bima di lakukan empat hari kemudian di mesjid terdekat. Candra tidak bisa hadir karena masih di rawat di rumah sakit di temani perawat rumah sakit.
Keluarga pihak pria sudah berkumpul di dalam mesjid itu, pihak penghulu dan pemerintah juga sudah hadir. Tampak juga tamu beberapa tamu undangan, dan para sahabat. Ada juga tetangga sekitar yang ikut menghadiri acara akad nikah.
Bima tampak begitu tampan dengan setelan kemeja pilihan Helena. Jas berwarna silver dan celana dasar dengan warna senada.
Tidak jauh berbeda, Raka tampil begitu sempurna. Kemeja dan jas serta celana berwarna biru langit menambah ketampanan hakiki, para pria keluarga Wiguna tampil begitu memukau begitu pun Helena dan Eliana.
Bima tampak gugup, berulang kali mengatur nafas dan terus mengingat-ingat kata perkata ijab kabul. Raka dan Adrian tampak menenangkan juga memberi semangat pada Bima.
“Tenang Bim, jangan grogi dan tegang. InsyaAllah semuanya akan berjalan dengan baik” Adrian tersenyum hangat.
“I... I.. iya pi... huuuuf” Bima menjawab dengan sedikit gugup. Raka tersenyum memegang pundak adiknya untuk menenangkannya,
“Kamu udah berwudu’ kan? “ tanya Raka yang langsung di angguki oleh Bima.
Tidak lama keluarga dari pihak mempelai perempuan datang, Anjani tampak begitu cantik dengan kebaya modern nan elegan. Baju kebaya berwarna silver di padu cantik dengan kain batik berwarna hampir sama, rambut panjang Anjani di tata dengan gaya sanggul modern. Seluruh keluarga Adiwijaya tampil gagah dan cantik menggunakan pakaian batik berwarna yang sama.
Raka tampak mencari-cari keberadaan Sabrina yang tidak ada dalam rombongan. Asmirah dan Eliana mengedipkan mata sambil memberi kode satu sama lain, mereka senyum-senyum saat melihat Raka mencari sosok perempuan yang kini hadir dalam setiap mimpinya.
“Loh, di mana Sabrina mas?” tanya Andhini mencari-cari keberadaan putrinya.
“Tadi kata mbak Sabrina ingin ke toilet, sebentar lagi juga akan ke sini pak de” ujar Asmirah, tidak berapa lama Sabrina masuk ke dalam mesjid.
Pakaian serta hijab Syar’inya menambah nilai plus kecantikan hakiki Sabrina, pakaian berwarna biru tua dengan corak batik yang sama dengan keluarganya serta hijab Syar’i dengan bentuk corak hampir sama. Wajah cantiknya di poles dengan make up natural dengan lip gloss berwarna pink natural.
Subhanallah... Sungguh indah maha karyamu ya Allah.... Guman Raka dan beberapa tamu undangan terutama pria juga sahabat-sahabat keluarga Wiguna.
Asmirah memanggil Sabrina untuk duduk di sampingnya dan Eliana, senyuman indah tersungging di wajah indahnya. Menghipnotis beberapa pria muda yang masih jomblo,
“subhanallah bening benar”
“udah ada calonnya kagak ya? Kalo belum gua maju”
“Lu maju yang ada anak orang kagak lu kasih makan. Secara kerja lu rebahan doang”
__ADS_1
Beberapa pria mulai berbisik-bisik sambil melihat ke arah Sabrina, membuat Raka cemburu dan kesal. Dia menatap tajam ke arah beberapa pemuda seolah memperingati untuk tidak berharap. Thio diam-diam tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang plin plan.
Eliana mengambil ponsel miliknya dari dalam tas kecil, dia mengirim teks pesan pada Raka yang duduk dekat dengan Adrian dan Helena. Ponsel Raka bergetar menandakan pesan masuk, matanya sesekali melihat ke arah Eliana yang duduk bersama Asmirah dan Sabrina.
📱
Makanya cepat di halalin, ntar kalo lama-lama di rebut orang lain baru deh kebakaran jenggot
Jari jemari Raka bergerak mengetik sesuatu di layar ponselnya.
📱
Maksud kamu?
Eliana gemas dengan kakaknya yang masih tidak mengerti dengan maksudnya. Dari awal bertemu dengan Sabrina di rumah sakit, Eliana sudah menyukainya. Dia sangat bersemangat saat melihat Raka memberi perhatian yang berbeda pada Sabrina.
📱
Kak Raka nggak sadar apa? Tu liat aja di sekitar di bagian bapak-bapak sana...
Eliana menyuruh Raka untuk melihat ke sisi tempat para pria duduk, sebagian besar menatap ke arah Sabrina yang sama sekali tidak menggubrisnya. Beberapa pria tampak mulai membicarakan dan sesekali melihat ke arah Sabrina,
Saat di pertengahan malam, Raka melaksanakan shalat istikharah dan tahajud untuk meminta petunjuk pada yang maha Esa. Dalam setiap Doanya hanya tersebut sebuah nama perempuan yang sudah menempati tempat spesial di hatinya.
Lama termenung pandangan Raka tidak sengaja bertemu dengan pandangan Sabrina. Degupan jantung di hati mereka berdua berdegup cepat, Sabrina sedikit salah tingkah segera mengalihkan pandangannya ke arah Asmirah.
Upacara akad nikah Bima dan Anjani berjalan sakral dan khidmat, Anjani sempat menitikkan air mata tatkala sungkeman dengan kedua orang tua dan keluarganya. Araf sudah bisa menerima Bima, walaupun dalam hatinya masih ada sedikit rasa kesal. Namun semua itu harus dia lupakan karena kini Bima sudah menjadi bagian keluarga mereka juga.
Setelah akad nikah di laksanakan, keluarga Wiguna mengundang keluarga besar Adiwijaya, para sahabat, dan juga tetangga untuk singgah ke rumah mereka untuk menghadiri acara sederhana di rumah mereka. Asmirah dan Eliana asyik mengabadikan setiap moment dengan ponsel mereka.
Mereka melakukan sesi foto dengan keluarga masing-masing, kedua keluarga besar dan kedua pengantin.
“Mbak Sabrina ayo kita foto bersama” ajak Asmirah dan Eliana. Mereka berdua berdiri di sebuah spot foto dengan latar tanaman hijau di belakang mereka. Tidak lupa pula mereka mengajak Anjani untuk berfoto dengan mereka bertiga.
Fotografer yang di sewa keluarga Wiguna segera mengabadikan foto mereka berempat. Setelah berpuas diri berfoto, Sabrina akan beranjak dari sana bergabung dengan orang tuanya.
“Sebentar nona, anda jangan pindah dulu” cegah fotografer,
“Kenapa?” Tanya Sabrina heran, begitu juga Eliana, Asmirah dan Anjani.
__ADS_1
“sebenarnya saya ingin memfoto anda, tentunya jika anda tidak keberatan. Nona tenang saja saya tidak akan menyalah gunakan foto anda, karena menurut saya anda sangat fotogenik” ujar Fotografer, dia begitu tertarik dengan Sabrina yang berhijab.
Sabrina tampak berpikir, dia seakan ragu untuk menerima permintaan fotografer itu. Eliana, Anjani dan Asmirah turut mendukung, alhasil kini Sabrina menjadi foto model dadakan.
Fotografer itu mengarahkan beberapa gaya yang menghasilkan foto-foto yang sangat bagus, ternyata tidak hanya fotografer itu saja yang mengambil foto Sabrina. Diam-diam beberapa pemuda termasuk Raka mengambil foto Sabrina dengan angel yang bagus.
Fotografer itu tidak sengaja melihat Raka yang berdiri tidak jauh dari mereka, dia pun merasa mendapat kesempatan bagus.
“mas...” panggil fotografer itu pada Raka lalu menatap ke arahnya.
“Mas bisa berdiri di sini sebentar?” tanya Fotografer seraya memberi pengarahan.
Raka mengikuti keinginan fotografer itu, maka kini Raka pun di jadikan foto model dadakan olehnya. Eliana, Asmirah, Anjani dan Bima termenung saat melihat Raka juga Sabrina, mereka terlihat sangat serasi.
Semua orang juga berpendapat sama saat Raka dan Sabrina berdiri sangat dekat dengan arahan fotografer.
“Wulan....lihat, mereka serasi ya” Helena berdiri di samping Wulan dan Andhini menatap ke arah Sabrina dan Raka.
Andhini tersenyum mendengar apa yang di ungkap oleh Helena, dia menatap ke arah Sabrina dan Raka yang sedang di foto bersama.
*************
dear para Reader yang paling baik hati...
mohon maaf jika "Cinta Sabrina" hanya up Satu episode...
karena kondisi fisik author masih drop 🤒🤒🤒🤒 jadi kurang fokus...
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ all...