Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 104


__ADS_3

“Buk de jangan percaya dengan apa yang di katakan oleh pria ini. Aku yakin jika Sabrina sudah di paksa oleh mereka, mungkin saja jika racun yang di beri pada Eyang dan pak de oleh Arman sebenarnya adalah perintah dia” Araf tidak percaya begitu saja dengan apa yang di katakan Nicholas dia bersikap sangat waspada.


“it's up to you to believe or not. But what I said is the real truth (terserah kalian mau percaya apa tidak. Tapi apa yang aku katakan adalah kenyataan yang sebenarnya)” Nicholas berkata jujur, mata elangnya menatap dingin ke arah Raka.


Dia ingin menjelaskan jika semua ini adalah rencana Arman dan tidak ada sangkut paut dengannya. Namun, keluarga Sabrina dan lainnya sudah berpikiran buruk tentangnya juga niatnya yang di ragukan.


“what my boss said is true, this is all Mr. Arman's plan (apa yang di katakan bos saya memang benar, ini semua adalah rencana tuan Arman)” ujar Jack membantu Nicholas.


“Arman?!” Andhini menatap ke arah Nicholas.


“buk de dengarkan mereka sendiri, memang ini semua sudah di rencanakan oleh mereka” Araf semakin kesal dan hanya mendengar dengan apa yang ingin di dengarnya. Dia pun hendak menerjang ke arah Nicholas, Tapi Bima dan Yusuf bertindak cepat dengan menahannya.


“Mas Araf tenanglah, kita masih di rumah sakit Jangan membuat keributan. Kasihan eyang dan pak de” ujar Anjani yang baru saja kembali dari toilet bersama Helena dan Asmirah.


Araf melihat ke arah adik-adiknya lalu pada Andhini, Wulan dan Ningsih tampak khawatir dan cemas. Perlahan dia beristigfar mulai mengontrol amarahnya dengan menatap waspada pada ke arah Nicholas dan anak buahnya.


“You have completely misunderstood, my boss knows absolutely nothing about Mr. Arman's plans. Even my boss, who has just set foot in the country of his birth, chose to return here when Miss Sabrina contacted him through Mr. Arman's number. (Anda benar-benar telah salah paham, bos saya sama sekali tidak tahu menahu tentang rencana Tuan Arman. Bahkan bos saya yang baru saja menginjakkan kaki di negara kelahirannya, memilih kembali kemari saat nona Sabrina menghubunginya melalui nomor tuan Arman)” Ujar Jack menjelaskan segalanya pada keluarga Adiwijaya, dia juga memberitahu tentang penyelidikannya.


“why? Why are you so willing to help Sabrina? (kenapa? Kenapa kamu begitu mau membantu Sabrina?)” Tanya Raka menatap ke arah Nicholas. Pembicaraan mereka terdengar oleh Sabrina yang hendak keluar memberi tahu kabar terbaru keluarganya.


Nicholas menatap ke arah Raka yang menunggu jawaban darinya, ada perasaan tidak enak di hati yang berkecamuk layaknya badai yang dahsyat. Pria tampan bermata biru itu hanya terdiam, dia mencoba mencari jawaban yang sekiranya memuaskan mereka semua.


“I... I don't know why and how... for me as long as it's for Sabrina's happiness I will do anything. Even if she asks me to divorce her so that I can unite with you, I'm ready to do it (aku... aku tidak tahu kenapa dan bagaimana... bagi ku selama itu demi kebahagiaan Sabrina aku akan melakukan apa pun. Bahkan jika dia memintaku untuk menceraikannya agar bisa bersatu dengan mu, aku siap melakukannya)” ujar Nicholas membuat semua yang ada di sana terkejut mendengarnya. Ada sebuah goresan luka yang menyayat hati Nicholas, hati pada awalnya sudah lama mati berdetak saat dia pertama kali bertemu dengan Sabrina.

__ADS_1


Sabrina termenung mendengar ucapan Nicholas yang tulus dan tidak memiliki niat apa pun, ada sedikit rasa marah padanya saat mendengar Nicholas yang ingin berpisah dengannya. Dia tidak menyangka jika Nicholas rela melepaskan dan bercerai demi kebahagiaannya dan Raka (duuuh.. babang Nic.... Bikin luluh hati author....)


“divorce? So you mean, you've... (bercerai? Jadi maksud kamu, kalian sudah...)” ucapan Andhini terhenti saat pintu ruang ICU terbuka, Sabrina berdiri tepat di depan pintu. Mata Indah Sabrina menatap ke arah Nicholas yang berdiri di samping Jack dan Raka.


Raka dan seluruh keluarga menatap ke arah Sabrina menunggu penjelasan darinya, Andhini menghampiri langsung memegang kedua lengan Sabrina.


“nduk...ap.. apa... apa benar yang di katakan olehnya? Kamu dan dia benar-benar telah menikah?” tanya Andhini shock. Sabrina hanya diam, matanya menatap ke arah Nicholas yang membalas menatapnya kembali.


“Sabrina.... jawab ibu nduk, apa kamu benar sudah menikah dengan dia?” tanya Andhini menunggu jawaban Sabrina,


"benar bu.... Sabrina sudah menikah dengan tuan Nicholas, secara hukum... dan agama..." Ujar Sabrina menatap ke arah Raka yang sangat terkejut mendengar pengakuannya.


“APAAA??!!!” terdengar suara Helena yang baru saja datang bersapa Candra dan Wibisana. Dia mendapat kabar bahwa Sabrina sudah kembali dari Eliana yang menghubunginya saat ke toilet tadi, Helena pun menghampiri Sabrina menggeser Andhini yang berdiri di depan putrinya.


Helena terkejut tangannya pun terangkat dan melayang tepat ke arah Sabrina.


PLAAAAAAAAK....


Tamparan begitu keras mendarat tepat pada pipi meninggalkan bekas jejak tangan kemerahan di sana, namun bukan wajah cantik Sabrina yang mendapat cap itu melainkan Wajah Nicholas yang langsung berdiri memasang badannya di antara Helena dan Sabrina.


“Mami...” Raka segera menghampiri Helena dan memeluk untuk menahan tindakan Helena.


“minggir kamu Raka, perempuan itu sudah berani mengkhianati kamu. Tidak seharusnya kamu membela dia dan kamu... kenapa kamu malah menghalangi?” ujar Helena kesal dan ingin menghakimi Sabrina, dia juga kesal pada Nicholas yang memasang badan untuk perempuan cantik itu.

__ADS_1


“I know you are so angry and upset, if you want to hit just hit me, don't Sabrina. She did all this because of the pressure from Mr. Arman to save her grandfather and father (aku tahu anda begitu marah dan kesal, jika ingin memukul pukul saja aku jangan Sabrina. Dia melakukan semua ini karena tekanan dari Tuan Arman dan menyelamatkan kakek dan ayahnya)” ujar Nicholas menjelaskan pada Helena melihat ke arah Raka yang menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang di ucapkan pria tampan itu.


Helena merasa bersalah dan canggung telah berbuat kasar pada Sabrina, dia lalu menatap Andhini yang berdiri di sampingnya.


“maaf... Aku...aku...a ku..aku” Helena benar-benar merasa tidak enak hati.


“ tidak apa-apa Jeng Helena apa yang jeng lakukan tidak bisa di salahkan, seorang ibu pasti akan bereaksi dan melakukan hal yang sama seperti apa yang jeng lakukan saat anak-anak jeng tersakiti” ujar Andhini memaklumi sikap Helena. Adrian keluar dari ruang ICU, sedari tadi dia sudah mendengar apa yang terjadi di ruang tunggu.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2