Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 76


__ADS_3

Wiyasa dan Cakra merebahkan tubuh mereka yang penat karena harus menaiki anak tangga dengan setengah berlari. Mereka tidak bisa membohongi diri lagi karena faktor umur mempengaruhi stamina mereka.


“nduk... Ibu keluar dulu sebentar yo” Andhini mengecup sebentar kening putrinya lalu izin keluar ke Wiyasa. Setelah mendapat izin Andhini keluar kamar perawatan, dia lalu menekan tombol lift menuju lobi rumah sakit.


Di dalam kamar perawatan Sabrina terasa sangat jelas kecanggungan antara Sabrina dan Raka. Sabrina tahu jika saat Raka sangat tidak senang ada pemberian dari pria lain untuk dirinya. Wiyasa dan Cakra juga merasakan apa yang di rasakan oleh pasangan muda itu.


Mereka ingin memecah suasana canggung, tapi tidak tahu harus berbicara apa. Suasana terasa sangat sunyi, Raka memilih duduk di sofa single tepat di samping Cakra. Wiyasa yang semula duduk di samping Cakra berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Sabrina. Dia menyangka Raka akan duduk di kursi samping ranjang Sabrina, tapi dia tidak menyangka jika Raka memilih duduk bergabung dengannya dan Cakra.


Maafkan mas... Sabrina. Mas tidak marah atau kesal padamu, tapi mas lebih menghargai orang tua kita. Mas berusaha untuk bersabar sampai hari di mana mas bersumpah dan berjanji di Hadapan Allah menjadikan mu pendamping hidup mas gumam Raka dalam hati, sebenarnya dia ingin duduk di samping Sabrina menenangkan dan menghiburnya.


Namun, Raka sadar dengan batasannya, dia tahu jika saat ini orang yang sangat dibutuhkan oleh Sabrina adalah Wiyasa dan Andhini. Raka menatap ke arah Sabrina yang tersenyum manis untuknya, seolah-olah dia tahu dengan apa yang di pikirkan oleh Raka.


“assalamualaikum” sapa Andhini masuk ke kamar perawatan Sabrina dengan menenteng satu tas kresek besar. Di dalamnya ada beberapa air mineral dan makanan untuk di santap oleh mereka.


“waalaikum salam” sapa mereka serentak, Andhini meletakkan tas kresek itu di atas meja depan sofa yang di duduki Raka dan Cakra.


“ini nak Raka” Andhini memberikan sebotol air mineral pada Raka yang langsung di balas senyuman manis darinya.


“dek Cakra ini... ” Andhini memberikannya juga pada Cakra yang tampak sangat letih.


“makasih mbak...” ujar Cakra segera membuka tutup botol dan mengucapkan basmalah sebelum meminumnya. Tidak lupa Andhini juga memberikan air mineral pada Wiyasa suaminya.


“ini mas” ujar Andhini,


“makasih ya dek, bismillah...” ujar Wiyasa setelah membuka tutup botol air mineral dan meneguknya dengan pelan.


“alhamdulillah... ( Wiyasa melirik ke arah jam tangan yang menunjukkan sudah masuk waktunya shalat ashar) dek mas ke bawah dulu ya, sudah waktunya ashar” ujar Wiyasa bangkit dari tempat dia duduk.

__ADS_1


“aku juga ikut om” ujar Raka meletakkan botol air mineralnya di atas meja. Merasa sudah cukup segar Cakra berdiri dari tempat duduknya, mengikuti Raka dan Wiyasa yang sudah lebih dulu melangkah keluar dari kamar perawatan Sabrina.


Andhini duduk di kursi samping ranjang Sabrina sambil mengupas buah untuk bisa di santap oleh putrinya. Sabrina menatap Andhini yang begitu sangat menyayanginya, ada perasaan bersalah di hati Sabrina saat melihat tangan yang di lukainya sendiri.


“buk....”


“hmmm... Iya sayang” Andhini menatap Sabrina tersenyum sejenak padanya, lalu melanjutkan mengupas buah.


“sabrina minta maaf buk.... Sudah bertindak bodoh membuat semua kuatir” Sabrina menundukkan kepalanya sedih. Andhini menghentikan pekerjaannya, meletakkan buah yang belum terpotong di atas lemari kecil samping ranjang putrinya.


“nduk.... Ibu ndak marah ato pun kesal padamu. Ibu mengerti bagaimana terlukanya perasaanmu” Andhini memeluk dan membelai lembut kepala putrinya. Air mata Sabrina menetes kembali sedih teringat dengan ucapan ayah kandungnya sendiri.


Perlahan Andhini melepaskan pelukannya, menatap wajah putrinya yang telah basah oleh air mata. Kedua tangan Andhini menyeka air mata itu, tersenyum hangat dan menenangkan Sabrina.


“Nduk.... maafkan ibu jika apa yang ibu sampaikan akan membuat kamu sedih dan marah” Andhini menatap kedua mata jernih Sabrina. Ada pertanyaan besar di benaknya saat melihat Andhini yang begitu serius.


“ibu tahu kamu marah dan kesal pada papa mu. Kamu bahkan mengambil keputusan terberat dalam hidupmu, nduk.... Walau bagaimana pun dia adalah papa kandung mu. Maafkanlah kesalahannya” ujar Andini sambil memegang tangan Sabrina yang termenung mendengar ucapan ibunya.


“Buk...”


“Sayang, seburuk-buruknya perbuatan papa kepadamu. Dia tetap papa kandungmu, kita tidak bisa pungkiri hal itu. Memaafkan dan ikhlas akan membantu mu keluar dari masa lalu dan ketakutanmu” Andhini tahu jika apa yang di bicarakannya akan membuat Sabrina sedih. Dia bisa saja membuat Sabrina semakin membenci dan menjauhi Arman, tapi hal itu tidak di lakukannya.


Sebagaimana nasihat bijksana Adiwijaya, untuk selalu memaafkan orang lain walaupun perbuatannya sudah sangat salah. Adiwijaya selalu berucap, “Allah saja maha pemaaf di saat kita terus melakukan kemaksiatan. Terus memberikan kita kesempatan untuk berubah, lalu kita sebagai umat-Nya bersikap angkuh tidak mau memaafkan antar sesama. Perbuatan mereka memang salah biarlah Allah yang membalasnya, sabar dan percaya selalu ke pada-Nya....”


Nasihat itu juga di berikan pada Sabrina, sabar dan selalu ingat jika Allah tidak pernah tidur. Sabrina menatap Andhini lama, dia bukanlah ibu yang melahirkannya. Namun dia selalu memberikan kasih sayang, kehangatan dan mengajarkan untuk menjadi pribadi yang baik selayaknya ibu kandung.


“Bu...” panggil Sabrina pada Andhini, dia tersenyum hangat. Andhini tahu jika saat ini Sabrina merasa bimbang, dia bisa saja tidak memaafkan Arman. Namun, hati nuraninya berkata lain, Andhini menatap mata Sabrina terlihat jelas ada luka dan kepedihan di hati putrinya.

__ADS_1


“kalo kamu belum bisa dan siap memaafkan papamu, ndak apa-apa nduk. Seiring berjalannya waktu kamu bisa belajar untuk memaafkannya” Andhini membelai lembut wajah Sabrina. Dia hendak beranjak dari tempat duduknya, namun tertahan karena Sabrina memegangnya.


“Buk....Sabrina sayang ibu” Sabrina memeluk tubuh Andhini yang tersenyum dan membelai kepalanya penuh kasih sayang.


“ ibu juga menyayagimu nak (membalas memeluk Sabrina dengan erat ) Sekarang lebih baik kita sholat, sudah ashar nanti keburu abis waktunya” ujar Andhini melepaskan perlahan pelukan mereka, sebelah tangannya membelai wajah cantik putrinya.


Mata Sabrina menatap ke arah bunga mawar dan buah-buahan pemberian Nicholas, dia menatap kembali pada Andhini.


“ buk.... Sabrina mau minta tolong” pinta Sabrina.


“apa itu sayang?” tanya Andhini pada putrinya. Sabrina melihat ke arah sekeranjang buah dan bunga cantik itu, dia merasa tidak nyaman dengan benda pemberian Nicholas. Andhini mengerti dengan keinginan putrinya, dia lalu menganggukkan kepala.


“ibu tahu sayang, nanti ibu akan membawanya untuk di berikan kepada yang lebih membutuhkan” ujar Andhini membelai lembut kepala putrinya yang tertutup hijab.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2