
“sebenarnya Araf dan lainnya ke bandara untuk mengantar.... (Sejenak menatap ke arah Raka) mengantar Sabrina untuk menemui tuan Nicholas yang akan kembali hari ini ke Australia...” Ningsih pun menceritakan secara detail hingga apa yang Mereka dengar dari pembicaraan Sabrian dan Nicholas.
Raka termangu mendengar apa yang di ceritakan Ningsih, terbesit rasa kagum di hatinya saat mendengar keinginan Nicholas untuk melepaskan ikatan pernikahan dengan Sabrina. Dia mengerti dengan pertimbangan keputusan yang di ambil keluarga Sabrina,
Aku tidak bisa membohongi perasaan ku yang sangat terluka dan sakit, kini aku merasa malu dengan apa yang di lakukan tuan Nicholas untuk kebahagiaan ku dan Sabrina. Dia bahkan rela memutuskan ikatan pernikahan yang baru beberapa jam berlalu, tidak... aku tidak boleh seperti ini gumam Raka dalam hati, dia bertekad untuk kembali bangkit dari lukanya.
Semua orang terdiam setelah mendengar cerita Ningsih, Candra dan lainnya mengerti juga memahami dengan keputusan yang di ambil Adiwijaya dan keluarga.
Tiba-tiba terdengar deringan ponsel milik Raka memecah keheningan di kamar perawatan Adiwijaya, Raka menatap layar ponselnya tertulis nama Thio asisten pribadinya.
“maaf eyang, opa aku harus mengangkat telepon ini dulu” Raka undur diri untuk keluar dari ruangan perawatan. Ibu jari raka segera menggeser icon tombol di layar ponsel mahal itu.
“Assalamualaikum,”
“ waalaikum salam bos, maap ni ganggu persiapan pernikahannya. Tapi ada sesuatu yang musti aku bicarakan denganmu” ujar Thio terdengar serius.
“Ada apa Thio?”
Thio segera menceritakan informasi apa yang di dengarnya saat berada di dalam pesawat. Kebetulan saat itu Thio melakukan penerbangan dari Bali kembali menuju Jakarta, namun karena ada kesalahan teknis dari pesawat membuatnya harus transit di Surakarta dan harus berganti pesawat.
Di saat itu sangat kebetulan sekali dia satu pesawat dengan Arman dan sekeluarganya, Thio juga duduk bersebelahan dengan Arman di bisnis class.
Awalnya Thio acuh tak acuh dan memasang earphone di telinganya untuk mendengar musik di ponselnya. Arman menatap ke arah pemuda di sampingnya memastikan jika dia tidak mendengar apa pun, setelah merasa yakin jika tidak ada yang menguping dia pun membicarakan rencana dengan Adelia dan Indah yang duduk di samping mereka.
Thio yang mendengar nama Raka di sebut menjadi penasaran, dia pun berlakon pura-pura tidak mendengar apa pun.
Raka... apa yang mereka maksud adalah Raka bos gua? Jika memang dia, informasi ini harus segera gua sampaikan ke Raka.... gumam Thio dalam hati.
“apa kamu mengenali mereka?”
“aku tidak yakin... tapi aku diam-dia sudah mengambil foto mereka.. sebentar akan aku kirimkan padamu sekarang" Thio segera mengirim foto yang di ambilnya secara diam-diam pada Raka yang terkejut saat mengenal orang yang ada di foto itu.
“Tuan Arman...” ujar Raka yang terdengar oleh Thio.
“Kamu mengenalnya?”
__ADS_1
“Iya aku mengenalnya, beliau adalah tuan Arman... beliau... ayah kandung Sabrina”
“haaa... whaaat? Kamu bercanda bukan?”
“aku tidak bercanda, saat aku kembali akan ku ceritakan semuanya”
“Baiklah, O ya setelah semua urusan beres di sini secepatnya aku akan menyusul ke sana sebelum hari H” Ujar Thio membuat Raka terdiam sejenak,
“pernikahan ku dengan Sabrina sudah di batalkan” Raka memandang pemandangan malam di balik kaca jendela rumah sakit. Thio sangat terkejut mendengar kabar itu,
“kenapa bisa batal? Bukankan semuanya berjalan baik-baik saja?” tanya Thio penasaran tingkat dewa.
"ceritanya panjang.... saat kembali akan aku ceritakan semuanya...” Raka tampak begitu serius berbicara dengan Thio, dia sama sekali tidak menyadari kedatangan Araf dan lainnya.
“mas, ada oppa Raka?!” ujar Asmirah tidak sengaja melihat Raka yang sedang menelepon dengan posisi membelakangi mereka.
“apa menurut mas, kak Raka udah tahu jika mbak Sabrina pergi menyusul tuan Nicholas?” tanya Anjani merasa tidak enak hati dengan kakak iparnya.
Araf hanya dia, mereka pun melangkah menuju ruang perawatan Adiwijaya. Di saat bersamaan Rak baru menyelesaikan pembicaraannya dengan Thio, dia berbalik dan pandangan mereka saling bertemu.
“ i... iya oppa... kami baru saja sampai” ujar Asmirah canggung. Raka dapat merasakan jika Araf dan adik-adiknya merasa tidak enak hati dan segan padanya.
“apa Sabrina...( terlihat ragu) apa Sabrina bertemu dengan tuan Nicholas?” tanya Raka pada Araf dan lainnya.
“i.... iya... kami datang tepat sebelum.... sebelum tuan Nicholas berangkat” ujar Anjani canggung.
“baguslah kalau begitu” ujar Raka tersenyum canggung pada Araf dan lainnya. Mereka lalu masuk ke ruang perawatan bersamaan, Candra pun menjelaskan maksud kedatangannya yang akan berpamitan untuk kembali ke Jakarta.
Adrian juga menyampaikan permintaan maaf atas nama Helena yang tidak bisa menjenguk, Adiwijaya dan keluarganya tahu jika Helena membutuhkan waktu untuk bisa menerima apa yang terjadi pada putranya.
***
Pesawat pribadi Nicholas telah tinggal landas setelah pilot meminta izin pada menara tower, Sabrian tengah melihat pemandangan malam di balik jendela kaca pesawat. Ada perasaan berat baginya untuk meninggalkan negaranya, tapi dia harus mengikuti ke mana Nicholas akan membawanya.
Nicholas duduk di samping Sabrina tengah berbicara serius dengan Jack, Yohan datang menghampiri mereka membawakan makan malam dan minuman.
__ADS_1
“please miss...(silahkan nona!!)” ujar Yohan dengan tersenyum ramah pada Sabrina. Makanan itu sama sekali belum tersentuh oleh Sabrina, matanya hanya memandangi makanan yang di sajikan di atas meja. Nicholas menatap ke arahnya dengan tatapan heran,
“you do not eat? Is this food not to your taste or would you like a different menu? (kamu tidak makan? Apakah makanan ini tidak sesuai dengan seleramu atau kamu ingin menu yang berbeda?)” tanya Nicholas penuh perhatian.
“no....not Nic, this food is delicious it's just that... (bukan.... bukan Nic, makanan ini enak hanya saja...)” Sabrina tidak melanjutkan pembicaraannya, matanya menatap hidangan steak yang terhidang di atas mejanya.
Senyuman manis tersungging di bibir Nicholas, dia tahu jika Sabrina ragu dengan hidangan itu.
“take it easy Sabrina, all this food is halal. you don't have to worry about it (tenang saja Sabrina, semua makanan ini halal. kamu tidak usah khawatir akan hal itu)” ujar Nicholas sambil menyantap kentang dalam piringnya.
“no... not that thing. I... I... (bukan... bukan hal itu. Aku... aku...)” Sabrina terlihat ragu-ragu menatap ke arah semua yang ada di dalam pesawat. Perlahan dia mengode pada Nicholas untuk mendekat padanya, dengan kening berkerut Nicholas mendekatkan wajahnya pada Sabrina.
Gadis cantik itu dengan malu-malu berbicara di telinga, Nicholas yang langsung menatapi wajah cantik itu setelah mengetahui apa yang membuat Sabrina tidak nyaman. Semua orang yang ada di pesawat itu menatap heran pada Nicholas yang yang menatap penuh keterkejutan pada,
“Yohan” panggil Nicholas pada kepala pelayannya. Yohan segera menghampiri tuan mudanya,
“yes, young master ( ya, tuan muda)” Yohan berdiri tepat di samping Nicholas.
“call one of the flight attendants here (panggil salah satu pramugari ke mari)” perintah Nicholas menatap ke arah Sabrina yang merasa tidak nyaman, wajahnya tampak merona indah. Nicholas meraih tangan Sabrina dan menggenggamnya untuk menenangkan, sebelah tangannya yang lain membelai punggung tangan Sabrina dengan lembut.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1