
“Assalamu’alaikum Gendis...” sapa Sabrina, sebelah tangannya membelai lembut pipi Gendis. Mata bulat gadis cilik itu menatap lama ke arah Sabrina, lalu pandangannya beralih ke arah Anjani yang berdiri di belakangnya.
“Gendis... Ayo mana salamnya... “ ujar Anjani, Gendis menatap ke arah Sabrina lalu kembali menatap ibunya.
“Ma... “ panggil Gendis sambil menarik tangan Anjani membuatnya sedikit membungkuk.
“kenapa Gendis? “ tanya Anjani dengan raut wajahnya heran.
“Tantenya.... Cantik... Cepelti.... tante tipi – tipi” ujar Gendis membuat kening Anjani mengkerut, dia mencoba mengingat – ingat dengan Tante yang di maksud oleh putrinya. Sabrina yang mendengar ucapan Gendis juga terheran menatap ke arah Anjani,
“ tante... Tipi – tipi?!!” Anjani berusaha untuk mengingat apa yang di maksud Gendis. Wulan juga penasaran dengan tante yang di maksud oleh cucunya,
“Tante yang mana sayang” tanya Wulan.
“Tante.... Nyong.... Nyong Oma” ujar Gendis semakin membuat mereka yang mendengar mengerutkan dahi. Mereka semua terlihat kebingungan dengan apa yang di maksud oleh gadis cilik itu, Anjani menatap sejenak ke arah Sabrina dan teringat dengan drama korea yang sering di tontonya. Kini dia pun mengertt tentang apa yang di maksudkan oleh putrinya,
“ooo.... Tante yang suka mama tonton ya...” ujar Anjani membuat semua menatap ke arahnya, mereka semakin penasaran dengan apa yang di maksud oleh Gendis.
“tante siapa Jani? “ tanya Andhini yang juga penasaran.
“itu buk de, artis – artis Korea yang sering Jani tonton” ujar Anjani membuat mereka semua ber “o” ria.
Sementara itu di luar kamar rawat Ningsih, Adiwijaya di temani oleh Wiyasa, Yohan berserta anak buahnya tengah berhadapan dengan keluarga Kusumo. Adiwijaya mengode ke arah Park Joon untuk berbicara di tempat lain, mereka semua lalu mengikuti Adiwijaya dan Wiyasa menuju ke tempat lain. Wiyasa tahu jika pembicaraan mereka sangat sensitif, dia lalu meminta Yohan dan ke dua anak buahnya untuk menunggu Sabrina di depan pintu kamar rawat itu.
Yohan dan ke dua anak buahnya menatap dari kejauhan ke arah Wiyasa juga Adiwijaya yang tengah berhadapan dengan orang tua Arman dan Rian, mereka memilih mengikuti dan menghormati permintaan Wiyasa.
“tuan Adiwijaya.... Ka... Kami.... Kami ingin...“ belum juga Shu Kye menyelesaikan pembicaraannya Adiwijaya mengarahkan tangan kanannya ke arah mereka.
__ADS_1
“ untuk apa kalian datang kemari? Hubungan kekeluargaan kita sudah putus saat putra kalian membuang Sabrina begitu saja, lebih baik kalian pergi dari sini atau saya bisa bertindak kasar” ujar Adiwijaya tegas. Wiyasa yang berada di sisi kanan Adiwijaya terkejut saat mendengar perkataan bapak mertuanya, katanya menata intens ke arah pasangan yang umurnya tidak jauh berbeda dengan Adiwijaya.
“tuan.... apa yang di lakukan oleh Arman adalah Salah, namun kami benar – benar tidak mengetahui jika cucu kami masih hidup. Saat orang - orang kami mencari informasi tentang Rianti dan anak yang di lahirkannya, kami malah mendapat kamar jika Rianti dan putrinya telah meninggal dunia ” ujar Park Joon membuat Adiwijaya dan Wiyasa terkejut.
“APA?!!!” Adiwijaya tampak sangat geram. Rian segera menengahi agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan,
“Maaf Tuan Adiwijaya... mohon tenang dan menahan amarah anda. Tuan dan nyonya memang benar – benar tidak mengetahui jika nona... (merasa tidak enak hati dan sesekali menatap ke arah keluarga Kusumo) jika nona masih hidup....” jelas Rian membuat kedua belah pihak terdiam.
Adiwijaya dan lainnya hanya diam seribu bahasa, mereka menyadari apa yang terjadi di sebabkan oleh ulah Arman yang membenci Sabrina. Akibat bujuk rayuan dan hasutan dari Cintia, Sabrina pun di asuh oleh keluarga besar ibunya.
“tuan Adiwijaya, kami tahu jika putra kami telah menyakiti anda, keluarga dan juga cucu kita...” ujar Shu Kye yang sejenak terdiam saat Adiwijaya menatap dingin ke arahnya, dia merasa tidak senang saat mereka mengakui keberadaan Sabrina. Wiyasa tampak tenang lalu sebelah tangannya memegangi lengan Adiwijaya,
“pak, lebih baik kita bicarakan semua ini dengan kepala dingin. Aku tahu bapak marah dan tidak senang dengan apa yang di lakukan Arman, tapi kita tidak bisa menyalahkan keluarga Kusumo (sejenak menatap ke arah orang tua Arman yang terlihat sedih dan menyesal) kita tahu bagaimana sikap Arman pada Sabrina selama ini, tidak ayal jika dia akan menutupi keberadaan Sabrina dari ke dua orang tuanya” ujar Wiyasa menenangkan Adiwijaya.
“kami sangat terkejut dan sedih saat mengetahui kebenaran ini tuan, karena kesalahannya ini Arman pun mendapatkan karmanya...” Shu Kye lalu menceritakan apa yang menimpa Arman. Adiwijaya dan Wiyasa hanya diam seribu bahasa mendengar apa yang terjadi pada Arman, raut wajah mereka terlihat datar.
“Tuan... kami tahu putra kami sudah melakukan kesalahan yang sangat besar, dia sudah memberikan luka sangat dalam kepada anda juga keluarga besar anda. Tapi, saat ini kondisi Arman sangat kritis, izinkanlah dia untuk bisa bertemu dengan Sabrina untuk...” ucapan Shu Kye terhenti saat Adiwijaya memotong perkataannya.
“tidak... aku tidak akan pernah mengizinkannya” ujar Adiwijaya tegas.
“Tapi...” ucapan Shu Kye kembali terhenti saat Park Joon memegangi pundak istrinya. Matanya menatap ke arah Adiwijaya, tergambar jelas dari raut wajahnya rasa tidak senang saat mendengar permintaan Shu Kye istrinya.
“tuan, setidaknya... izinkan kami...” ujar Park Joon yang lagi – lagi di potong oleh Adiwijaya.
“ aku tidak akan pernah mengizinkannya, aku anggap pembicaraan ini tidak pernah ada dan sebaiknya kalian jangan pernah muncul di hadapan Sabrina” ujar Adiwijaya meninggalkan keluarga Kusumo dan Rian, terlihat jelas raut kesedihan di wajah mereka. Adiwijaya lalu membalikkan tubuhnya melangkah meninggalkan keluarga Kusumo, Wiyasa menatap iba ke arah orang tua Arman yang terlihat sangat sedih.
“tuan, Nyonya, aku sangat mengerti dengan keinginan untuk bertemu dengan Sabrina. Semua sudah terjadi dan tidak di pungkiri jika sikap mas Arman sudah sangat mengecewakan keluarga kami” ujar Wiyasa.
__ADS_1
“Kami tahu nak.... kami memaklumi tindakan dan sikap tuan Adiwijaya, mungkin Aku akan melakukan hal yang sama jika aku berada di posisi beliau ” ujar Park Joon sedih, mata Shu Kye tampak berkaca – kaca saat Arman sering mengigau memanggil nama Sabrina.
“Kami hanya berharap, di sisa waktu Arman bisa bertemu dengan Sabrina dan berbicara dari hati ke hati” ujar Shu Kye, tangan kanannya merogoh tisu yang ada di dalam tas tangan miliknya. Tetesan air mata berjatuhan ke pipi dan segera di seka oleh Shu Kye, teringat olehnya penjelasan dari dokter yang memberi tahu kondisi Arman.
“jika tuan Arman terus menerus menolak pengobatan dan makanan, kami hanya bisa angkat tangan. Anda bisa melihat sendiri kondisi beliau yang semakin melemah, jika seperti ini terus beliau.... “
Ucapan dari dokter terus terngiang di benak Shu Kye, dia tidak kuasa menahan tangisnya saat teringat kondisi Arman yang semakin hari melemah.
Wiyasa juga tidak mampu berbuat banyak, kondisi keluarganya juga dalam keadaan yang tidak baik.
“Wiyasa” panggil Adiwijaya yang berdiri tidak jauh dari Wiyasa dan keluarga Kusumo berbicara. Saat tengah melangkah menuju ruang perawatan Ningsih, Adiwijaya merasa jika Wiyasa tidak ada di belakangnya. Dia laku menoleh dan melihat Wiyasa yang tampak masih berbicara dengan keluarga Kusumo.
......................
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1