Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 134


__ADS_3

Sabrina merasa sangat rileks perlahan membuka matanya, dia merasakan tangan kekar memeluk pinggangnya posesif. Sebelah tangan Nicholas yang lain menyiram perlahan ke arah tubuh Sabrina, sambil membasahi pundak dan rambutnya.


Sesekali dia menciumi kening Sabrina, tangannya yang di pegang Sabrina perlahan di lepaskan lalu meraih Rambut Sabrina yang tergerai panjang untuk menaruh di samping pundak kiri. Tanpa sengaja mata Nicholas melihat bekas Luka bakar tepat di punggung Sabrina, jari jemarinya menyentuh bekas luka bakar itu dengan pertanyaan di benaknya.


“this... (ini...)” tangan Nicholas membelai bekas luka itu. Sabrina duduk dengan kedua lutut merapat ke dada, dia menunduk sedih teringat masa kecilnya.


“please don't look, this wound looks so disgusting and... (tolong jangan di lihat, luka ini terlihat begitu menjijikkan dan...)” ucapan Sabrina terhenti saat kedua tangan kekar itu memegangi lengannya, perlahan bibir Nicholas mengecup lembut bekas luka bakar itu berkali-kali. Mata indah Sabrina terbuka lebar saat merasakan kecupan lembut itu, wajahnya terangkat lalu membalikkan tubuhnya menatap ke arah Nicholas.


Sabrina menatap wajah Nicholas, tangan kekar itu meraih tangan Luna mengarahkannya menyentuh bekas luka yang ada di tubuhnya.


“I also have scars all over my body. Would you be disgusted to see it? (aku juga memiliki bekas luka di sekujur tubuh ku. Apa kamu akan merasa jijik melihatnya?)” Nicholas memegang tangan Sabrina yang menyentuh bekas luka di tubuhnya.


Sabrina terpesona menatap ke dada bidang Nicholas yang terlihat sempurna, mata indahnya memperhatikan dengan seksama setiap luka yang ada di tubuh pria tampan itu.


Ini luka tembak.... ini luka bakar dan luka ini bekas dari sabetan benda tajam.... gumam Sabrina dalam hati memperhatikan setiap luka Nicholas yang menatap menunggu jawaban darinya.


"what do you think? Isn't this wound more sinister and looks disgusting? (bagaimana menurutmu? bukankan luka ini lebih menyeramkan dan terlihat menjijikkan?)" Nicholas menatap wajah cantik Sabrina.


Perlahan Sabrina menggelengkan kepalanya, senyuman tersungging di bibir Nicholas tangan kirinya lalu menarik tubuh Sabrina untuk lebih mendekat ke arahnya.


Tanpa terduga king kobra sedikit tersentak dari tidurnya dan mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Mata indah Sabrina menatap ke arah Nicholas yang membalas menatapnya kembali,


“Don't worry, I won't ask for it. It's better now we clean ourselves to pray (tenang saja, aku tidak akan memintanya. Lebih baik sekarang kita membersihkan diri untuk melaksanakan shalat)” ujar Nicholas akan membantu Sabrina bangun.


“You go first, I'll follow soon (kamu saja lebih dahulu, sebentar lagi aku akan menyusul)” ujar Sabrina sambil tersenyum manis pada Nicholas.


“allright honey... (baiklah sayang)” ujar Nicholas sambil mencium kening Sabrina lalu beranjak keluar dari bath up.


Pipi Sabrina merah merona saat melihat sesuatu yang sudah halal baginya, dia belum terbiasa dengan pemandangan itu memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Nicholas lalu melakukan ritual mandinya di ruangan shower, lalu setelahnya dia keluar dari kamar mandi dengan handuk hitam yang melingkar di pinggangnya. Tubuhnya terlihat kekar dengan perut sixs pack yang menggoda iman, Nicholas lalu melangkah menuju walk in closet untuk mengenakan pakaiannya.

__ADS_1


Setelah memastikan Nicholas pergi Sabrina dengan sangat pelan-pelan mulai bangkit dari Bath up. Dia melangkah dengan tertatih-tatih menuju ruang shower untuk melakukan ritual mandinya, walaupun masih merasa sakit tidak menyurutkannya untuk melaksanakan perintah agama.


Nicholas sudah berpakaian dia lalu melangkah keluar kamar menuju kamar Sabrina yang berada di sebelahnya. Dia mengambil perlengkapan shalat Sabrina, setelahnya kembali ke kamarnya dan meletakkan perlengkapan Shalat di atas sofa.


Dia melihat Ranjang yang terlihat seperti kapal pecah, dia pun segera menari seprai itu dan terdiam sesaat melihat bercak darah di seprai itu.


Aliran air shower masih terdengar dari kamar mandi, Nicholas bergegas mengganti seprai itu dengan yang baru termasuk juga selimutnya. Setelahnya dia mengambil seprai yang kotor itu untuk di letakkan di tumpukan pakaian kotor, dia lalu melangkah menuju keluar kamar sekali lagi mengambil minuman untuk mengatasi kerongkongannya yang kering.


Sabrina membalut tubuhnya dengan handuk yang tersedia di kamar mandi,


Pakaianku... pakaianku ada di mana? Gumam Sabrina yang tidak menemukan pakaiannya di lantai, dia melangkah mengelilingi kamar sambil terus mencari pakaiannya. Langkah Sabrina terhenti saat dia menemukan walkin closet, dia lalu membuka salah satu lemari dan menemukan kemeja milik Nicholas. Dia langsung meraih salah satu kemeja hitam dan langsung memakainya.


Aku pakai ini saja sementara ujar Sabrina sambil mengenakan kemeja hitam Nicholas yang kebesaran, dia lalu mengenakan perlatan shalat dan duduk di atas sajadah menunggu suaminya kembali.


Tidak berapa lama Nicholas masuk ke kamar mendapati Sabrina yang menunggunya, dia tersenyum ke arah Sabrina lalu berdiri di depan sajadah yang sudah terkembang untuknya. Mereka pun melaksanakan ibadah shalat subuh berjamaah dengan khusyuk.


****


“kak Raka...” Bima terlihat sangat khawatir,


“di mana....ini?” tanya Raka memperhatikan ke sekelilingnya.


"kita ada di rumah sakit kak” ujar Bima memberi tahu Raka.


“apa yang terjadi?” ujar Raka berusaha untuk bangkit dari ranjang rumah sakit. Dia melihat ke arah samping tempat tidurnya di mana Thio masih terlelap,


“kita hampir saja terjebak dengan perangkap Roy dan Adelia, kak” ujar Bima membuat Raka menatap ke arahnya.


“terjebak? Apa... maksud kamu ... Bim?” tanya Raka menatap ke arah adiknya.


“kak, sebaiknya hal ini biarkan gadis itu yang menjelaskan” ujar Bima akan beranjak menuju ke pintu kamar rawat inap Raka.

__ADS_1


“gadis? Gadis siapa?” tanya Raka penasaran, dia menatap heran Bima yang seperti memanggil seseorang di luar kamar.


Bima kembali menghampiri Raka dengan seorang gadis yang ternyata adalah waiter yang mengantar mereka ke ruang pertemuan, kening Raka berkerut tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


“ Dia?!” Raka menatap bingung ke arah gadis itu.


“nona ini bernama Dewi kak, dia salah satu staff di hotel itu” ujar Bima memperkenalkan gadis waiter yang bernama Dewi.


“ nona Dewi tolong jelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi” Bima mempersilahkan Dewi untuk menjelaskan apa yang di ketahuinya.


Semula Dewi terlihat ragu-ragu lalu dia mulai menceritakan apa yang terjadi saat Raka dan lainnya tidak sadarkan diri.


“sebenarnya, sesaat sebelum tuan datang. Ada seorang pria yang mengaku dirinya asisten dari salah satu tamu VVIP yang memesan ruangan untuk makan malam. Asisten itu juga mengatakan jika tamu yang makan malam adalah orang penting jadi tidak sembarangan waiter yang melayani....” Dewi menceritakan apa saja yang diketahuinya.


Teman Dewi yang seharusnya melayani tamu penting mendadak di ganti dengan pegawai DW yang sama sekali tidak mereka kenal oleh Asisten itu, hal itu begitu mencurigakan bagi Dewi dan anggota staff lainnya. Namun anggota staff lainnya tidak ingin ikut campur dan memilih membiarkan saja. Hanya Dewi merasakan ada sesuatu yang tidak beres diam-diam menyelidiki apa yang terjadi.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2