Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 91


__ADS_3

“bagaimana situasinya” tanya dokter Adrian pada dokter jaga itu.


“kami sedang menunggu laporan tes darah dari kedua pasien, tapi keadaan pasien sangat kritis. Kami hanya bisa menanganinya semampu kami” ujar Dokter itu pada Adrian. Sabrina jatuh terduduk lemas di samping ranjang Wiyasa, para perawat segera membantunya untuk duduk di kursi yang tersedia.


Saat dia memeriksa Wiyasa, Sabrina menyadari jika bapaknya kini dalam kondisi kritis.


“Sabrina” Adrian menghampiri Sabrina, memegang pundaknya untuk menenangkan.


“biar om yang memeriksa bapakmu, lebih baik sekarang kamu menunggu di sini” Adrian mengambil stetoskop yang di pegang Sabrina, Dia segera kembali memeriksa Wiyasa.


Pantas saja Sabrina terpukul, kondisi tuan Wiyasa sama persis dengan Tuan Adiwijaya... sebenarnya apa yang terjadi? kenapa mereka berdua bisa sakit bersamaan? Gumam Adrian menatap pasien, warna wajah kedua pasien tampak mulai membiru walau belum tampak begitu jelas.


Adrian menyelesaikan pemeriksaannya lalu menghampiri Sabrina kembali.


“bagaimana keadaan bapak dan eyang, om?” tanya Sabrina.


“seperti yang kamu liat, kondisi bapak dan eyangmu sangat kritis...” penjelasan Adrian terhenti saat perawat datang dengan membawa file laporan hasil tes darah kedua pasien.


Perawat itu segera menyerahkan hasil laporan ke tangan dokter jaga yang langsung di baca olehnya. Mata dokter itu terbuka lebar saat mengetahui apa yang terkandung dalam darah Adiwijaya dan Wiyasa. Dia segera memperlihatkan hasil laporan itu pada Adrian dan Sabrina.


“astagfirullah ini...” Sabrina terkejut melihat laporan itu di mana bapak dan eyangnya sudah keracunan dengan jenis racun langka.


“racun ini seharusnya sudah menghilang sepuluh tahun yang lalu, kenapa bisa racun ini ada dalam darah kedua pasien” Adrian ikut terkejut.


“ sejauh yang aku tahu, racun ini memang sudah di musnahkan tapi...” dokter itu terdiam sejenak, terdengar keributan di depan pintu ruang IGD.


“sabrina kamu di sini dulu, biar om melihat apa yang terjadi di luar. Om akan menjelaskan pada keluarga yang lain kondisi bapak dan eyangmu” Adrian melangkah ke pintu IGD meninggalkan Sabrina.


“ om... racun ini sudah lama hancur dan tidak seorang pun tahu keberadaannya” ujar Sabrina, dia teringat saat masih kuliah dosennya pernah menyinggung penelitiannya tentang racun ini.

__ADS_1


“sebenarnya untuk mendapatkan racun berbahaya seperti ini sangatlah mudah jika membelinya di pasar gelap. Racun seperti ini akan di jual komplit dengan penawarnya, jika tidak secepatnya mendapatkan penawar...” Dokter itu kembali terdiam membuat Sabrina tahu konsekuensi jika terlambat memberi penawarnya.


Di depan ruang IGD, Araf terlihat sangat marah dan emosi hendak mencari Arman dan keluarganya. Wulan segera mencegah niat Araf, dia tidak ingin putranya salah langkah yang nantinya menjadi bumerang untuk mereka.


“Araf, kamu tenang dulu nak. Jangan gegabah, kita tunggu Sabrina keluar dari ruang IGD...” ujar Cakra memegagn pundak putranya.


“Araf nggak bisa diam pa, Araf yakin kalo dia udah bikin eyang dan pak de seperti sekarang. Araf sudah ” Araf tampak emosi, Yusuf memegang lengan sahabatnya.


Pintu IGD terbuka, Adrian keluar baru keluar dari ruangan itu segera di serbu oleh keluarga Adiwijaya dan keluarganya.


" semuanya, harap tenang. Apa yang aku sampaikan ini pastinya akan membuat semua bersedih...” Adrian lalu menjelaskan kondisi Adiwijaya dan Wiyasa pada kedua keluarga. Ningsih dan Andhini langsung ambruk saat mendengar kabar kondisi masing-masing suami mereka.


Araf dan anggota keluarga pria yang lain segera membantu menggendong dan membawa ke ruang perawatan. Adrian dan dokter yang lainnya segera bertindak, seluruh keluarga menemani Andhini dan Ningsih yang tidak sadarkan diri.


Sabrina tampak terkejut dan shock saat mendengar Araf yang menyinggung Arman, dia melihat ke arah Wiyasa dan Adiwijaya. Setetes bening jatuh dari mata jernih itu, perawat datang menghampiri Sabrina membawa barang-barang milik eyang dan bapaknya.


Ponsel milik Wiyasa ada di tangan Sabrina, dia segera membuka ponsel mencari di panggilan keluar. Satu nomor asing tertera di sana, baterai ponsel milik Wiyasa sudah hampir habis. Sabrina segera menyalin nomor ponsel itu dan menghubunginya langsung.


“Halo” terdengar suara pria yang sangat di kenal Sabrina, suara papanya yang membuang dan melupakannya.


“pa....” Sabrina sedih, air matanya menetes ke pipi saat melihat kondisi Adiwijaya dan Wiyasa semakin kritis.


Arman yang mendengar suara Sabrina di seberang sana tersenyum smirk , dia sudah menduga jika secepatnya Sabrina akan menghubunginya.


“aku sudah menduga jika kau akan menghubungi, tapi aku tidak menduga jika kau akan menghubungiku secepat ini. Berarti... kondisi tua bangka dan pria sok alim itu sudah sekarat” ujar Arman membuat Sabrina kembali terpukul.


“jadi....”


“iya... aku yang sudah meracuni tua bangka dan pria sok alim itu. Jika kamu ingin mereka berdua selamat, malam ini datang ke alamat yang akan aku kirim sebentar lagi. Kau harus datang sendiri, jika aku melihat ada orang yang mengikuti atau kau melaporkan pada keluarga breng**k itu ucapkan selamat tinggal kepada mereka yang kini terbaring di tempat tidur saat ini” ujar Arman langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

__ADS_1


Sabrina dilema dan tidak tahu harus berbuat apa, dia melihat layar ponselnya yang baru saja menerima sebuah pesan. Jarinya yang lentik segera membuka kode ponselnya dan membaca pesan dari Arman.


Tidak usah berpikir lagi Sabrina.... saatnya sekarang mengambil tindakan gumam Sabrina dalam hati melangkah keluar ruang IGD menuju pelataran rumah sakit. Saat akan berangkat terdengar kumandang azan magrib, dia lebih memilih mengerjakan kewajibannya terlebih dahulu. Dia melangkahkan kakinya menuju mushalla terdekat dengan rumah sakit, perasaannya benar-benar kacau saat ini. Tidak ada tempat mengadu selain hanya kepada-Nya yang selalu memberikan jalan terbaik untuk umat-Nya.


***


Anjani dan Asmirah keluar dari ruang perawatan Ningsih juga Andhini, mereka hendak ke ruang IGD mengajak Sabrina untuk sholat bersama. Saat membuka pintu IGD mereka termenung karena tidak mendapati siapa pun di ruangan itu. Seorang perawat masuk hendak mengambil laporan yang tertinggal di ruangan itu.


“maaf kak... dua pasien dan dokter Sabrina ke mana?” tanya Asmirah heran.


“maaf anda?” Perawat itu kembali bertanya pada Anjani dan Asmirah.


“Kami berdua keluarga pasien, adik dari dokter Sabrina” ujar Asmirah memperkenalkan diri mereka.


“mohon maaf sebelumnya mbak, kedua pasien sudah di pindahkan ke ruang ICU untuk perawatan lebih intensif. Kalo dokter Sabrina sedari tadi kami masuk untuk memindahkan pasien tidak ada siapa pun di sini” jelas perawat itu kembali.


“mbak, coba telepon ke hp mbak Sabrina. terima kasih banyak ya mbak” ujar Asmirah sambil berterima kasih pada perawat itu yang langsung undur diri. Anjani segera menghubungi ponsel Sabrina, telepon itu masuk tapi tidak ada yang mengangkat.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2