Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 116


__ADS_3

Salah seorang anak buah Nicholas membuka pintu ruangan khusus yang di sediakan oleh pihak Bandara, pria tampan dan berkarismatik masih setia membopong Sabrina padahal di depannya sudah tersedia kursi nyaman untuk mereka.


"I'm sorry Nic, I... totally forgot (maafkan aku Nic, aku... benar-benar lupa)" ujar Sabrina menundukkan pandangannya, senyuman hangat tersungging di bibir hot itu. perlahan dia mendudukkan Sabrina di kursi memandang dengan penuh perasaan pada gadis itu.


boss, you are so cruel, torturing by being affectionate in front of us. have pity on our fate these singles (bos, anda sangat kejam, menyiksa dengan bersikap mesra di depan kami. kasihanilah nasib kami para jomblo ini) gumam serentak para anak buah dalam hati mereka masing-masing.


Nicholas menyuruh orangnya untuk menyelesaikan persyaratan keberangkatan untuk mereka, dia juga meminta Jack untuk menyuruh orang mencari sesuatu yang bisa di gunakan Sabrina untuk alas kakinya. Setelah memberi hormat dengan membungkukkan badan, Jack dan anak buahnya mulai bergerak berkeliling bandara.


Tidak berapa lama berkumandang suara azan yang menandakan jika waktu shalat magrib sudah masuk. Sabrina menatap ke arah Nicholas yang tengah berbicara dengan anak buahnya. Dia lalu berdiri dari tempat duduknya menghampiri Nicholas dan menarik lengan jas yang di kenakannya.


Pemilik Mata elang itu segera melihat ke arah Sabrina yang masih memegang ujung lengan jasnya.


“Hmm” Nicholas berdehem melihat ke arah gadis cantik itu.


“It's time for the Maghrib prayer, it's best if we pray before leaving (sudah waktunya salat magrib, sebaiknya sebelum berangkat kita salat dulu)” ujar Sabrina mengajak Nicholas untuk beribadah bersama sebelum mereka berangkat menuju negara Australia.


“Wait a moment (melihat ke arah anak buahnya kembali) you guys do according to the plan we talked about (tunggu sebentar (melihat ke arah anak buahnya kembali) kalian lakukan sesuai rencana yang sudah kita bicarakan)” perintah Nicholas yang langsung di kerjakan oleh anak buahnya.


“let's go (menatap ke arah kaki Sabrina) just a moment (Ayo... (menatap ke arah kaki Sabrina) tunggu sebentar...)” ujar Nicholas menatap ke arah pintu masuk, tidak lama Jack masuk kembali membawa sepasang slipper hotel yang di miliki oleh salah seorang anak buahnya.


“Sorry boss, we only found this (Maaf bos, kami hanya menemukan ini)” ujar Jack sambil menunjukkan slipper itu pada Nicholas yang langsung menatap heran. Mata elangnya menatap kembali ke arah Jack seolah berbicara


Why are you even carrying these footwear? Do you want to chill my wife's feet? (Kenapa kamu malah membawa alas kaki ini? Apa kamu ingin membuat kaki istriku kedinginan?)


Jack yang langsung paham segera menjelaskan pada bosnya.


“sorry boss, I've been looking around this one airport but there's absolutely no shops or... (maaf bos, aku sudah mencari berkeliling satu bandara ini tapi sama sekali tidak ada toko atau...)” pembicaraan mereka terpotong saat Sabrina meraih slipper itu dari tangan Nicholas.


“it's okay nic. this is more than enough, we should pray now before the time runs out (tidak apa -apa Nic. ini sudah lebih dari cukup, sebaiknya sekarang kita salat sebelum waktunya keburu habis)” ujar Sabrina sambil mengenakan slipper itu di kakinya. Nicholas hanya menghela nafas dan mengikuti kemauan gadis yang sudah di nikahinya, tangan Nicholas segera meraih tangan Sabrina setelah memastikan kedua slipper terpasang. Mereka pun jalan beriringan menuju mushalla toilet bandara untuk melaksanakan kewajiban mereka.

__ADS_1


***


Adiwijaya dan Wiyasa baru menyelesaikan sholat mereka yang di imani oleh Cakra, karena kondisi mereka yang masih terbaring di ranjang mereka pun melakukan ibadah dengan cara berbaring.


Ningsih menghampiri Adiwijaya, menyalami dengan santun tangan suaminya.


“pak.... apa bapak mau makan sekarang?” tanya Ningsih penuh kelembutan. Adiwijaya hanya diam dan menghela nafas panjang,


“ Ada apa pak? Apa ada hal yang membuat bapak ndak nyaman?!” Ningsih menatap wajah suaminya.


“Bapak merasa ndak enak dengan Candra terlebih dengan Raka bu, mereka sudah jauh-jauh datang dari Jakarta untuk menikah dengan Sabrina. Tapi gara-gara Arman semuanya jadi kacau,” ujar Adiwijaya merasa tidak enak hati. Begitu juga dengan Cakra, Wulan, Andhini dan Wiyasa.


Di saat bersamaan terdengar ketukan di depan pintu kamar perawatan Adiwijaya.


Tok... tok... tok...


“assalamualaikum” terdengar suara sapaan yang tidak asing bagi Adiwijaya, pintu kamar itu terbuka dari balik sana terlihat Candra dan keluarganya datang menjenguk.


Candra datang mengunjungi sahabatnya bersama keluarga, kecuali Helena dan Eliana yang terpaksa tidak ikut harus menemani ibunya.


"bagaimana keadaan mu Di?” tanya Candra seraya menghampiri ranjang sahabatnya dan duduk di kursi yang semula di duduki oleh Ningsih.


“Alhamdulillah keadaan ku sudah berangsur membaik” ujar Adiwijaya memaksa tersenyum ke arah sahabatnya. Candra tahu jika sahabatnya itu merasa canggung, begitu juga Raka yang tampak tenang.


Seluruh Keluarga Adiwijaya bisa melihat mata pemuda gagah itu tersimpan luka dan kesedihan, mereka tahu jika saat ini terasa begitu berat baginya.


“Nak Raka...” panggil Adiwijaya pada Raka yang membalas dengan senyum terpaksa. Tangan kanan Adiwijaya terangkat melambai memanggil Raka untuk menghampirinya,


"Eyang..." sapa Raka dengan ramah.

__ADS_1


“Nak Raka... kami sekeluarga ingin meminta maaf padamu atas apa yang telah terjadi. Sungguh tidak ada niatan kami....” ucapan Adiwijaya terhenti saat Raka menggenggam tangannya.


“Eyang... semua ini sudah menjadi suratan dari-Nya, insya Allah aku menerima semua ini dengan lapang dada. Aku akan melakukan hal yang sama jika aku berada di posisi Sabrina, jadi eyang jangan merasa tidak enak pada kami” ujar Raka menghibur Adiwijaya. Semuanya menatap iba pada Raka yang tampak berusaha untuk tegar dan bangkit dari lukanya.


“walau bagaimana pun kami juga harus mengucapkan permintaan maaf padamu nak, kami tahu kamu pasti sangat sedih dan kecewa...” ujar Wiyasa menatap Raka. Andhini dan lainnya tampak diam dan menundukkan padangan, mereka merasa sangat bersalah atas perbuatan Arman.


“Eyang, om dan tante....apa yang terjadi sekarang ini adalah ujian untukku agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Eyang dan keluarga jangan merasa bersalah atas hal ini” ujar Raka menyikapi dengan bijaksana dan lapang dada.


“Benar Adi, kita sudah menjadi keluarga jangan merasa sungkan pada kami. Apa pun yang terjadi saat sekarang sudah menjadi Jalannya, aku dan juga keluarga meminta maaf atas sikap Helena yang....” ucapan Candra terhenti saat Andhini langsung berbicara padanya.


“tidak pak Candra, anda tidak seharusnya meminta maaf pada kami. Apa yang di lakukan jeng Helena tidaklah salah, beliau adalah seorang ibu yang akan tersakiti bila putranya di sakiti. Kami semua memaklumi hal itu... Aku selaku ibu dari Sabrina meminta maaf dengan tulus” ujar Andhini dengan mata berkaca-kaca.


“Sudah... Sudah.... Sudah tidak ada yang perlu di maafkan atau memaafkan semua ini sudah berlalu, o ya (melihat ke sekeliling kamar) di mana para anak-anak muda itu. Sedari tadi tidak ku lihat batang hidung mereka semua” ujar Candra menyadari jika Araf dan lainnya tidak ada di kamar.


“mereka.... Mereka ke bandara pak Candra” ujar Wulan ragu menatap ke arah Raka.


“bandara? Kenapa mereka ke bandara ma?” tanya Bima heran karena tidak mendengar kabar apa pun. Ningsih menatap suaminya yang sejenak memejamkan mata seraya menganggukkan kepalanya memberikan persetujuan padanya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2