Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 111


__ADS_3

Nicholas memilih duduk kembali di ruang tunggu, para anak buahnya saling berpandangan heran melihat bos mereka yang tidak jadi masuk ke dalam kamar perawatan itu. Salah satu dari mereka pun memberanikan diri untuk bertanya,


“Boss... Why don't you come in. What do we need... (Bos... Kenapa anda tidak jadi masuk. Apa perlu kami...)” tanya salah seorang anak buah yang langsung terdiam saat mata tajam itu menatap ke arahnya.


“no need, let me see him later(tidak usah, biar nanti saja aku menemuinya)” ujar Nicholas, matanya kembali menatap ke arah pintu ruang perawatan yang tertutup rapat.


Adiwijaya dan Wiyasa masih menunggu jawaban dari Sabrina yang terlihat ragu-ragu,


“Ada.... Apa nduk? kenapa.... kamu ... terlihat ragu-ragu...” tanya Wiyasa tersenyum lemah ke arah putrinya, dia merasa jika Sabrina saat ini malu-malu catty. Wulan dan lainnya saling berpandangan satu sama lain,


“pak de... itu.... hmmmm itu...” Asmirah terlihat ragu untuk memberi tahu kebenaran pada Wiyasa.


Adiwijaya menatap cucu kesayangannya yang duduk di samping ranjangnya, wajah cantik itu terlihat bingung dan khawatir. Tangan kiri yang terpasang infus perlahan menempel di pipi kiri Sabrina, belaian lembut dan hangat dari tangan itu membuat gadis cantik itu menatap Adiwijaya. Mata indah itu tampak berkaca-kaca menatap Adiwijaya ,


“ada.... apa... sebenarnya... nduk...? di mana... Raka... suami... mu” tanya Adiwijaya menanti jawaban dari cucu kesayangannya. Sabrina hendak menjawab pertanyaan Adiwijaya terhenti saat terdengar ketukan pintu kamar perawatan itu.


“Assalamualaikum” sapa Andhini dan lainnya hampir bersamaan, raut wajahnya terlihat senang saat melihat suami dan bapaknya telah sadar.


Andhini dan keluarga Adiwijaya yang lain sangat senang saat mendengar kabar dari Wulan jika Adiwijaya dan Wiyasa sudah terbangun dari tidur mereka. Tanpa membuang waktu mereka pun bergegas ke rumah sakit dengan penuh suka cita.


“bapak.. mass....” Andhini dan lainnya segera menghampiri, Sabrina berdiri dari duduknya memberi ruang untuk keluarga lainnya bertemu dengan Adiwijaya dan Wiyasa. Sabrina memilih keluar dari ruang perawatan dan menutup pintu kamar itu.

__ADS_1


Nicholas melihat Sabrina keluar dari kamar perawatan itu segera berdiri dari duduk dan menghampiri perempuan cantik itu. Salah seorang Anak buah Nicholas akan mengikuti bosnya seketika terhenti saat anak buah lainnya memegang pundaknya.


“wait, bro. Where are you going? Can't you see the boss wants to talk to the boss lady?!(tunggu, bro. Mau ke mana? Kamu tidak lihat jika bos ingin berbicara dengan nona bos?!)” ujar Anak buah itu pada rekannya menatap langsung pada Nicholas yang kini berdiri di depan Sabrina.


“Sabrina, i... (Sabrina, aku...)” Nicholas menatap lama wajah cantik Sabrina. Ada rasa berat dan sakit di hatinya yang harus pergi meninggalkan Sabrina, di hati kecilnya dia tidak ingin pernikahan mereka berakhir. Namun, demi kebahagiaan perempuan yang sudah berhasil mencuri hatinya dia harus menyanggupi untuk melepaskan Sabrina agar dapat bersatu dengan Raka.


“ya, si... I mean Nick. Is there anything you want to talk about? (ya, tu... maksud ku Nic. Apa ada hal yang ingin kamu bicarakan?)”


“I have to go back, something has happened in my Residence. As soon as possible I will send this marriage annulment letter so that you can be together with Mr. Raka, I hope you are happy with your true love (aku sudah harus kembali, sesuatu sudah terjadi di Kediaman ku. Secepatnya aku akan mengirimkan surat pembatalan pernikahan ini agar kamu bisa bersama dengan Tuan raka, semoga kamu berbahagia dengan cinta sejatimu)” ujar Nicholas mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Sabrina yang terdiam mendengar keputusannya.


Dalam hati kecil Sabrina sangat tidak menginginkan terjadinya perpisahan, namun dia tidak bisa membohongi hatinya yang masih memiliki rasa pada Raka. Akan sangat tidak adil baginya dan Nicholas jika pernikahan itu di teruskan, dia terlihat bingung dan sedih. Mata elang itu menatap teduh ke arah Sabrina, rasa sakit dan pedih begitu terasa di hatinya.


ya Allah.... apakah harus berakhir seperti ini? Tuan Nicholas sudah begitu mantap dengan keputusannya, tapi... kenapa hati ini terasa tidak begitu ikhlas? Ada rasa sakit yang sangat terasa di sini... gumam Sabrina dalam hati, kedua tangannya saling berpegangan dan mendekap di dada matanya tampak berkaca-kaca. Nicholas menatap mata itu, ada luka yang menganga lebar terbentuk di hatinya saat buliran air mata jatuh menetes di pipi Sabrina.


Sesaat mereka berdua larut dalam pikiran mereka masing-masing, saling menatap seolah mata mereka berdua saling berbicara dari hati ke hati. Anak Buah Leon mendapat telepon dari Jack yang sudah sedari tadi menghubungi Nicholas, namun panggilan darinya sama sekali tidak di angkat. Akhirnya Jack menghubungi anak buah yang bersama dengan Nicholas. Dia menyuruh anak buah itu untuk memberi tahu jika mereka sudah di bandara dan pesawat pribadi miliknya sudah siap sedia.


Para anak buah Nicholas segera menghampiri bos mereka yang masih saling menatap, tangan kanan Nicholas lebih tepatnya punggung jarinya membelai pipi Sabrina dengan lembut. Mereka begitu larut dalam suasana yang begitu romantis hingga melupakan orang-orang di sekitar yang mulai memandangi mereka.


“boss... (bos...)” sapa salah satu anak buah Nicholas yang sama sekali tidak di dengarnya. Para anak buah saling berpandangan, lalu salah satu anak buah lainnya mendorong anak buah yang menyapa Nicholas untuk Kembali memanggil bos mereka.


“Boss...(bos...)” panggilnya kembali yang membuat sepasang sejoli itu tersadar. Tangan kanan Nicholas turun dan masuk ke dalam saku celananya, wajah tampannya segera berpaling ke arah anak buahnya.

__ADS_1


“what is it?! (ada apa?!)” tanya Nicholas bersikap dingin mencerminkan sebagai mananya seorang pemimpin mafia.


“Jack's brother just contacted us with a message for the boss. he said it's time boss (kakak Jack baru saja menghubungi kami dan berpesan untuk bos. dia berkata sudah waktunya bos)” ujar salah satu anak buahnya. Nicholas menatap jam di pergelangan tangannya, dia lalu menatap ke arah Sabrina.


“it's time... I say goodbye.... bye Sabrina... (sudah waktunya... aku pamit.... selamat tinggal Sabrina...)” ujar Nicholas pada Sabrina, terlihat sangat jelas luka dan kesedihan di mata tajam itu. Pria karismatik itu lalu membalikkan tubuhnya melangkah menuju lift yang kebetulan berhenti di lantai tempat Adiwijaya dan Wiyasa di rawat.


Sabrina menatap sedih kepergian Nicholas, air matanya kembali menetes di pipi yang memerah karena tangisannya. Akibat ulah Arman dan keluarga dalam satu hari sudah banyak hati yang terluka, Sabrina tidak tahu harus menyalahkan siapa.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2