Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 44


__ADS_3

“he ehem.... sepertinya ada yang lagi kasmaran nih” ujar Asmirah menggoda Sabrina. Araf berada di samping Asmirah menatap ke arahnya,


“Siapa yang kasmaran dek?” Bisik Araf,


“Itu mas, mbak Sabrina dan oppa Raka. Liat aja sekarang oppa Raka nyuri pandang gitu ke mbak Sabrina. Mas, liat deh wajah mbak sabrina merona merah” bisik Asmirah pada Araf menatap Sabrina memilih duduk di samping Wulan dan Andhini.


Mereka berdua tersenyum-senyum menatap Raka sesekali menatap Sabrina, Araf lalu inisiatif duduk di samping Raka juga keluarga Wiguna lainnya. Candra dan Adiwijaya terlibat dalam percakapan nostalgia mereka sewaktu mereka muda, hingga sampailah Candra pada inti maksud mereka ke rumah Cakra .


Adiwijaya tahu jika sahabatnya memiliki maksud tertentu dalam pertemuan mereka pagi itu.


“Candra, aku mengenal kamu dari dulu. Tentunya kamu memiliki tujuan lain kan kemari” tanya Adiwijaya membuat semua keluarga menatap ke arah para kakek itu.


“kamu memang jeli sedari dulu, aku tidak pernah bisa menyembunyikan apa pun dari mu. Adapun maksud kedatangan ku dengan anak dan cucu pertama ku akan di sampaikan oleh cucuku Raka” ujar Candra.


Mata semua keluarga tertuju pada Raka menunggu hal apa yang akan di sampaikannya. Raka mengatur nafas lalu mengucapkan bismillah menatap ke arah Sabrina yang juga balas menatapnya.


Awalnya Raka ingin melamar Sabrina saat Candra sudah sembuh total, tentu saja Helena sangat tidak setuju. Dia sangat ingin Raka dan Sabrina secepatnya dapat bersama, Helena tidak ingin kehilangan calon menantu yang sudah berhasil mengambil hatinya. Begitu juga Eliana yang selalu ribut mempertanyakan kapan Raka akan melamar Sabrina.


Helena tidak kehabisan akal, dia menceritakan tentang Raka memiliki perasaan lebih pada Sabrina, hal itu di sambut bahagia oleh Candra. Dia pun memaksa Raka untuk melamar Sabrina sebelum ada yang melamar dan memenangkan hatinya.


Alhasil pagi itu sebelum Adiwijaya dan keluarganya kembali ke Surakarta, Candra ingin Raka melamar Sabrina. Dengan memantapkan hatinya, Raka menatap Sabrina yang duduk di depannya.


“Sabrina... Aku datang kemari bersama papi dan opa bukan untuk diriku sendiri, tapi seraya ingin menjalankan perintah Allah SWT. Aku di sini bukan untuk diriku sendiri, namun berharap tergolong dalam naungan Baginda Rasulullah.


Sabrina, aku ingin kamu menjadi perhiasan terindah hanya untukku, kelak bersama mengarungi titian menuju surga dan menggapai Ridho-Nya.


Aku ingin menjagamu hingga halal menyentuhmu, Dengan nama Allah yang Maha pengasih dan Maha penyayang, maukah kamu menjadi pendampingku, menjadi sahabat, menjadi istri dan menjadi ibu dari anak-anak kita kelak. Jika kamu tidak keberatan, saat ini juga aku akan mengkhitbahmu” kata Raka, seluruh keluarga terharu mendengar pernyataan dari Raka.


Wiyasa dan Andhini tersenyum senang, begitu juga seluruh keluarga Adiwijaya. Wajah cantik Sabrina tertunduk dengan merah merona yang menghiasi kedua pipinya. Andhini dan Wulan menatap Sabrina yang duduk di tengah-tengah mereka, mereka menanti jawaban dari Sabrina.


“gi mana tanggapan mu nduk?” tanya Andhini. Sabrina menarik nafas lalu menegakkan kepalanya menatap ke arah eyang kakongnya. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke Raka yang duduk di hadapannya menunggu jawaban dengan jantung berdebar cepat.


“mas raka, aku sangat menghargai keberanian Mas Raka melamarku saat ini. Tapi Sabrina.... Sabrina menyerahkan semuanya pada Eyang kakong, jika menurut eyang Mas Raka yang terbaik. Maka dengan ke ikhlasan dan ridho Allah SWT aku menerima lamaran mu mas. Namun jika menurut Eyang kakong, mas bukanlah pria yang pantas untuk menjadi imamku. Sabrina berharap mas Raka dapat menerima dengan lapang dada dan tetap menjalin silaturrahmi antar keluarga” ujar Sabrina membuat Adiwijaya tersenyum.

__ADS_1


Adiwijaya tahu jika Sabrina akan menyerahkan segala keputusan padanya, bagi Sabrina Adiwijaya sudah menjadi sosok pengganti papanya. Peranan Adiwijaya begitu besar dalam kehidupan Sabrina, karena itulah Sabrina menyerahkan persoalan lamaran ke Adiwijaya.


“Raka... terima kasih dengan keberanianmu datang kemari melamar Sabrina. Namun sebelum aku menyetujui lamaranmu, sebaiknya kamu tahu asal usul Sabrina dan orang tua kandungnya” ujar Adiwijaya mengungkap jati diri Sabrina. Dia tidak ingin pernikahan Sabrina di awali dengan kebohongan, jadi Adiwijaya dengan berani mengungkapkan dengan resiko Raka akan mundur.


“eyang tenang saja, aku dan seluruh keluarga sudah mengetahui siapa Sabrina dari mami. Hal itu tidak menjadi masalah dan penghalang bagiku Eyang, insyaallah aku menerima Sabrina apa adanya” ucap Raka dengan mantap.


Adiwijaya mendengar penuturan Raka sangat senang dan bahagia ada seorang pemuda yang menerima Sabrina apa adanya.


“dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim... aku mewakili cucuku Sabrina, menerima lamaranmu nak” Adiwijaya menerima lamaran Raka, langsung di sambut baik oleh keluarga Besar.


Raka tersenyum ke arah Sabrina yang juga tersenyum ke arahnya, mata indahnya kembali tertunduk dengan wajah yang merona menambah kecantikannya.


“selamat ya mbak” ujar Asmirah bahagia memeluk Sabrina. Para wanita di keluarga Adiwijaya langsung mengerumuni dan memeluk Sabrina bergantian. Begitu juga para pria yang juga mengucapkan selamat pada Raka,


“Raka... sematkanlah cincin di jari manis Sabrina” Candra mengingatkan cincin yang sempat di bawa Raka.


Tangan Raka segera merogoh saku celananya mengambil kotak kecil beludru merah berisi cincin berlian berwarna biru muda. Cincin pilihan yang sengaja Raka pesan saat ikut bersama Bima mencari cincin pernikahan. Asmirah menggandeng tangan Sabrina untuk berdiri di depan Raka.


Sebelah tangan Raka terulur ke arah Sabrina dan sebelah lagi memegang cincin berlian itu. Dengan penuh kelembutan Raka menyematkan cincin itu di jari manis Sabrina.


“benar kata Mirah, jarang-jarang ada cincin yang cocok dan pas di jari” ujar Wulan yang takjub. Sekali lagi Sabrina di monopoli keluarganya, Raka yang ingin berbicara dengan Sabrina kembali menghela nafas dan hanya tersenyum padanya yang sesekali menatap ke arah Raka.


“sabar ya Bro, pada saatnya kamu bisa berbicara dengan bidadari mu” goda Araf berdiri di samping Raka yang membalasnya dengan tersenyum ramah.


“ o ya, tuan Adrian di mana nyonya Helena dan yang lainnya?” tanya Wulan yang sedari tadi penasaran.


“ mereka sedang di rumah nyonya Wulan, awalnya kami berniat datang untuk menemui pak Adiwijaya. Tidak di sangka jika papa dan puraku mempunyai tujuan lain datang kemari” ujar Adrian menatap ke arah Raka.


“tentu saja, aku harus mendorong Raka bergerak cepat. Kalau tidak kesempatan seperti ini tidak akan ada lagi, kamu lihat saja bagaimana cantik dan manisnya calon menantu mu. Aku yakin banyak yang mengincarnya” ujar Candra membuat Sabrina semakin tersipu malu.


Mereka pun melanjutkan pembicaraan pernikahan Sabrina dan Raka, pembicaraan berlangsung agak lama. Hingga mereka mencapai kesepakatan jika akad nikah dan pesta pernikahan akan di adakan dua bulan dari sekarang. Sabrina juga mengutarakan jika setelah menikah nanti dia masih di izinkan untuk bekerja di Rumah sakit milik calon mertuanya.


***

__ADS_1


Helena, Eliana dan Wibisana sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. Wibisana sedang menatap laptop miliknya mengetik sesuatu di dalam sana, setelah menikah Bima dan Anjani di beri hadiah oleh Candra bulan madu keliling negara Eropa. Setelah acara pesta kecil-kecilan di rumah Wiguna, Bima dan Anjani langsung berangkat pergi berbulan madu.


Helena menatap jam dinding di ruang keluarga yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi,


"mami heran, kenapa mereka begitu lama di rumah Wulan?” tanya Helena yang berkali-kali menatap jam dinding.


“mungkin ada sesuatu hal yang penting yang harus di bicarakan mi, tentunya mami tahu bagaimana opa kalo ketemu dengan temannya” ujar Eliana menatap layar televisi.


Ting....


Sebuah pesan masuk ke ponsel milik Eliana, dia menatap layar ponselnya yang tertulis pesan wa dari Asmirah. Sebelah tangan Eliana membuka pesan Asmirah, matanya membulat sempurna saat melihat foto-foto di mana Raka menyematkan cincin ke jari Sabrina.


“miiii” pekik Eliana dengan mata yang masih menatap ponselnya. Wibisana juga ikut terkejut melihat Eliana,


“ada apaan Elia?” tanya Wibisana masih menatap laptopnya.


“iya nih, kamu kenapa Elia? Kayak orang kemasukan saja” tanya Helena menatap heran putrinya.


“mi... liat ini” ujar Eliana memperlihatkan foto-foto yang baru saja di kirim Asmirah. Tidak berapa lama sebuah rekaman video datang dari Asmirah, terdengar suara Raka membuat Wibisana penasaran dan ikut melihat rekaman video yang di kirimkan Asmirah.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ all...


__ADS_2