Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 192


__ADS_3

Shu Kye, Park Joon dan Indra masih berdiri tepat di depan pintu kamar VVIP itu, mereka masih mendengarkan pembicaraan antara Arman dan Rian.


“Aku tidak memiliki muka untuk bertemu dengan Appa juga eomma, dosa juga kesalahan ku sudah terlalu banyak. Mati dalam kesendirian adalah hukuman dan juga sebagai penebus dosa ku pada Sabrina... aku sudah membuatnya menderita... “ raut wajah Arman terlihat sedih dan penuh penyesalan, Rian dapat melihat bias cahaya bening dari air mata di sudut mata pria yang terbaring di ranjang itu.


Rian menatap iba pada Arman yang terlihat merasa bersalah terhadap Sabrina dan Indra, dia hendak berbicara kembali namun Arman memejamkan mata sambil mengalihkan wajahnya ke arah berlawanan dengan Rian berdiri. Sikap Arman langsung dapat di mengerti olehnya, Rian hanya bisa menghela nafas panjang dengan sikap keras kepala Arman.


Rian lalu sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Arman lalu melangkahkan kakinya menuju keluar ruangan, saat membuka pintu Rian sedikit terkejut saat melihat Indra dan orang tua Arman masih menanti di depan pintu.


“tuan... Nyonya besar.... Tuan muda Indra” sapa Rian ramah sambil sebelah tangannya menutup ruang perawatan. Sekilas mereka bertiga melihat ke arah dalam kamar di mana Arman terbaring tidak berdaya di atas ranjang, mereka sempat melihat beberapa alat yang mendukung kehidupan Arman.


Wajah cemas dan khawatir terlihat jelas di wajah mereka, Rian dengan hati – hati menjelaskan apa yang terjadi pada Arman. Dia juga memberi tahu keluarga Kusumo tentang keputusan Arman yang sama sekali tidak ingin bertemu dengan mereka, rasa sedih dan kecewa meliputi keluarga Kusumo atas sikap serta penolakan dari Arman.


“Rian, di mana keberadaan Sabrina saat ini? “ tanya Shu Kye yang penasaran saat mendengar pembicaraan Arman menyinggung nama Sabrina, Rian sejenak termenung mendengar pertanyaan langsung itu.


Rian sejenak mengalihkan pandangannya ke arah Indra yang balik menatap ke arahnya, dari mata Indra dia menangkap jika kedua orang tua Arman sudah mengetahui jika putri kandung Arman bersama Rianti masih hidup.


“kami menunggu jawaban dari mu, Rian?!” ujar Park Joon dengan mata yang menatap tajam ke arah Rian, mau tidak mau dia lalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Sabrina.


“maafkan saya, nyonya dan Tuan besar. Saya... Saya hanya menjalankan perintah tuan Arman... “ Rian lalu menceritakan tentang Sabrina sebatas dengan apa yang diketahuinya. Shu Kye merasakan Seluruh tubuhnya tidak bertenaga saat mendengar cerita tentang apa yang terjadi pada Sabrina, Park Joon dan Indra segera memegangi lalu memapah Shu Kye untuk duduk di kursi yang tersedia di depan ruang rawat Arman.


Rian merasakan perasaan bersalah saat menatap ke dua orang tua Arman, terlihat raut wajah kecewa dan sedih saat mengetahui apa yang terjadi pada cucu mereka. Indra kembali menghampiri Rian,


“tuan Rian, aku ingin meminta bantuan anda” ujar Indra menatap dengan serius ke arah Rian.


“dengan senang hati saya akan membantu anda, hal apa yang dapat saya bantu tuan muda?”


“tolong temukan kak Sabrina bagaimana pun caranya... Aku... (sejenak menatap ke arah Shu Kye dan Park Joon) aku.... Aku... “ wajah Indra terlihat sendu saat menatap kedua orang tua Arman. Rasa bersalah berkecamuk di dalam hatinya, bayangan kesalahan serta tingkah lakunya yang buruk pada Sabrina membuat Indra tidak bisa menatap langsung kedua orang tua Arman.


Flashback off....

__ADS_1


Rian terus menatap ke arah rombongan Sabrina yang sudah menjauh dan berbelok menuju kamar VVIP yang berjarak tidak jauh dengan kamar Arman, dia dengan diam – diam dan hati – hati mengikuti rombongan itu.


Tanpa di sadari Rian tingkah lakunya di perhatikan oleh Shu Kye dan Park Joon yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit,


“suami ku... itu Rian, dia mau ke mana itu?” tanya Shu Kye penasaran.


“sebaiknya kita ikuti saja” ujar Park Joon yang penasaran melangkah dengan hati – hati mengikuti Rian dari belakang.


Mereka berdua terheran – heran saat melihat Rian yang diam – diam mengintip ke arah kamar VVIP yang terlihat ramai di kunjungi, kening mereka terlihat berkerut saat menatap ke arah rombongan yang entah mengapa terlihat tidak asing.


“Assalamualaikum... “ sapa Wiyasa dan lainnya saat memasuki kamar VVIP Ningsih. Semua yang berada di dalam kamar itu serentak melihat ke arah pintu masuk, Andhini langsung berdiri dari tempat duduknya saat melihat Sabrina yang datang bersamaan dengan suami dan adiknya.


“Waalaikum salam....”


Adiwijaya ikut menatap harus ke arah Sabrina yang tersenyum manis kepada seluruh keluarganya, Andhini menghampiri Sabrina dan langsung memeluk putrinya yang masih menggendong baby Yusuf.


"Sabrina..." Andhini memeluk erat, Baby Yusuf yang terlelap merasa tidak nyaman mulai bergerak perlahan.


“ooo... maaf sayang... saking senangnya ibu ndak sadar” ujar Andhini memegangi tangan mungil baby Yusuf yang menggenggam erat hijab Sabrina. Tangan mungil itu di ciumi lembut oleh Andhini seakan meminta maaf karena telah mengganggu tidurnya, baby Yusuf kembali terlelap saat tangan Sabrina menepuk tepuk lembut punggungnya.


Semua yang ada di sana tertawa perlahan saat melihat tingkah imut baby Yusuf yang terlihat nyaman dalam gendongan Sabrina, mata cantik Sabrina menatap ke arah Hee Na yang berdiri di sampingnya.


Hee Na mengerti saat Sabrina menatap ke arahnya, lalu kedua tangannya terulur memegangi tubuh mungil baby Yusuf dan perlahan baby tampan itu berpindah ke stoller yang sudah di siapkan oleh Yohan.


Setelah memastikan baby Yusuf nyaman di strollernya Sabrina lalu menghampiri Andhini sambil menyalami dan memeluknya, hal yang sama di lakukan Sabrina pada Wulan, Adiwijaya dan Ningsih. Mata Sabrina terlihat sendu saat menatap Ningsih yang terlihat letih dan lesu,


“eyang....” sapa Sabrina memeluk Ningsih yang terbaring di ranjang, setelahnya perlahan Sabrina melepaskan pelukannya dan duduk di kursi yang sebelumnya di duduki oleh Andhini.


“sa.. brina...” ujar Ningsih menatap dengan mata sayu, tangannya yang terpasang infus memegangi wajah cantik Sabrina.

__ADS_1


“akhir...nya... eyang... sempat melihatmu...” ujar Ningsih dengan suara lemah.


“eyang...eyang ndak baik bicara seperti itu... InsyaAllah eyang sembuh seperti sedia kala....” Sabrina menggenggam tangan Ningsih dengan erat, matanya tampak berkaca – kaca, hatinya masih belum siap menerima kepergian Nicholas. Di saat dia mendengar kabar Ningsih yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit semakin membuatnya terpukul, rasa kesedihan dan kepedihan di rasakan oleh Sabrina seakan dapat di rasakan juga oleh Adiwijaya.


Tangan kanan Adiwijaya memegang kuat tongkat yang selalu di bawanya, dia melangkah ke samping Sabrina dengan tangan kiri memegang kepala yang tertutupi hijab dan membelai dengan lembut.


“benar apa yang di katakan Sabrina, buk. Kita berusaha dan bertawakal pada yang di Atas, kamu jangan patah semangat dan selalu optimis” ujar Adiwijaya ikut menyemangati Ningsih. Senyuman lemah tersungging di wajah tua Ningsih yang menatap lembut ke arah cucunya.


Di sisi lain Asmirah yang berdiri di samping Anjani terlihat tidak senang, Wajahnya tergambar jelas rasa cemburu, takut dan cemas. Hal itu di sadari oleh Anjani yang langsung memegangi tangan kanan seraya menarik Asmirah untuk berdiri lebih dekat dengannya,


“jangan pasang wajah seperti itu, Mirah... jangan sampai hubungan persaudaraan kita rusak hanya karena rasa takut dan cemburu mu itu. Ingat... mbak Sabrina bukan perempuan yang seperti kamu pikirkan” bisik Anjani tegas. Asmirah menatap langsung ke arah Anjani, raut wajahnya terlihat sendu dan tertunduk sedih.


Gendis yang berdiri di samping Wulan menatap heran ke arah Anjani yang berbisik pada Asmirah, mata jernihnya sejenak menatap ke arah perempuan cantik yang duduk di kursi tepat di samping ranjang eyang buyutnya. Matanya kembali menatap ke arah Asmirah dengan raut wajah sedih menatap ke arah perempuan cantik itu kembali, kepalanya miring ke kanan dengan tanda tanya gerangan siapakah perempuan cantik itu.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


mohon maaf karena beberapa bulan yang lalu Author tidak update karya, Lantaran di karenakan Author harus berehat sejenak sembari mencari ide - ide cerita.


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2