Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 103


__ADS_3

“ Take it easy, your grandfather and father are great and strong people. They will definitely survive (Tenang saja, kakek dan bapak mu adalah orang yang hebat dan kuat. Mereka pasti akan bertahan)” ujar Nicholas berusaha untuk menghibur Sabrina. Tangan gadis cantik itu di genggam Nicholas membuat jantung Sabrina berdetak cepat, tangan kirinya yang memegangi serum penawar menempel erat di dadanya yang tertutup hijab.


Mata Indah itu sejenak menatap ke arah Nicholas yang juga membalas menatapnya, sebuah ungkapan terima kasih tergambar jelas di mata indah itu yang di balas senyuman hangat oleh Nicholas. Apa yang terjadi pada bosnya tidak luput dari pandangan Jack, dia terkejut saat Nicholas tersenyum tulus dan hangat.


Untuk pertama kalinya Jack dan lainnya melihat senyuman hangat dan tulus dari Nicholas, selama mereka bekerja di bawah Nicholas dia sama sekali tidak pernah menunjukkan senyuman tulus dan hangat seperti yang di lakukannya saat sekarang ini.


I didn't think that the boss could smile like that, I would have to be kind and close to Miss Sabrina. Only with Miss's presence can bring the good side of the boss to life (aku tidak menyangka jika bos bisa tersenyum seperti itu, aku harus berbuat baik dan dekat dengan nona Sabrina. Hanya dengan kehadiran nona dapat menghidupkan sisi baik bos) gumam Jack melihat ke arah lain. Lift sudah sampai di lantai yang mereka tuju, pintu lift segera membuka tanpa membuang waktu Sabrina segera melangkah keluar dengan setengah berlari.


Langkah kakinya menggema di lorong rumah sakit membuat semua yang menunggu di ruang tunggu melihat ke arah sumber suara itu, mata seluruh keluarga terkejut saat melihat tampilan Sabrina yang berbeda. begitu juga dengan Raka yang tidak menyangka sama sekali, jantungnya berdetak dengan cepat dan ada rasa sakit di sana.


“Sabrina....” Andhini termenung saat melihat kedatangan putrinya, tampilan Sabrina begitu menawan dan sangat cantik dengan pakaian pernikahan yang di kenakannya.


'Pakaian Pernikahan’ semua semakin terkejut saat kedatangan Sabrina diiringi dengan seorang pria tampan yang tak lain adalah Nicholas.


“Sabrina.... ini... ka.. kamu..” Andhini menatap putrinya dari ujung kepala hingga kakinya, dia begitu terkejut dan menahan Sabrina sebentar.


“bu.... nanti saja kita bicarakan setelah Sabrina menemui bapak dan Eyang. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja Sabrina akan menjelaskan semuanya... " Sabrina dengan pelan melepaskan tangan Andhini, dia berlalu pergi dan mengabaikan tatapan keluarganya memilih masuk ke ruang ICU. Para perawat dan dokter pendamping termasuk dokter Adrian tengah berada di ruangan ICU, mereka semua terkejut saat melihat tampilan Sabrina.


“aku sudah mendapatkan penawarnya” Ujar Sabrina memperlihatkan serum penawar di tangan kirinya. Pandangan semua orang tertuju pada serum penawar di tangan Sabrina,


“siapkan suntikan segera” perintah dokter Adrian pada perawat yang segera bergerak dengan cepat. Serum penawar itu segera di serahkan Sabrina pada Adrian yang langsung mengambil suntikan yang sudah di persiapkan. Adrian berdiri di samping ranjang Adiwijaya dan Sabrina di samping ranjang Wiyasa.


Suntikan itu di arahkan Sabrina pada kepala botol serum penawar itu, tapi jarum itu terus meleset dari tempat yang seharusnya akibat tangan Sabrina yang bergetar.

__ADS_1


“kamu gantikan dokter Sabrina” ujar Adrian yang sudah memindahkan isi serum penawar itu ke dalam suntikan, dari sudut matannya dia melihat apa yang terjadi pada Sabrina.


“ Dokter Sabrina, biar saya yang menggantikan anda” ujar dokter pendamping mengambil suntikan itu dari tangan Sabrina.


“te...terima kasih...” ujar Sabrina perlahan mundur ke belakang untuk memberi ruang dokter pendamping melaksanakan tugasnya.


Sabrina terus melihat ke arah eyang dan bapaknya menunggu reaksi dari serum penawar yang baru saja di dapatnya.


Sementara di ruang tunggu ICU, suasana terkesan mencengkam di sana, Nicholas duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Keluarga Adiwijaya dan Wiguna.


“ mbak...” bisik Asmirah pada Anjani yang berdiri di sampingnya, Eliana yang berdiri di samping Anjani juga ikut melihat ke arahnya.


“ Hm.. kenapa Mirah?” tanya Anjani.


“Mirah kebelet mbak, temenin dong” bisik Asmirah lagi.


“justru karena suasana di sini bikin Mirah semakin kebelet” Asmirah mulai tampak gelisah.


“Aku juga Jani... suasana di sini benar-benar bikin merinding” ujar Eliana memilih ikut bersama Anjani dan Asmirah. Mereka pun ijin pada Wulan yang langsung di perbolehkan olehnya, ketiga gadis itu segera berjalan beriringan menuju ke toilet.


Raka, Cakra, Bima dan Yusuf memperhatikan Nicholas juga anak buahnya, mereka bersikap sangat waspada terutama Araf.


“what else did you come here for? And how can Sabrina be with you guys? Surely you have.... (untuk apa lagi kalian datang kemari? Dan bagaimana bisa Sabrina bersama kalian? Pasti kalian sudah ....)” tanya Araf menatap tajam ke arah Nicholas yang masih bersikap tenang.

__ADS_1


“Araf... Tenangkan diri kamu” ujar Cakra pada Araf yang terlihat gusar.


“tapi pa...” Araf akan berbicara namun Wulan menyentuh lengan putranya untuk menenangkan.


“I know everyone here is angry and wondering why Sabrina could come with me, but before I answer your question. We'd better wait for Sabrina to explain everything, as we can see you and the others certainly won't believe what I'm talking about (aku tahu semua yang ada di sini marah dan bertanya-tanya mengapa Sabrina bisa datang bersamaan dengan ku, tapi sebelum aku menjawab pertanyaan dari anda. Sebaiknya kita menunggu Sabrina untuk menjelaskan semuanya, seperti kita lihat anda dan lainnya tentu tidak akan percaya dengan apa aku bicarakan)” Ujar Nicholas tenang.


“just try it?! (coba saja?!)” ujar Raka membuka suara, dia butuh jawaban dari semua pertanyaan yang berkecamuk di benaknya. Nicholas menatap ke arah Raka yang membalas menatap tajam pada Nicholas.


“a few days ago I had returned to my country, but when I arrived, Mr. Arman contacted me. But the voice I heard was not Mr. Arman's voice but Sabrina's voice. she said to ask me to marry her (beberapa hari yang lalu aku sudah kembali ke negara ku, namun di saat aku baru sampai tuan Arman menghubungi ku. Namun suara yang ku dengar bukanlah suara tuan Arman melainkan suara milik Sabrina. Dia mengatakan untuk meminta ku menikahinya)” jelas Nicholas yang langsung di tatap dengan tidak percaya oleh Raka dan lainnya.


“no way.... it's impossible. A few more days is Raka and Sabrina's wedding day, it's impossible for him.. (tidak mungkin.... itu tidak mungkin. Beberapa hari lagi adalah hari pernikahan Raka dan Sabrina, tidak mungkin dia..)” Andhini tidak percaya begitu saja apa yang di katakan Nicholas.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2