
“Niiiic.... so ticklish.... let go... hahaha... I beg you Nic.... ticklish.... (Niiiic.... sangat geli.... lepaskan... hahaha... aku mohon Nic.... geli....)” Ujar Sabrina segera mendudukkan tubuhnya, sebelah tangannya memegangi selimut tebal untuk menutupi tubuh bagian atas yang belum mengenakan apa pun.
“Nicholas... Please... (Nicholas... Ku mohon...)”ujar Sabrina terkejut saat Nicholas merengkuh tubuh Sabrina menarik lalu mendudukkan di atas pahanya, wajah Sabrina yang merajuk terlihat begitu menggemaskan oleh pria tampan yang sangat terkenal di dalam dunia mafia.
Dia menatap wajah cantik Sabrina lalu membelainya dengan lembut, tersenyum manis dan hangat sehangat mentari pagi.
“Nic...” mata Sabrina menatap ke arah Nicholas dengan tatapan memohon. Ada sesuatu yang mengganjal di rasakan olehnya,
“hmmm” Nicholas bergumam mendekatkan wajahnya ke arah pipi leher yang sudah di penuhi lukisan abstrak, bibir pria tampan itu mengecup dengan lembut. Sabrina memejamkan matanya saat kecupan menjelajahi, perlahan kedua tangan gadis cantik itu menyentuh pipi Nicholas.
Sabrina memegangi wajah Nicholas lalu mereka berdua saling bertatapan, perlahan bibir Nicholas mengecup lembut bibir Sabrina.
“Nic” Sabrina menatap Nicholas yang membalas menatapnya, sebelah tangannya mencubit lembut pipi gadis cantik itu.
“take it easy Brina honey, I won't do it but.... I can't guarantee 'that thing' will happen again if you keep moving (tenang saja Brina sayang, aku tidak akan melakukannya tapi.... Aku tidak bisa menjamin ‘hal itu’ akan terjadi lagi jika kamu terus bergerak)” ujar Nicholas tersenyum nackal. Mendengar hal itu langsung membuat Sabrina mematung dan tidak berani bergerak sama sekali, Nicholas tersenyum nackal menatap istrinya yang mulai merajuk.
“Nic.... let me rest for a while.... There... there... Still... (Nic.... biarkan aku beristirahat sejenak.... Di sana... di sana... Masih...)” Sabrina menundukkan dan menyembunyikan wajahnya yang merona.
“I'm just kidding baby, seeing you like this makes me want to keep hugging and hiding you from everyone ... Now accompany me to breakfast, okay (aku hanya bercanda sayang, melihat mu seperti ini membuatku ingin terus memeluk dan menyembunyikanmu dari semua orang (mengecup lembut pipi sabtina) Sekarang Temani aku sarapan, oke)” ujar Nicholas menatap gadis yang duduk di pangkuannya. Mata elang Nicholas mengode melihat ke arah meja kecil yang terletak di atas meja kaca depan sofa itu, Sabrina mengalihkan pandangannya ke arah sarapan pagi yang asapnya masih terlihat.
Sabrina kembali menatap ke arah Nicholas ,
“okay, I'll take a shower first (baiklah, aku mandi dulu)” ujar Sabrina hendak turun dari pangkuan Nicholas, kedua tangan kekar itu memeluk pinggang ramping Sabrina menahannya untuk turun.
“Nic... If you hold me back, when are we going to have breakfast (Nic... Jika kamu menahan ku terus, kapan kita akan sarapannya)” protes Sabrina kembali memegangi pundak Nicholas.
“You don't come down, let me walk you to the bathroom. I know your legs still feel weak and there may still be pain and discomfort (kamu jangan turun, biar aku mengantarmu ke kamar mandi. Aku tahu kaki kamu masih terasa lemas dan bagian sana mungkin masih sakit juga tidak nyaman)” ujar Nicholas sambil memeluk erat pinggang Sabrina, gadis cantik itu hanya bisa menganggukkan kepala pasrah dengan perlakuan lembut suaminya.
__ADS_1
Nicholas meraih jubah piyamanya lalu dengan telaten membungkus tubuh Sabrina, dia lalu membopong tubuh istrinya menuju kamar mandi. Sesampai di kamar mandi, Nicholas mendudukkan Sabrina di toilet duduk yang tertutup.
“do you need me to help you take a shower? (apa perlu aku membantumu mandi?)” tanya Nicholas menatap ke arah Sabrina yang langsung menatap ke arahnya dengan tatapan terkejut.
Senyuman nackal kembali tersungging di wajah tampan itu,
"Honey, we've had a beautiful night together. Why do you still feel ashamed of me (Sayang, kita sudah melewati malam yang indah bersama. Kenapa kamu masih merasa malu pada ku)” Nicholas menatap Sabrina yang juga membalas menatapnya. Sabrina hanya diam namun menunjukkan wajah merajuk yang terlihat begitu menggemaskan,
“okay I won't tease you anymore, now you better take a shower. I'll be waiting for you outside, hmm (baiklah aku tidak akan menggodamu lagi, sekarang sebaiknya kamu mandi. aku akan menunggu mu di luar, hmm)” ujar Nicholas sambil mengecup lembut kening Sabrina. Dia lalu melangkah keluar dari kamar mandi dan tidak lupa menutup pintunya kembali, Nicholas duduk di sofa sambil memperhatikan layar ponsel miliknya.
Tok... Tok.... Tok...
Terdengar ketukan di pintu kamar Nicholas yang langsung berdiri dari tempat duduknya, dia melangkah menuju pintu kamar dan membukanya. Di depan pintu kamar Yohan dan beberapa maid berdiri memegangi beberapa barang milik Sabrina,
“wait a moment (Tunggu sebentar)” ujar Nicholas melihat sejenak ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Setelah memastikannya Nicholas mempersilahkan Yohan dan maid lain untuk masuk ke kamar, mereka segera bergegas masuk ke walk in closet Nicholas dan menata barang-barang milik Sabrina.
“ok young master (baik tuan muda)” ujar Yohan melangkah masuk ke dalam kamar Nicholas, langkahnya terhenti sejenak saat para maid masih mematung di depan kamar. Para maid termenung menatap penampilan Nicholas yang se hot jeletot, wajah tampan dan serius menatap layar datar ponsel menambah nilai pesonanya.
“What are you doing there? Let's hurry to work (Kalian sedang apa di sana? Ayo cepat bekerja)” ujar Yohan menyadarkan para maid dari rasa tersepona terhadap Nicholas, mereka segera bergegas masuk ke dalam walk in closet dan menata dengan rapi barang-barang milik Sabrina.
****
Adelia terbangun saat sinar matahari masuk dari celah kaca jendela membuat silau matanya, perlahan matanya membuka menyesuaikan dengan pemandangan di dalam ruangan itu.
“gue di mana?” ujar Adelia mulai memperhatikan sekelilingnya. Dia bangkit dari tidurnya dan menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang, dia masih memakai pakaian yang sama di pakainya semalam. Dia merasakan kepalanya sangat pusing,
Apa yang terjadi semalam? Kenapa gue berada di kamar sendirian? Seharusnya saat ini gue ada dalam pelukan mas Raka, gumam Adelia dalam hati mendapati dia sendirian di kamar dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
Braaak.....
Pintu ruangan itu mendadak di buka secara kasar oleh seorang pria yang tidak lain adalah Roy, dia terlihat sangat kesal dan marah. Asisten yang senantiasa mengikuti Roy tidak berani menatapnya, dia menundukkan wajahnya senantiasa berdiri di belakang Roy.
Pandangan Adelia terfokus pada wajah lebih tepatnya di pipi Asisten Roy yang terlihat memerah dan ada bekas darah di sudut bibirnya,
“ada apa ini Tuan Roy? Kenapa anda terlihat sangat marah dan di mana Mas Raka? Bukankah seharusnya semua berjalan sesuai dengan rencana?” Adelia menatap ke arah Roy yang memilih duduk di sofa kamar itu.
“rencana semuanya gagal karena ada yang mengacau. Saat mereka akan menjalankan sesuai rencana mendadak muncul wanita ja**ng yang menggagalkan aksi mereka” Roy tampak sangat kesal.
“Maaf bos semua terjadi di luar kendali kami” ujar Asisten Roy yang tampak sangat menyesal.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1