
Semua hal itu hanya di abaikan oleh Sabrina, di dalam hati dan matanya kini hanya tertuju pada satu pria yang sudah mencuri hatinya. Raka yang sudah mengkhitbahnya memberikan dan Mencurahkan segala perhatian membuatnya merasa sangat berarti.
Seperti saat ini, saat jam pulang kerja di rumah sakit Arbecio Mobil milik Raka sudah terparkir di pelataran lobi. Raka tampak berdiri dengan menyandarkan punggungnya di mobil miliknya, matanya menatap jam mewah di pergelangan tangannya.
Sabrina berjalan bersama-sama teman dokter sejawatnya sambil bercanda,
“cieeee.... Senengnya di jemput ama tunangan” goda Dewi teman yang seprofesi dengan Sabrina.
“ih... apaan sih Dewi. Udah dong jangan godain aku terus” Pipi lembut nan putih Sabrina langsung bersemu merah saat Dewi dengan sengaja mengeraskan suaranya agar Raka mendengar. Pria dengan wajah tampan itu menatap ke arah Sabrina yang berdiri di lobi bersama teman-temannya.
“cieeeee maluuu... gemes deh aku sama kamu Brina (menatap gemas ke arah Sabrina yang tersipu malu) bikin kita para jomblo ngiri aja. Apalagi tunangannya tampan, liat..... Liat dia menatap ke sini” ujar intan merupakan dokter anak di rumah sakit Arbecio.
Semua mata tertuju pada pria yang melangkah dengan mantap ke arah Sabrina dan teman-temannya, Raka sengaja melangkah menghampiri Sabrina saat banyak pasang mata pria yang melirik ke arah calon istrinya.
Para pria menatap tanpa berkedip hingga tak ayal mereka terkena musibah. Ada yang tidak sengaja menabrak pot bunga, menabrak pintu masuk hingga menabrak pasien lain.
“hahahaha.... Makanya kalo mata itu di pake buat jalan bukan ngelirik cewek aja” dokter Dewi tertawa melihat pria-pria itu melangkah cepat karena canggung dan malu. Mata bulat lagi menggemaskan milik Sabrina berbinar saat Raka tersenyum hangat padanya, senyuman Raka di balas manis dengan senyuman dari Sabrina.
“Assalamualaikum....” sapa ramah Raka.
“waalaikum salam” serentak para dokter perempuan juga perawat yang berdiri di sisi Sabrina menjawab salam Raka. Mata mereka menatap kagum juga terpesona dengan aura ketampanan dan pesonanya Raka.
“kalo begitu aku duluan ya semuanya” ujar Sabrina pamit pada teman-temannya. dia tidak ingin menjadi bahan godaan jika berlama-lama di sana.
“ kok buru-buru Brina, kita ngopi-ngopi dulu yuk di cafe depan rumah sakit. Sekalian ajak tuh mas Raka ” ajak Intan di dengar oleh Raka.
“maaf ya, lain kali saja. Karena kami sudah ada acara hari ini” tolak Raka secara halus, Sabrina menatap heran pada Raka yang sama sekali tidak memberi tahunya.
“Sayang... ayo” panggil Raka pada Sabrina yang masih menatap bingung ke arahnya. Tersadar dari lamunannya, Sabrina lalu pamit pada teman-temannya.
__ADS_1
“baiklah semuanya, kami balik dulu ya. Assalamualaikum” pamit Sabrina.
“hati-hati sabrina, jagain ya mas. Waalaikum salam “ balas mereka bersamaan. Teman-teman Sabrina tersenyum senang dan bahagia saat melihat Tangan Raka meraih tangan Sabrina, mereka bergandengan mesra melangkah menuju mobil Raka yang terparkir di pelataran rumah sakit.
Raka membuka pintu mobil untuk Sabrina, mempersilahkan untuk duduk di sampingnya. Setelahnya raka memutari mobil masuk ke dalam mobil lalu menyalakannya. Dia mengklakson pada teman-teman Sabrina yang masih senantiasa melihat mereka pergi, mereka pun melambaikan tangan ke arah mobil Raka yang sudah berlalu pergi.
“mas, emang kita ada acara apa hari ini?kenapa mas tadi pagi nggak ngasih tahu? Kalo Mas ngasih tahu sabrina sebelumnya, sabrina bisa minta pulang lebih awal” ujar Sabrina menatap ke arah Raka yang sedang menyetir. Senyuman hangat tersungging di bibir Raka, dia sesekali menatap ke arah Sabrina yang masih menunggu jawaban.
“ mas juga baru tahu tadi saat pulang, sayang. Mami minta kita untuk menemuinya di butik langganan mami” ujar Raka yang terus memperhatikan jalan.
“memang ada apa mas?” tanya Sabrina semakin penasaran.
“ mas juga nggak tahu sayang, kita tanyakan saja pada mami saat kita sudah sampai oke” ujar Raka yang terus mengendarai mobilnya menuju butik langganan Helena.
“bagaimana pekerjaan calon istri mas hari ini?” goda Raka membuat pipi Sabrina merona. Bibir mungil itu tersenyum manis pada Raka,
“Alhamdulillah, semuanya lancar mas. Ada beberapa pasien yang Sabrina operasi hari ini, dan semuanya lancar. Kalo mas, bagaimana?”
“mas Raka pasti belajar gombal dari mas Thio atau Wibi,”
“Gombal apanya sayang, emang benar kok seharian ini mas rindu sekali sama kamu. Kalau bisa mas ingin secepatnya menghalalkan kamu, biar mas bisa terus lihat kamu” ujar Raka, pipi sabrina semakin merona mendengar ucapan calon suaminya. Mobil Raka terparkir baik di parkiran depan butik langganan Helena. Sabrina yang akan keluar dari mobil Langsung di cegah oleh Raka, dia meraih Jari jemari Sabrina yang sama sekali tidak terpasang cincin pertunangan mereka.
Sabrina tahu jika Raka akan mempertanyakan keberadaan cincin mereka.
“Sayang...” mata Raka semula menatap jari jemari Sabrina termenung saat melihat tangan kanan memperlihatkan kalung dengan cincin pertunangan mereka.
“tadi aku harus mengoperasi pasien, mas kan tahu jika saat operasi di larang memakai cincin. Jadi, Sabrina menyimpannya di sini agar tidak hilang dan selalu senantiasa bersama Sabrina” jelas Sabrina membuat senyum bahagia terlukis di wajah tampan Raka.
Sabrina lalu membuka kalungnya bermaksud akan memasang Kembali cincin pertunangannya. Raka meminta cincin itu pada Sabrina yang menatapnya dengan wajah bingung, cincin itu pun di sematkan kembali oleh Raka kembali ke jari jemari lentik Sabrina.
__ADS_1
Senyuman manis tersungging di bibir Sabrina tatkala Raka mengecup lembut tangannya dengan penuh kasih sayang.
“Sebaiknya kita turun mas atau mereka akan tidak semakin sabaran” ujar Sabrina saat melihat Helena, Wulan, Asmirah dan Eliana yang sibuk memilih-milih pakaian di butik itu.
Mereka berdua turun dari mobil bersamaan, setelah mengunci pintu Raka menggandeng Tangan Sabrina menuju butik. Saat akan membuka pintu butik, sepasang tangan dengan lancang memeluk Raka dari belakang.
“Rakaaa” terdengar suara perempuan yang memeluk Raka dengan erat. Sabrina terkejut saat ada perempuan lain dengan berpakaian super minim memeluk Raka tepat di depan matanya, begitu juga Raka terlihat kaget saat melihat perempuan yang memeluknya.
“RANIIII” teriak Raka melihat Rani perempuan yang sangat terobsesi dengannya. Raka pun mendorong Rani secara kasar hingga dia jatuh terduduk di jalanan.
“Raka kenapa kamu mendorong calon istrimu sendiri?” bentak Rani dengan keras, membuat para pengunjung di dalam butik melihat ke arah pintu masuk. Begitu juga Helena dan yang lainnya, Raka segera menggandeng tangan Sabrina kembali lalu menatap tajam pada Rani yang kini berdiri tepat di depan mereka berdua.
Rani terlihat tidak menyukai saat Raka menggandeng tangan Sabrina.
“Raka, siapa pela**r itu? Kenapa kamu malah memegang tangan cewek murahan itu?” hina Rani menatap rendah pada Sabrina yang masih bersabar mendengarnya.
“Rani...” Sabrina menatap gadis yang masih duduk di jalanan itu, dia teringat dengan cerita Asmirah juga Eliana tentang seorang perempuan yang sangat terobsesi dengan Raka. Gara-gara Rani juga Anjani dan Bima menikah dengan keadaan yang kacau, walau sebenarnya mereka saling mencintai.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...