
Tanpa membuang waktu, Indah dan Adelia segera memegang kedua lengan Sabrina membawanya lebih dulu menuju lobi. Arman mengeluarkan sejumlah uang yang begitu banyak untuk membayar jasa Maya dan Arinda.
“ini bayaran kalian, secepatnya angkat kaki kalian dari sini” usir Arman dengan kasar. Maya dan Arinda saling berpandangan lalu menatap sejumlah uang di meja,
“ maaf tuan, kami senang membantu pernikahan nona Sabrina dan uang ini silah kan anda simpan saja” ujar Arinda lalu mengajak Maya untuk pergi dari kamar itu.
“dasar perempuan bo**h, menolak uang yang aku berikan jangan sampai nantinya kalian menyesal” ujar Arman pergi begitu saja. Maya semakin kesal mendengar ucapan Arman, dia ingin membalas kata-kata kasar Arman tapi di cegah oleh Arinda.
Rombongan Arman segera pergi menuju ke kantor KUA setempat, tidak lupa pula mereka mempersiapkan segala hal nya untuk memuluskan Rencana mereka.
***
Raka dan lainnya masih berusaha mencari keberadaan Sabrina, mereka mulai memperluas area pencarian hingga ke hotel tempat Arman menginap. Araf, yusuf dan Asmirah melangkah cepat menuju pusat informasi atau resepsionis.
“maaf permisi, apakah anda pernah melihat nona ini?” tanya Yusuf pada salah satu pegawai yang berjaga pagi. Yusuf meminjam ponsel Asmirah yang memuat foto Sabrina di sana dan memperlihatkannya pada petugas itu.
Berpikir cukup lama petugas itu mengingat-ingat apakah pernah melihat perempuan yang itu.
“maaf tuan, saya tidak pernah melihat perempuan ini” ujar pegawai itu pada Yusuf dan lainnya.
“apakah ada yang bernama Arman mengina di hotel ini?” Tanya Araf sambil mengawasi di sekitar lobi hotel.
“sebentar saya akan mengeceknya terlebih dahulu,” pegawai itu segera pergi ke arah belakang resepsionis, dia lalu berkonsultasi dengan manajer apa yang harus dia lakukan. Manajer itu lalu berdiri dari kursinya keluar untuk menemui Araf dan lainnya.
“maaf tuan ada yang bisa saya bantu?” manajer itu dengan ramah menyapa.
__ADS_1
“kami ingin informasi apakah ada tamu bernama Arman yang menginap di sini?" tanya Araf mulai tidak sabaran.
“maaf tuan, setelah kami mengecek sistem tidak ada yang bernama Arman menginap di sini” ujar manajer setelah memeriksa komputer resepsionis, ternyata kamar yang di tempati oleh Arman sekeluarga atas nama Adelia. Jadi, Araf dan lainnya tidak mendapat info apa pun tentang Arman juga hilangnya Sabrina.
Ponsel milik Araf berbunyi, dia segera mengangkat ponselnya yang pada layar tertulis papa. Matanya membulat seketika saat mendengar kabar dari rumah sakit, Araf segera mengajak yang lainnya untuk segera ke rumah sakit. Tidak lupa Araf meminta Asmirah untuk meminta menghubungi Raka dan lainnya yang masih berusaha mencari keberadaan Sabrina.
Mobil rombongan Arman memasuki perkarangan kantor KUA, Indah dan Adelia turun dari mobil seraya menggandeng lengan Sabrina. Mereka juga mengancam Sabrina untuk tidak berbuat apa-apa dan menyambut baik Nicholas.
Sabrina hanya diam, dia benar-benar tidak berdaya dan terpaksa mengikuti apa yang di perintahkan Arman juga keluarganya. Nicholas terpana saat melihat tampilan Sabrina saat itu, dia sama sekali tidak bisa memalingkan penglihatannya saat melihat kecantikan sempurna gadis yang sudah menghidupkan hatinya. Sabrina menundukkan pandangannya, membuat Nicholas tersadar dari ke terpesonanya lalu melihat Arman yang tampak gelisah.
Arman menyadari jika tangan kanan kepercayaan Nicholas tidak ada di sampingnya, dia melihat ke sana kemari mencari keberadaan Jack. Mata
“ what's wrong mr. Arman? Is there something wrong? (ada apa tuan Arman? Apakah ada yang salah?)” tanya Nicholas dengan mata elang miliknya menatap tajam ke arah Arman.
“no... no Mr. Nicholas. o yes mr. Jack not come with you? (tidak... tidak tuan Nicholas. o ya tuan Jack tidak ikut bersama anda?)” tanya Arman berbasa-basi membuat Adelia dan Indah mulai waspada. Mereka juga menyadari jika Jack tidak ada di sekitar Nicholas.
Arman segera mengubah sikapnya dengan tersenyum ramah pada Nicholas.
“right... you're right, Mr. Nicholas. Sorry I'm so happy and happy with my daughter's wish (benar... benar kata anda, tuan Nicholas. Maaf aku begitu senang dan bahagia dengan keinginan putri ku ini)” ujar Arman diam-diam memegang kuat lengan Sabrina membuatnya meringis kesakitan. Senyuman manis tersungging di bibir pink Sabrina menutupi rasa sakit di lengannya agar Nicholas tidak menyadari sama sekali.
Tidak lama pegawai KUA datang mengatakan jika semuanya sudah siap, Arman lalu menyuruh Adelia dan Indah untuk mengajak Sabrina terlebih dahulu ke ruangan tempat mereka akan melaksanakan akad nikah. Nicholas merasakan ada sesuatu yang aneh sambil melangkah menuju ruang akad Nikah dia menghubungi Jack yang berada di sekitar kediaman Adiwijaya.
“how? (bagaimana?)” tanya Nicholas menunggu laporan Jack.
“Sorry boss, I haven't got any information yet. This house looks so lonely and almost no one. I will try to ask people around, if there is any information I will contact the boss as soon as possible (maaf bos, aku belum mendapat informasi apa pun. Rumah ini terlihat begitu sepi dan nyaris tidak ada siapa pun. Aku akan mencoba bertanya pada orang sekitar, jika ada informasi aku akan menghubungi bos secepatnya)” ujar Jack mencoba menghampiri tetangga kediaman Adiwijaya.
__ADS_1
" Alright, I'll try to buy some time. Contact me ASAP (baiklah, aku akan mencoba mengulur waktu. Hubungi aku secepatnya)" ujar Nicholas mengakhiri sambungan teleponnya. Matanya menatap ke arah ruangan tempat mereka akan melaksanakan akad nikah, Nicholas sama sekali tidak waspada.
Dia tidak menyadari jika Arman diam-diam mengawasinya, dia segera memerintahkan orangnya untuk menahan Jack agar tidak mengacaukan acara akad nikah itu. Tidak lupa Arman menunjukkan foto Jack pada orang bayarannya dan menyuruhnya untuk berjaga-jaga, dia pun mengirim pesan pada Indah untuk meminta petugas KUA melaksanakan akad nikah.
Jack mendapat informasi jika Adiwijaya dan Wiyasa berada di rumah sakit, dia segera pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan informasi yang akurat. Tanpa membuang waktu Jack dan anak buahnya mengendarai mobil menuju ke rumah sakit yang beritahu tetangga Adiwijaya.
Mobil Jack memasuki halaman rumah sakit, dia dan beberapa anak buahnya segera menuju bagian informasi. Setelah mengetahui di ruang mana Adiwijaya dan Wiyasa di rawat, Jack segera menuju ruang ICU.
Keluarga Adiwijaya dan Wiguna tampak duduk di luar ruang ICU sambil terus berdoa untuk kesembuhan Adiwijaya dan Wiyasa. Kedatangan Jack membuat kedua keluarga waspada, Cakra segera menghubungi putranya Araf untuk datang ke rumah sakit.
“what did you come here for? Did Arman tell you to come to make sure that my father and brother-in-law are dead? tell him we will charge him with attempted murder (untuk apa anda datang kemari? Apa Arman yang menyuruh anda datang untuk memastikan jika Bapak dan kakak ipar saya sudah tiada? katakan padanya kami akan menuntutnya atas percobaan pembunuhan)” ujar Cakra yang baru saja selesai menghubungi Araf.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...