
Dewi terus mengawasi pegawai DW itu sambil dia melangkah pergi menemui atasannya di ruang kerja untuk melaporkan apa yang menurutnya mencurigakan, dia pun melewati ruang pertemuan yang akan di gunakan oleh Roy untuk makan malam. Dewi melihat pegawai DW melakukan sesuatu pada alat pengharum ruangan di ruang pertemuan itu.
Dewi semakin curiga dengan tindak tanduk pegawai DW itu dan terus mengawasi secara diam-diam, Dia juga melihat pegawai DW itu menyimpan sesuatu di balik apron yang di gunakannya. Asisten Roy datang ke ruangan itu, Dewi pun segera bersembunyi di suatu tempat
“semua harus sesuai dengan rencana, di saat mereka semua sudah tertidur segera bawa suntikan itu pada pria yang bernama Raka dan Adelia. Ini foto pria yang bernama Raka, kamu perhatikan dengan baik” ujar asisten itu pada pegawai DW yang langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Perintah itu juga di dengar oleh Dewi bersembunyi di tempat yang tidak di sadari oleh mereka, setelah asisten dan pegawai DW itu pergi dia keluar dari persembunyian dan segera memberi tahu kepada atasannya. Pada awalnya atasan Dewi sama sekali tidak mempercayai, namun dia sama sekali tidak menyerah terus berusaha untuk meyakinkan atasannya.
Mereka pun segera pergi menuju ruang pertemuan yang di tunjuk Dewi, dan ternyata apa yang di curigai gadis itu terbukti. Semua tamu yang berada di ruangan itu mendadak tidak sadarkan diri,
“ada apa ini?!” atasan Dewi segera beraksi membuat pegawai DW dan beberapa anak buah Roy terkejut. Mereka yang bermaksud akan membungkam Dewi dan atasannya terhenti saat gadis itu berteriak menarik perhatian staff yang lain.
“tolong...tolong... tolong... tamu di ruang VVIP tidak sadarkan diri” teriak Dewi menarik perhatian yang lain, segera orang berkerumun membuat rencana sempurna Roy berantakan.
Orang-orang Roy segera berakting berusaha membangunkan bos mereka,
“sebaiknya segera di bawa ke rumah sakit sekarang,” ujar Atasan Dewi, para staff yang lain segera menelepon ambulance untuk datang ke hotel.
Asisten Roy segera memberi isyarat untuk membawa bos dan Adelia mereka keluar dari ruangan itu,
“tuan, mau di bawa ke mana itu?” tanya atasan Dewi pada beberapa orang yang memapah Roy dan salah seorang yang menggendong Adelia.
“kami akan membawa beliau ke rumah sakit, sebaiknya anda mengurus tamu yang lainnya” ujar asisten Roy menunjuk ke arah Raka, Bima dan Thio.
Dewi dan anggota staff yang lain segera menolong Raka, Bima dan Thio. Mereka sama sekali tidak menyadari asisten Roy dan lainnya telah keluar dari ruang pertemuan itu, anak buah Roy segera membawa bos mereka dan Adelia menuju kamar yang sudah mereka pesan.
Beberapa menit kemudian mobil ambulance datang dan segera mengevakuasi Raka, Bima juga Thio menuju ke rumah sakit.
“.... begitulah tuan kejadian setelah anda semua tidak sadarkan diri” jelas Dewi menundukkan pandangannya.
“syukur alhamdulillah kak, kita terlepas dari jebakan karena keberanian nona Dewi” ujar Bima kembali.
“Lalu, apa yang terjadi pada mereka?” tanya Raka sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pening.
“aku tidak tahu kak, saat aku terbangun kita sudah berada di rumah sakit” ujar Bima berusaha untuk mengingat apa yang terjadi sebelum mereka semua pingsan. Dia lalu melihat ke arah Raka yang masih terlihat lemah,
__ADS_1
“apa mami dan lainnya tahu kita ada di sini?” tanya Raka sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding belakang punggungnya.
“sudah kak, sebentar lagi mereka akan datang ke sini. Sebaiknya kak Raka istirahat agar tidak lagi merasa pusing” Bima membantu Raka untuk kembali berbaring.
Dewi menatap jam di pergelangan tangannya, sudah semalaman dia tidak pulang ke rumah.
“maaf Tuan Bima, kalau tidak ada hal lain lagi. Saya permisi dulu, sudah hampir Jam kerja” ujar Dewi undur diri. Kedua pria gagah itu menatap ke arah Dewi yang langsung terlihat gugup,
“Maaf nona Dewi, anda harus tertahan menunggu kakak ku tersadar. Kami sangat berhutang budi pada anda, terima kasih atas bantuan anda” ujar Bima sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
“Tidak apa-apa tuan, sudah menjadi keharusan untuk saling membantu. Kalo begitu saya...” belum selesai Dewi berbicara pintu kamar perawatan Raka terbuka, Helena dan lainnya muncul dari balik pintu dengan raut wajah khawatir.
“Raka....” Helena menghampiri Raka yang tengah mencoba memejamkan matanya untuk beristirahat.
“mami... Opa?” Sapa Bima langsung menghampiri mereka dan menyalami dengan santun satu persatu.
“mami sangat terkejut saat mendengar kalian masuk rumah sakit bersamaan begini. Apa yang sebenarnya terjadi Bima? Kenapa Raka dan Thio bisa terbaring di tempat tidur begini?” ujar Helena khawatir. Eliana dan Anjani baru saja masuk sambil membawa beberapa paper bag yang berisi makanan juga pakaian.
“Ini....(menatap ke arah Raka yang mengode untuk tidak mengatakan apa pun yang terjadi) kami baik-baik saja mi. Hanya kelelahan saja, setelah infus kak Raka habis kami juga di persilahkan untuk pulang” Bima berkilah menutupi kebenaran.
“Nona ini dan beberapa staf hotel lainnya yang membantu juga mengantarkan kami ke rumah Sakit” ujar Bima,
“Terima kasih nak, siapa nama kamu?” tanya Candra pada gadis itu.
“Nama saya Dewi tuan,” ujar Dewi memperkenalkan diri.
“Nak Dewi, terima kasih sudah menolong putra-putra tante” ujar Helena menggenggam erat tangan Dewi yang membalasnya dengan tersenyum canggung.
“mi... Kak Dewinya jadi canggung kalo mami seperti ini” ujar Eliana menatap ke arah Dewi. Anjani menatap ke arah Dewi sambil tersenyum hangat padanya, dia lalu menghampiri Bima dan berdiri di sampingnya.
“opss... Maafin tante ya nak Dewi. Bukan maksud tante...” Helena menyadari kesalahannya.
“ ndak... Ndak apa-apa tante, kalo begitu saya permisi dulu. Mari...” ujar Dewi melangkah ke arah pintu ruang perawatan Raka. Dia sejenak menatap ke arah keluarga Wiguna yang terlihat hangat,
“Keluarga yang hangat...” ujar Dewi menatap sebentar lalu pergi keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Helena tampak sangat khawatir pada Raka yang memperlihatkan raut wajah yang tidak nyaman, Raka masih merasa sangat pening.
“kenapa sayang? Apa ada yang terasa tidak nyaman bagimu?” tanya Helena memegangi tangan Raka.
“Raka sudah tidak apa-apa mi, hanya ingin beristirahat sebentar saja” ujar Raka sambil memejamkan matanya.
“baiklah, mami akan duduk di sini” ujar Helena duduk di kursi tepat di samping Raka dan Thio.
“Bima, kenapa Thio masih belum sadar?” tanya Helena setengah berbisik tidak ingin mengganggu putranya.
“mungkin karena efek kebanyakan kerja jadi kami semu kelelahan dan....” ucapan Bima terhenti saat melihat Thio yang perlahan-lahan membuka matanya.
“Uughh... Di mana... ini?” Tanyanya terdengar lemah.
“kamu ada di rumah sakit Thio, bagaimana keadaan kamu? Apakah masih ada yang terasa tidak nyaman? Tanya Candra menatap Thio yang terlihat lemah.
“Opa... Aku sudah.... Merasa... Baikkan...” ujar Thio dengan mata yang masih terlihat berat.
“Sebaiknya kamu istirahat kembali Thio, pulihkan kembali tenagamu” ujar Candra dengan sebelah tangannya menepuk pelan tangan Thio.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1