Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 202


__ADS_3

Park Joon berdiri di hadapan Adiwijaya, bayangan Arman yang semakin memburuk membuatnya semakin putus asa. Perlahan dia bersimpuh tepat di hadapan Adiwijaya membuat Semua orang terkejut, seketika itu Adiwijaya membuang tongkat yang selalu di pegangnya dan memegang kedua lengan Park Joon.


“tuan Kusumo.... Apa yang anda lakukan?!!! Berdirilah.... Anda tidak seharusnya melakukan hal seperti ini... “ ujar Adiwijaya.


Cakra dan Wiyasa mencoba menghampiri untuk membantu Park Joon berdiri, namun hal itu di cegah oleh Park Joon dengan kedua tangannya yang menahan mereka.


Di saat bersamaan Helena, Candra Eliana dan Wibisana datang untuk menjenguk Ningsih, Raka dan Bima tidak bisa ikut karena harus menghadiri rapat bersama dengan kolega perusahaan. Adrian tengah di sibukkan dengan urusan rumah sakit dan meminta Wibisana untuk menemani Candra juga lainnya.


Pemandangan di tengah lorong itu membuat mereka termangu, Seorang pria asing yang tidak mereka kenal bersimpuh tepat di hadapan Adiwijaya dan keluarganya.


“ada apa itu pa? Kok di sana rame banget?! “ tanya Helena penasaran dengan apa yang terjadi.


“mana papa tahu Helen, aku kan datang bareng kamu” ujar Candra membuat Eliana dan Wibisana tersenyum diam – diam.


“isss si papa.... “ Helena memasang wajah cemberut dan kembali menatap ke arah keluarga Adiwijaya, rasa penasaran menghinggapi masing – masing dari mereka.


Adiwijaya tampak berusaha membantu Park Joon untuk berdiri kembali,


“tuan Kusumo, Berdirilah?! Apa anda ingin membuat keluarga saya terlihat buruk di mata semua orang dengan tindakan yang anda lakukan saat ini?!” ujar Adiwijaya, namun Park Joon sama sekali tidak bergeming.


“Tuan Wijaya, aku tahu anda dan keluarga begitu marah juga kecewa dengan tindakan Arman. Mungkin aku dan istri ku begitu egois, kami begitu lancang meminta anda untuk membiarkan Sabrina bertemu dengan Arman... Kami benar – benar sudah putus asa tuan...” ujar Park Joon denga mata berkaca – kaca, besar harapannya untuk bisa melihat putra semata wayang kembali sehat seperti dahulu.


Andhini terlihat tidak tega melihat Park Joon memilih mengalihkan pandangannya ke arah lorong rumah sakit, matanya membulat sempurna saat menatap kedatangan Candra dan juga lainnya.


“pak Candra ... “ ujar Andhini membuat Adiwijaya dan lainnya menatap ke arah yang di tatap Andhini, mereka semua termangu dan kecanggungan datang menghinggapi hati mereka.


Park Joon masih berada di posisi yang sama dengan wajah tertunduk sedih, Candra dan lainnya menatap heran ke arah Park Joon juga Shu Kye yang terlihat sedih.


Cakra menghampiri Park Joon dan membantunya untuk berdiri,


“Tuan Kusumo, kami sekeluarga tidak pernah melarang Sabrina untuk bertemu dengan Arman... Bapak dan kakak ipar belum sempat memberi tahu keadaan Arman karena kondisi ibu yang juga tidak baik, kami minta anda untuk mengerti dengan posisi kami saat ini” ujar Cakra.


Mendengar penjelasan dari Cakra, Candra dan lainnya kini mengerti jika pasangan yang ada di hadapan mereka berhubungan dengan Arman mantan menantu Adiwijaya.

__ADS_1


“Tapi.... “ Shu Kye yang hendak berbicara segera di tahan oleh Park Joon yang langsung memegangi tangannya. Park Joon sekali lagi menatap ke arah Adiwijaya dengan tatapan penuh harap, Adiwijaya mengangguk perlahan memberikan sebuah harapan baru di hati Park Joon.


Adiwijaya memilih melangkah menuju kamar perawatan istrinya, Wiyasa dan Lainnya pun mengikuti meninggalkan keluarga Kusumo yang menatap kepergian mereka dengan wajah sedih.


Candra hendak bertanya pada Adiwijaya tentang siapa dan gerangan apa yang terjadi, namun melihat situasi yang canggung dia mengurungkan niatnya dan memilih untuk menunggu sahabatnya untuk bercerita.


****


Sabrina terlihat berdiskusi dengan dokter yang menangani Ningsih, laporan hasil pemeriksaannya baru saja keluar dan langsung di beri tahu oleh dokter yang menangani Ningsih. Raut wajah Sabrina terlihat serius dan sesekali mendengar penjelasan dari dokter itu, Wiyasa dan Adiwijaya ikut menemani Sabrina sambil mendengar penjelasan dokter secara seksama.


Dari hasil laporan itu memberi tahu jika tumor yang ada dalam tubuh Ningsih tidaklah Ganas, tumor itu bisa di hilangkan dengan jalan operasi. sabrina yang juga seorang dokter bedah bisa saja mengambil tindakan untuk eyang uti nya, namun hal itu di urungkannya karena status Sabrina yang tidak lagi bekerja di rumah sakit milik keluarga Candra.


Anjani, Gendis dan Asmirah baru saja datang ke rumah sakit, mereka segera melangkah menuju lift yang kebetulan terbuka. Asmirah lalu menekan tombol yang ada di dinding lift menuju lantai yang mereka tuju,


“Mirah, nanti kamu jangan bersikap seperti kemarin ini pada mbak Sabrina” ujar Anjani mengingatkan Asmirah untuk bersikap seperti biasanya. Gendis menatap ke arah Ibunya yang menatap tajam pada tantenya, dia masih kecil dan belum mengerti.


“sikap Mirah yang bagaimana sih, mbak?!” ujar Asmirah yang mengalihkan pandangannya pada dinding lift yang di hiasi dengan kaca.


“Sikap kamu yang dingin dan menjaga jarak dengan mbak Sabrina, bagaimana pun juga kita ini bersaudara, dek. mbak Sabrina akan merasa jika kamu menghindarinya” ujar Anjani menatap ke arah adiknya.


“Dek... Jangan kamu berburuk sangka pada Mbak Sabrina, walaupun mbak Sabrina pernah tunangan dengan Kak Raka tapi itu sudah berakhir” ujar Anjani memberi pengertian pada Asmirah.


“Mirah tahu mbak, sebenarnya.... (Ragu – ragu) sebenarnya bukan mbak Sabrina yang Mirah Khawatirkan, tapi.... “ ucapan Mirah terhenti saat Gendis menarik tangan Asmirah.


“cance... Cance.... Unanan tu pa? “ tanya Gendis polos.


“Unanan?!” Asmirah dan Anjani tampak kebingungan dengan pertanyaan yang terlontar dari gadis mungil itu. Mereka berdua saling menatap dan berpikir apa yang di maksud Gendis, satu kata terlintas di benak mereka saat Anjani menyinggung soal pertunangan Sabrina dan Raka.


“Tunangan sayang.... “ ujar Anjani yang langsung di angguki oleh Gendis.


“tunangan itu maksudnya, seperti tante Mirah yang akan menikah dengan om Raka dan terus bersama Seperti Mama juga papa kamu... “ ujar Asmirah memberi pengertian.


Pintu lift terbuka saat berada di lantai yang mereka tuju, Anjani, Asmirah juga Gendis segera keluar melangkah menuju kamar perawatan Ningsih.

__ADS_1


Sabrina, Wiyasa dan Adiwijaya tengah berada dalam Lift, wajah Sabrina terlihat murung setelah pertemuan mereka dengan orang tua Arman. Hatinya merasa dilema, ingin dia menemui Arman namun kenangan masa lalu menghentikan langkah Sabrina.


Setelah pertemuan dengan orang tua Arman, Adiwijaya sempat berbicara dari hati ke hati dengan Sabrina.


“Nduk... Temuilah papamu... Seburuk apa pun perbuatan dan sikapnya, dia tetap papa mu. Tidak ada yang namanya mantan anak ataupun mantan ayah”


“Eyang.... “


“ eyang tahu ini sangat sulit bagi mu, tapi eyang percaya kamu bisa melalui semua ini”


Pintu lift terbuka Wiyasa dan Adiwijaya melangkah lebih dulu keluar, Sabrina masih larut dalam pikirannya.


“Sabrina.... “ panggil Wiyasa yang melihat ke arah putrinya yang masih berada dalam lift, Sabrina langsung tersadar saat namanya di panggil oleh Wiyasa. Mata indahnya menatap ke arah Eyang juga bapak yang sudah berdiri di depan lift, dia segera ikut keluar dari lift dan mengikuti mereka di belakang.


Langkah Sabrina terhenti tepat di sebuah ruangan di mana pintu ruangan itu terbuka, dia sejenak menghampiri pintu itu dan melihat ke arah dalam ruangan itu. Matanya termangu saat melihat pemandangan di dalam ruangan itu, Sabrina menatap Arman yang terbaring lemah di ranjang dengan perlengkapan medis yang terpasang di tubuhnya.


......................


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Mohon maaf karena kedua cerita Author harus di pending terlalu lama, di karenakan kondisi mata yang terkena radang dan juga fisik kurang sehat akibat cuaca mengharuskan Author istirahat yang cukup lama.


Terima kasih 🙇‍♀️🙇‍♀️🙇‍♀️ pada para reader yang masih setia dan bersabar menunggu updatenya cerita karya Author.


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2