Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 88


__ADS_3

Tiga malam saja dia tidak tidur bersama Anjani sudah membuatnya galau tingkat dewa, dia tidak bisa membayangkan akan menjadi seperti apa jika nantinya selama sebulan tidak bertemu dengan istri yang sangat di cintainya.


“ya sudah, kalian kembalinya hati-hati. sampaikan salam kami untuk keluarga di sana yo" ujar Adiwijaya tersenyum hangat. Bima melihat ke arah kediaman Adiwijaya berharap bisa melihat istrinya, tapi panggilan dari maminya yang tidak bisa di bantah membuat langkahnya terasa berat meninggalkan rumah Adiwijaya.


“udaaaah, kagak usah galau. Selesai acara pernikahan ini kalian bakalan ketemu kok, sekarang sabar dulu sampai semuanya beres oke” ujar Wibisana menghibur Bima.


Setelah pamit mereka berdua kembali masuk ke mobil dan melajukannya meninggalkan kediaman Adiwijaya.


“pak, aku akan mengantar surat ini menemui dia sekarang” ujar Wiyasa akan melangkah pergi.


“pak de tunggu sebentar, pak de ndak bisa pergi sendirian. Aku akan ikut bersama pak de” ujar Araf akan mengikuti Wiyasa.


“jangan Araf, sebaiknya kamu di rumah. Tadi eyang dengan cerita dari mama kamu kalo kamu meminta teman kamu untuk berjaga di kediaman kita, kamu tentunya lebih mengenal teman kamu itu. Urusan meminta tanda tangan ini , biar pak de dan eyang yang akan mengurusnya” ujar Adiwijaya bersikeras.


“tapi eyang...” Araf masih tidak setuju dengan rencana Eyangnya.


“ sudahlah Raf, eyang mu benar kamu sangat dibutuhkan di sini dan tenang saja ada pak e yang akan menjaga eyangmu” ujar Wiyasa sambil menepuk pundak Araf. Dia dan Adiwijaya melangkah masuk ke mobil miliknya yang terparkir di halaman.


“baiklah eyang, jika ada apa-apa segera hubungi Araf” Ujar Araf setuju dengan keinginan eyangnya.


“araf tolong beritahu eyang uti mu untuk memulai pengajiannya tanpa eyang, kalo eyang uti mu bertanya eyang ke mana jawab saja kalo eyang pergi mengurus beberapa surat yang harus di serahkan hari ini yo” ujar Wiyasa sambil membuka pintu mobil duduk di samping kemudi.


“baik eyang” ujar Araf masih terlihat khawatir.


Setelah mengucapkan salam, Wiyasa menyalakan mobil dan melajukannya ke jalan besar. Mobil Wiyasa berhenti di pinggir jalan, dia tampak bingung dan meraih ponsel miliknya.


“ada apa Wiyasa?” tanya Adiwijaya menatap menantunya.


“itu pak... aku ndak tahu di mana Arman menginap atau tinggal sekarang” ujar Wiyasa, tangannya tampak menggeser-geser layar ponselnya.


“lalu kamu mau menghubungi siapa sekarang?”

__ADS_1


“ aku akan mencoba menghubungi Raka dan mencari tahu apakah dia memiliki nomor ponsel Arman” ujar Wiyasa sudah menemukan nomor ponsel Raka. Dia segera menghubungi Raka, nada tersambung terdengar hanya tinggal menunggu yang punya ponsel mengangkatnya.


Telepon itu di angkat setelah mengucapkan salam Wiyasa langsung to the point menanyakan nomor ponsel Arman. Raka segera mengirim nomor ponsel Arman pada Wiyasa.


Arman. Indah dan Adelia seperti tahanan di dalam hotel itu, mereka tidak bisa ke mana-mana karena orang-orang Nicholas terus mengawasinya. Mereka menanti dengan sabar sebuah berita baik dari hasil rencana mereka, sebuah nomor asing tertulis di layar ponsel Arman yang tengah berdering.


Mereka menyangka jika itu adalah Sabrina yang akan memintanya untuk bertemu, rencana yang tersusun rapi membuahkan hasil yang di harapkannya.


“halo...”


“assalamualaikum,” sapa Wiyasa dengan tegas.


Kenapa malah orang yang kagak penting ini menghubungi aku? Ke mana anak sialan itu, rencana ini akan gagal jika bukan anak sialan itu yang menelepon aku gumam Arman tampak bingung dan kesal.


“ada apa?”


“....................”


Sambungan telepon itu di putus Arman begitu saja dengan kesalnya, dia membanting ponselnya secara kasar di atas ranjang membuat Adelia dan Indah kebingungan.


“ada apa pa? Kenapa kamu marah?” tanya Indah dengan hati-hati.


“bagaimana aku tidak kesal atau marah, yang akan menemui kita bukan anak sial*n itu melainkan tua bangka dan anak pungut itu” ujar Arman semakin marah saat tahu yang datang menemuinya bukanlah Sabrina.


Adelia diam dan berpikir keras bagaimana cara untuk mengontrol Sabrina agar mau di jadikan jaminan pada Nicholas.


***


Di lain pihak Nicholas sedang berada di bandara tengah duduk di kursi tunggu menunggu pesawat pribadi miliknya siap, pagi itu dia mendapat kabar jika ada masalah yang perlu dia untuk turun tangan. Dengan berat hati Nicholas terpaksa harus kembali ke Australia untuk mengurus masalah itu, sebelum berangkat Nicholas meminta Jack untuk membeli bunga mawar untuknya.


Tidak lupa dia menulis sendiri pesan di bunga mawar itu ucapan tulus untuk kebahagiaan Sabrina, setelah mendapat bunga mawar dan di hias cantik. Nicholas meminta Jack untuk mengantarnya ke kediaman Adiwijaya, berharap bisa bertemu dengan Sabrina walau hanya sebentar.

__ADS_1


Sesampainya di kediaman itu Nicholas menyuruh anak buahnya untuk menjadi kurir pengantar bunga, lalu masuk ke kediaman Adiwijaya. Anak buah Nicholas melaksanakan perintahnya, setelah menyelesaikan pengirimannya anak buah Nicholas kembali ke mobil dan menyalakan mobil itu.


Nicholas mencegah dan memilih menunggu sebentar, dia ingin melihat reaksi Sabrina saat menerima bunga pemberiannya. Dia menunggu dengan sabar sampai akhirnya dia melihat bunga yang di kirimnya di tangan perempuan lain.


Mata tajam mafia itu menatap lekat perempuan yang membawa bunga itu, dia terkejut saat melihat jika yang membawa bunga itu orang lain dan bukan Sabrina. Dia diam, aura kegelaan menyelimuti seluruh bangku pengemudi itu, membuat Jack dan anak buahnya tidak bisa bernafas. Mereka tampak gugup saat melihat Nicholas, ini pertama kalinya mereka berdua melihat bos mereka di tolak oleh perempuan yang di sukai.


Rasa kecewa terlihat jelas di mata tajam Nicholas, dia lalu memerintahkan untuk melajukan mobil menuju bandara. Pesawatnya kini sudah siap untuk terbang, dia dan para anak buahnya segera naik ke dalam pesawat pribadi menuju ke benua Australia.


“boss, are you sure you're going like this? (bos, apa anda yakin akan pergi seperti ini?)” tanya Jack tampak khawatir dengan bosnya.


“I have received an answer from her, now there is no regret for me to go back home (aku sudah meneria jawaban darinya, sekarang tidak ada penyesalam bagiku untuk kembali pulang)” ujar Nicholas melangkah menuju pesawat miliknya.


************


dear para reader yang baik, budiman, rajin menabung dan murah hati....


sebelumnya Author meminta maaf 🙇🏻‍♀️🙇🏻‍♀️🙇🏻‍♀️ jika ada tulisan ✍️✍️✍️author yang menyinggung instasi terkait dalam karya novel ini. Cerita ini hanya karangan author semata dan tidak pernah terjadi di dunia nyata.


Author harap para pembaca bisa bijak membaca, Author juga menyadari kemampuan author dalam menulis masih kurang. Namun, author terus berusaha untuk belajar dan memberi cerita novel yang lebih baik lagi agar para penggemar menyukai karya author.


Sekali lagi author mengucapkan maaf 🙇🏻‍♀️🙇🏻‍♀️🙇🏻‍♀️🙇🏻‍♀️dan terima kasih karena sudah mendukung 🙏🏻🙏🏻🙏🏻karya author.


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2