Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 122


__ADS_3

“mami tahu nak, hanya saja mami tidak sanggup nantinya kamu akan di cemooh oleh keluarga besar, kolega dan teman-teman kamu. Mereka pastinya akan habis-habisan mencecar kamu...” ucapan Helena terhenti saat tangan Raka menggenggam tangannya.


“mi... kenapa harus memikirkan apa yang akan di katakan orang?! Mami adalah sumber kekuatan dan keberanian ku, jika mami bersedih seperti ini akan membuatku semakin bersedih dan tidak bisa mengikhlaskan Sabrina” ujar Raka memaksakan tersenyum ke arah Helena. Timbul sebuah ide di benak Helena yang ingin mencarikan jodoh untuk Raka,


“bagaimana jika mami mencarikan...”


“mi... aku.... (Menatap dalam Helena) berikan aku waktu mi, untuk sementara ini aku hanya ingin fokus dengan pekerjaan dan juga karier...” Raka menatap Helena yang langsung mengerti dengan apa yang di inginkannya.


“baiklah.... mami mengerti.... (menatap pemandangan langit malam yang bertabur bintang) sudah malam, sebaiknya kamu beristirahat agar besok pagi kamu segaran” Helena bangkit dari tempat duduknya, tangan kanannya memegang pundak Raka seakan memberikan dukungan dan kekuatan agar dia bisa melalui semua yang telah terjadi.


“ mami duluan saja, aku akan menelepon dulu untuk mempersiapkan keberangkatan kita besok pagi” ujar Raka meraih ponselnya dari saku celana yang di pakainya.


“ baiklah sayang....” ujar Helena masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya. Raka berdiri dari tempat duduknya berjalan sedikit ke teras sambil memandangi langit yang terlihat indah malam itu. Bintang-bintang bertaburan seperti permata yang menghiasi cantik langit malam Surakarta, juga di temani cahaya sang rembulan Raka menerawah jauh menatapi langit,


Sabrina.... semoga kamu selalu berbahagia dengan Nicholas... doa tulus Raka dalam hai sambil membayangkan wajah cantik Sabrina.


***


Sebulan kemudian...


Raka tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya yang sudah begitu menumpuk, meja kerjanya yang selalu rapi kini di penuhi dengan tumpukan kertas-kertas dan beberapa file yang perlu di tanda tangani. Beberapa minggu berada di Surakarta membuat beberapa pekerjaannya tertunda, di bantu Bima dan Thio pekerjaan Raka sedikit demi sedikit mulai terselesaikan. Namun ada di kalanya dia duduk termenung teringat dengan gadis yang sudah menempati hati dan pikirannya, seperti saat ini Raka tampak termenung menatap file di depannya.


Tubuhnya berada di ruang kerja, namun hati dan pikirannya berkelana entah ke mana. Bima membuka pintu ruang kerja kakaknya, dia tercenung sejenak saat melihat Raka yang melamun panjang. Tangan kanannya memegangi pena tinta di mana tinta itu sudah membuat kertas yang akan di tanda tangani ternoda oleh tinta yang keluar.


Bima melangkah menghampiri meja kakaknya, sebelah tangan terulur mengetuk meja kerja Raka.


Tuk....tuk... Tuk....


“Bumi memanggilmu kak Raka” ujar Bima mengejutkan Raka yang seakan baru tersadar.

__ADS_1


“eh... Kamu Bim, ada apa? Sejak kapan kamu berada di sini?” Raka menatap Bima yang melihat dokumen di depan Kakaknya sudah tercemar oleh tinta yang menyerap ke kertas.


“Sudah dari tadi aku mengetuk pintu kakak, tapi tidak ada sahutan. Lalu aku masuk saja dan mendapati kakak melamun seperti tadi”


“melamun... Siapa yang melamun” kilah Raka.


“kalo kakak nggak ngelamun lalu kenapa itu dokumen sekarang udah berganti rupa begitu?” Tanya Bima menunjuk dokumen di depan Raka. Tinta dokumen itu sudah menyebar luas di atas kertas yang seharusnya dia tanda tangani.


“kak... Apa kakak...” Belum selesai Bima bertanya terdengar kembali ketukan di pintu ruang kerja.


“ Masuk” ujar Bima mempersilahkan orang yang mengetuk pintu.


Pintu ruang kerja Raka terbuka dengan Thio yang muncul dari balik pintu itu,


“Ada apa Thio?” tanya Raka padanya. Thio segera menghampiri meja Raka dan memberikan beberapa dokumen yang di pegangnya.


“ada beberapa dokumen yang harus di tanda tangani segera” ujar Thio masih berdiri di depan meja kerja Raka, dia tampak ingin mengatakan sesuatu namun terlihat ragu-ragu.


“tadi saat di lobi gua ketemu ama cewek yang beberapa minggu ini berusaha untuk ketemu ama lu bos” ujar Thio mengingatkan Raka pada sosok Adelia.


Beberapa minggu sebelumnya....


Setelah kembali dari Surakarta, Raka kembali larut dalam rutinitasnya. Kepulangan Raka dan keluarga Wiguna tentu saja diketahui oleh Arman juga keluarganya, diam-diam Arman menyuruh anak buahnya untuk memata-matai kediaman Wiguna.


Orang suruhan Arman terus melaporkan terkait apa saja yang di lakukan Raka, pada suatu kesempatan dia pun menyuruh Adelia untuk datang ke perusahaan sekaligus hotel milik keluarga Wiguna untuk menjalankan rencana yang sudah mereka susun.


Raka yang sudah mengetahui rencana licik Arman dan keluarganya, tentu saja karena berkat Thio yang tidak sengaja mendengar rencana Arman saat mereka satu pesawat. Rencana Arman dan Adelia yang sudah tersusun rapi pun membuahkan hasil kegagalan total, setiap rencana yang mereka lakukan pasti dengan mudah di antisipasi oleh Raka juga di bantu oleh adik serta adik iparnya.


Bukan Adelia namanya jika dia tidak memiliki rencana lainnya, perusahaan Arman yang berada di Australia mengalami kebangkrutan hingga terpaksa di jual dengan harga yang sangat jatuh dari pasaran. Indra sudah berupaya terus menyelamatkan kebangkrutan Perusahaan namun tetap tidak berhasil, hasil penjualan perusahaan di alihkan oleh Adelia untuk membangun perusahaan Baru tentu saja di bawah kepemimpinannya.

__ADS_1


Adelia pun menggunakan dan menghalalkan segala acara untuk membuat perusahaannya berkembang. Dia pun mengajukan proposal ke perusahaan Raka dan tentu dengan tujuan juga maksud lain.


Proposal kerja sama Adelia terus menerus di tolak oleh Raka yang tidak ingin terjebak, hal itu membuat Adelia semakin kesal dan frustasi.


Saat sekarang....


“mau apa lagi itu perempuan? padahal Kak Raka udah terang-terangan memberi tahu jika kita udah tahu semua rencananya. Kenapa dia masih aja berusaha untuk terus mengejar kak Raka?” ujar kesal Bima.


“gua malah ngerasa seperti dejavu, kagak tahu kenapa apa yang di lakuin Cewek itu mengingatkan gua ama si Rani yang terobsesi banget ama lu Raka” Thio teringat dengan Rani yang begitu tergila-gila dengan Raka.


“Suruh orang untuk mengawasi dia, jika ada tindakan yang mencurigakan atau merugikan, kita ambil tindakan” ujar Raka menyelesaikan tanda tangannya pada dokumen di atas mejanya.


“ oke bos, gua akan nyuruh orang buat ngawasin dia” ujar Thio mengambil dokumen di depan raka, dia segera menghubungi seseorang yang di kenalnya untuk mengawasi Adelia yang tengah berada di restoran hotel milik keluarga Wiguna.


Raka meraih laptop miliknya, lalu menghidupkan program CCTVV yang terakses di laptop miliknya. Dia dan Bima menatapi laptop Raka yang tersambung pada salah satu CCTV yang memperlihatkan Adelia yang tengah bertemu dengan klien.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2