Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 93


__ADS_3

“di mana obat penawarnya?” tanya Sabrina sekali lagi berusaha untuk menahan amarahnya. Adelia tersenyum smirk merasa senang melihat Sabrina yang tidak berdaya, dia meraih satu botol penawar dari dalam tas kecilnya lalu meletakkan di atas meja.


Sabrina semakin emosi saat melihat botol kecil obat penawar yang tentunya tidak akan bisa menyembuhkan Adiwijaya dan Wiyasa sepenuhnya.


“ apa kalian binatang? Tidak kalian bukan binatang, serendah-rendahnya sifat seekor binatang mereka tidak pantas di sama kan dengan ka...” ucapan Sabrina terhenti saat sebuah gelas wine melayang dengan cepat tepat mengenai pintu di belakang Sabrina.


Praaaang....


“astagfirullah...” ujar Sabrina sambil Kedua tangannya melindungi wajah dan kepalanya. Arman tampak sangat marah, bangkit dari tempat duduknya melangkah dengan cepat menghampiri Sabrina.


Tangan kirinya memegang kepala bagian belakang yang tertutup hijab, dia mencengkeram kuat hingga Sabrina meringis kesakitan.


“ anak Sial*n, beraninya kau menghinaku. Jika bukan karena keadaan ku yang terdesak, aku akan membunuhmu sekarang juga” Arman dengan kasar mendorong Sabrina hingga dia jatuh terduduk di lantai.


“kenapa tidak anda bunuh saja aku sekarang?” tantang Sabrina menatap Arman dengan nanar, matanya tampak berkaca-kaca. dia menahan diri untuk tidak menangis dan terlihat lemah di depan Arman juga keluarganya.


Adelia bangkit dari tempat duduknya menghampiri Sabrina dan berdiri tepat di depannya. Kaki Adelia menginjak punggung tangan kanan Sabrina, raut wajahnya tampak sangat kesakitan. Ponsel yang di pegangnya terlepas dari genggaman, Adelia tersenyum senang mendengar rintihan ke sakitan dari Sabrina.


“ jika kami bunuh kamu... siapa yang akan menggantikan aku untuk menjadi jaminan papa? Kamu sudah di besarkan dengan cukup baik di keluarga kami, tentunya kamu harus membalas budi dengan menjadi jaminan untuk kami” Adelia tersenyum licik membelai wajah cantik Sabrina yang menahan rasa sakit di tangannya.


“Sayang.... jangan siksa dia, jika terluka nantinya akan menjatuhkan harga jualnya...” ujar Indah memandang rendah Sabrina. Adelia mengangkat kakinya, punggung tangannya tampak memerah dan memar.


“ bukankah... anda sendiri yang sudah membuangku dan tidak mengakui keberadaan ku? Untuk apa kalian membuat eyang dan bapak kritis seperti sekarang, apa kesalahan mereka sehingga kalian menyiksanya” Sabrina menatap ke arah Arman yang membalas menatap tajam ke arahnya.


“kami tidak akan melangkah jauh seperti ini jika kamu menurut dan mau menjadi jaminan. tidak sampai di situ saja, mereka juga sudah membuat semua rencana ku berantakan dan menjadi sulit, jadi... sedikit hukuman kecil untuk mereka berdua” ujar Adelia.


“ kalian...” ucapan Sabrina terhenti saat Arman duduk di hadapannya. Kini posisi Sabrina berada di depan kaki ayah kandungnya, dengan angkuh Arman menatap rendah pada Sabrina.


“ sayang... lebih baik kita langsung saja, tidak usah berbicara dengan pembawa si*l ini” ujar Indah berdiri di samping Arman.

__ADS_1


“ jika kau ingin menyelamatkan hidup tua bangka dan si anak pungut itu. Kau harus menghubungi Nicholas sekarang juga dan katakan padanya bahwa kau setuju untuk menjadi jaminan dengan menikah dengannya” ujar Arman membuat mata cantik Sabrina terbuka lebar.


“apa?!!! Tidak.... aku tidak mau...” ujar Sabrina menolak langsung. Adelia mengambil botol kecil serum penawar racun di atas meja, dia menggoyang-goyangkan di hadapan Sabrina.


“kamu tidak mau...” ujar Adelia sambil melempar ke udara dan menangkap kembali.


“jangaaaan.... jangaaan aku mohon Adel... itu harapan bapak dan eyang aku mohon jangan...” Sabrina takut saat Adelia melempar-lempar serum itu ke udara. Senyuman licik tersungging di wajah Adelia, dia dengan kuat membanting serum itu ke lantai hingga pecah.


“tidaaak...” Sabrina berusaha untuk menangkap tapi terlambat. Terdengar isak tangis Sabrina menatapi pecahan serum penawar itu,


“ooo... jangan bersedih bi**ch, aku masih memiliki serum penawar yang lain. Jika kamu setuju dengan penawaran kami, serum itu akan ada di tangan kamu sekarang dan tentunya kamu bisa menyelamatkan kedua baji**n itu” ujar Adelia mencengkeram bagian belakang kepala Sabrina. Wajah cantik Sabrina yang sudah di basahi air mata menengadah menatap Adelia.


Sabrina terdiam, dia merasa dilema di hadapi dengan pilihan yang sangat sulit.


Jika aku memilih tetap menikah dengan mas Raka.... eyang dan bapak akan... nggak... aku nggak bisa egois memikirkan kebahagiaan ku di atas air mata ibu dan eyang uti gumam Sabrina dalam hati. Arman merogoh saku jasnya, meraih ponsel miliknya lalu menggeser-geser jarinya di atas layar datar itu.


Panggilan itu kini tersambung, Sabrina menatap Arman sejenak yang tersenyum smirk ke arahnya.


“hallo... My money ready? (hallo... Uang ku sudah siap?)” terdengar suara bass Nicholas di seberang sana. Sabrina segera meraih ponsel milik Arman dan meletakkannya di telinga yang tertutup hijab.


“a....aa..assalamualaikum” Sabrina menyapa balik dengan terbata-bata. Nicholas termenung sejenak saat mendengar salam dari telepon itu, dia menatap layar ponselnya yang tertulis nama Arman di sana.


Arman mengode pada Sabrina untuk menekan tombol loud speker agar mereka di ruangan itu dapat mendengar apa yang Sabrina dan Nicholas bicarakan.


Is my hearing now impaired or am I missing it so much that I really want to hear his voice? (Apa pendengaran ku kini sudah terganggu atau aku yang terlalu merindukan hingga sangat teringin mendengar suaranya?) Gumam Nicholas dalam hati.


“ha... halo...” Sapa Sabrina kembali yang tidak mendengar suara Nicholas.


“ yes, sorry who is this? Isn't this Arman's mobile number (ya, maaf siapa ini? Bukankah ini nomor ponsel Arman?)” Tanya Nicholas memastikan.

__ADS_1


“I… I… I'm Sabrina, there's something I want to talk to sir about (aku.... aku.... Aku Sabrina, ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan dengan tuan)” Sabrina menatap Arman yang memegang serum penawar racun.


“say it (katakan)”


“I... I... I want... I want you to marry me (aku...aku... aku ingin... aku ingin tuan menikah denganku)” ujar Sabrina sukses membuat Nicholas terdiam dan heran. Dia tahu jika dalam waktu dekat Sabrina akan menikah dengan tunangannya, kini dia mendadak mendapat telepon dari perempuan yang mencuri perhatiannya dan meminta untuk menikahinya.


Nicholas terdiam sejenak, dia merasa ada yang janggal dan aneh.


“I do not want to (aku tidak mau)”


“wh.... why sir? (ke.... kenapa tuan?)” Sabrina menatap horor ke arah Arman yang mulai memainkan serum penawar itu.


“ if you marry me under pressure and coercion from Arman, I don't want it at all. I'll assume you didn't say anything... (jika kamu menikah dengan ku atas tekanan dan paksaan dari Arman, aku sama sekali tidak menginginkannya. Aku akan menganggap kamu tidak mengatakan apa...)” belum selesai Arman berbicara Sabrina segera memotong pembicaraan saat melihat Arman yang akan mencoba membanting botol serum lainnya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2