
“pagi tadi Eyang telepon pak lek kamu, beliau berbicara dengan opa Candra. Mereka pun sepakat untuk mempercepat pernikahan kalian akhir bulan ini” jelas Helena bersemangat.
Eliana, Asmirah dan Wulan tersenyum senang sambil menganggukkan kepala mereka membenarkan ucapan Helena. Raka sangat senang mendengar keputusan dari keluarga besar, dia tersenyum bahagia.
Sabrina hanya diam dan tersenyum sekedarnya, Wulan dan Helena terdiam menatap reaksi Sabrina yang tidak seantusias mereka.
“nduk.... Ada apa? Apa kamu ndak ingin pernikahan kamu di percepat?” tanya Wulan hati-hati.
“Bukan bu lek, Sabrina sangat senang kok” Sabrina menampilkan senyuman penuh semangat pada lainnya.
Helena dan Wulan tahu jika saat ini ada yang mengganjal di hati Sabrina, begitu juga Raka menatap heran pada calon istrinya yang terlihat murung. Helena dan lainnya menyadari jika saat ini Raka ingin berbicara berdua saja dengan Sabrina.
“wulan, gi mana kalo kita liat bahan pakaian untuk pakaian seragaman keluarga kita “ajak Helena.
“kalo gitu, Mirah dan kak Elia ke sana dulu mau melihat-lihat model kebaya” Asmirah mengajak Eliana untuk ke bagian pakaian kebaya.
Kini hannya tinggal Sabrina juga Raka yang memilih duduk di samping Sabrina. Dia menatap wajah calon istrinya yang terlihat tidak bersemangat.
“saayang...” panggil Raka, Mata bulat menggemaskan itu menatap ke arah Raka.
“hmmm” Sabrina menjawab panggilan Raka dengan berdehem.
“ada apa sayang? Mas perhatikan sepertinya kamu tidak senang dengan keputusan keluarga yang ingin mempercepat pernikahan kita”
“bukan mas, Sabrina sangat senang mendengar keputusan keluarga. Tapi, entah kenapa perasaan Sabrina tidak enak dengan keputusan ini? Sabrina merasa ada yang mengganjal" ujar Sabrina menatap ke arah Wulan dan Helena yang sibuk memilih kain.
“Sayang... Kalo kamu memang belum siap menikah. Mas akan membicarakan ini dengan keluarga kita, mas siap nunggu kamu” ujar Raka menggenggam tangan tunangannya. Sabrina tersenyum manis pada Raka, Dia menatap kedua mata calon suaminya.
“mas, adalah suatu kebahagiaan bagiku untuk bisa secepatnya menikah dengan mu. Tapi....”
“Tapi apa sayang?” Raka khawatir dengan
“tapi..... Bisakah mas izinkan Sabrina kembali ke Surakarta besok? Ada sesuatu yang ingin Sabrina tanyakan ke eyang, bapak dan ibu. Jika mas ndak keberatan tentunya” Sabrina merasakan perasaan yang tidak enak di hatinya. Senyuman hangat kembali terlukis di wajah tampan Raka.
“Tentu saja mas akan ijinkan kamu pulang ke Surakarta, tapi dengan satu syarat kamu pakai pesawat jet pribadi dan mas yang mengantar kamu ke bandara” ujar Raka.
“ta...” Sabrina akan berbicara kembali langsung di potong oleh Raka.
“Mas ingin memastikan kamu sampai di Surakarta dengan keadaan baik-baik saja, jadi jangan tolak permintaan mas ya” ujar Raka tersenyum pada Sabrina.
__ADS_1
“Baiklah mas,” Sabrina menyetujui permintaan Raka.
“Mbak... Ayo kita ke sana.... Banyak model kebaya yang bagus.... Ayo mbak... Ayo” Asmirah mengajak Sabrina melihat kebaya pengantin dengan berbagai model yang cantik dan elegan.
Sabrina menatap ke arah Raka yang menatap balik dirinya. Matanya berbicara seakan meminta Raka untuk ikut bersamanya, Raka berdiri dari sofa mengikuti Asmirah dan Sabrina yang sudah lebih dulu ke bagian baju kebaya.
***
Arman sedang duduk di sofa sambil menatap file di tangannya, file kerja sama dengan Arbecio yang sudah di persiapkan nya. Matanya menatap ke arah Adelia yang sedang mempercantik kuku nya dengan cat kuku bling miliknya.
Arman sengaja mengajak Adelia ke Indonesia dengan maksud tertentu, Indah dan Indra yang ingin ikut pun di cegahnya dengan alasan tidak ada yang akan memantau perusahaan jika mereka juga pergi.
“Adel, besok kamu ikut papa ke Arbecio. Papa akan mengenalkan kamu dengan kolega kita” ujar Arman masih sibuk dengan filenya.
Adelia mendengar permintaan Arman langsung menolaknya.
“hah... Malas ah pa. Ngapain juga aku musti ikut papa rapat, palingan nanti aku ketemu ama pria yang seumuran papa atau kakek-kakek” ujar Adelia tidak senang.
“Ayo lah putri papa yang cantik, bantu papa untuk kerja sama kali ini. Ini kerja sama dengan proyek besar, jika ini tembus maka kita bisa lepas dari mafia itu”
“tapi pa....”
“ya nggak mau lah pa. Aku yang cantik ini mana level hidup miskin” ujar Adelia dengan sikap sombongnya.
“Jadi, kamu ikut bersama papa untuk bertemu kolega biar semua kerja sama kita lancar?” Arman sangat menaruh harapan besar dengan kerja sama.
“oke, tapi jika kerja sama ini berhasil aku mau papa belikan mobil lamborghini keluaran terbaru” pinta Adelia.
“tentu saja sayang, papa akan membelikan apa pun yang kamu mau” Arman tersenyum senang dengan keputusan putrinya. Adelia tertawa bahagia dan memeluk erat Arman.
“makasih papa.... papa emang the best” Adelia sangat senang. Sudah terbayang baginya saat duduk dengan senang di dalam mobil impiannya.
Malam itu, Sabrina yang tengah terlelap mendadak gelisah. Dia memasuki alam mimpi di mana dia melihat dirinya yang masih kecil di siksa habis-habisan oleh ayah kandungnya. Kening kepala Sabrina di basahi titik-titik keringat, tubuhnya bergetar hebat akibat trauma masa kecilnya.
Dalam mimpi itu, Sabrina kecil tampak menyembunyikan dirinya di balik meja. Tubuhnya bergetar hebat tatkala mendengar langkah kaki yang mendekat ke tempat persembunyiannya. Terdengar geretan kepala sabuk atau ikat pinggang yang terbuat dari besi, menambah ketakutan dari Sabrina kecil dalam persembunyiannya.
“DASAR ANAK SIAL*N, BERANINYA KAMU BERSEMBUNYI DARIKU... KELUAAAAR....” terdengar bentakan keras dari seorang pria. Sabrina kecil ketakutan, seluruh tubuhnya bergetar hebat.
“TIDAAAAAAK” Sabrina terbangun dari tidurnya, keringat membasahi wajah cantik dan nafasnya memburu.
__ADS_1
“astagfirullah ‘aladzim” Sabrina beristigfar, jantungnya berdebar dengan cepat. Dia berusaha untuk mengatur nafasnya, menenangkan jantung yang masih berdebar dengan keras.
Ya Allah.... kenapa mimpi ini menghantui ku kembali? selalu lindungi hamba dan keluarga hamba dari mimpi buruk ini gumam Sabrina dalam hati. Matanya menatap jam dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari.
Setelah merasa sedikit tenang, Sabrina melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Dia mengambil air wudhu untuk melakukan shalat malam, Hatinya menjadi tenang setelah mengucapkan zikir. Masih teringat dirinya mimpi yang masih membekas dan memberi trauma bagi Sabrina.
Mata menggemaskan itu menatap ponsel yang tergeletak di nakas samping tempat tidur. Sabrina menatap lama foto keluarga besarnya, mata itu beralih ke arah koper kecil yang berdiri di sudut kamar.
***
Mentari pagi menyapa dengan sinaran yang menyilaukan mata, perlahan-lahan sinaran itu masuk melalui tirai jendela yang sedikit terbuka. Sabrina tampak membantu Wulan menyiapkan Sarapan pagi untuk seluruh keluarga.
“ jam berapa kamu akan pulang, nduk?” tanya Wulan sambil meletakkan makanan di atas meja makan.
“pagi ini bu lek, sebelumnya Sabrina akan ke rumah sakit dulu. Terus ke kantornya mas Raka bu lek” ujar Sabrina menyusun piring-piring di atas meja makan.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
Idul Fitri telah tiba di tahun 2021. Kita kembali menjadi suci setelah berperang melawan diri sendiri.
Taqobballahuminna wa minkum, taqobbal ya kariim.
Author mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin....
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1