Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 152


__ADS_3

“Sabrina putriku... maafkan papa.... papa sudah membuatmu sangat menderita.... ini semua karena perempuan dan pria laknat itu.. ” Ujar Arman penuh amarah dalam hatinya, sebelah tangannya membuka laci dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening.


“mata di bayar mata, darah di bayar darah, sudah saatnya mereka lenyap dari muka bumi ini” Arman menatap tajam cairan bening di botol kecil itu, amarahnya sudah tidak terbendung lagi. matanya tampak merah seakan hendak menelan orang hidup-hidup, Arman kini di kuasai dengan hawa nafsu membunuh.


Sementara itu, Adelia berdiri di depan cermin wastafel kamar mandi memandangi dirinya yang terlihat kacau. Dia masih sangat shock dan tidak tahu harus bagaimana lagi, tiba-tiba saja perutnya terasa sangat mual dan memuntahkan seluruh isi perutnya saat teringat dengan perkataan Indah.


Adelia tidak bisa menerima kenyataan jika dia adalah putri dari kekasihnya sendiri, kedua tangannya memegang perut di mana kini janin hasil dari perbuatan mereka sedang tumbuh berkembang. Air matanya jatuh menetes membasahi pipi, menangisi nasib dia dan janin dalam kandungannya.


Indah berada di kamarnya tampak sangat cemas dan khawatir, dia merasa takut jika Arman mendengar pembicaraan mereka.


Apa Mas Arman sudah tahu segalanya? Tidak... tidak... tidak mungkin mas Arman tahu, jika Mas Arman tahu dia pasti mengambil tindakan atau dia bisa berbuat nekat dengan menghabisi kami saat itu juga... tenang Indah, tenang... semuanya pasti baik-baik saja, sebaiknya sekarang aku ke kamar Adel dan berbicara dengannya sekali lagi gumam Indah dalam hati melangkah keluar kamar menuju kamar Adelia.


Indah melangkah dengan cepat menuju kamar Adelia, Arman masih berada di ruang kerja mendengar suara langkah kaki.


Dia bangkit dari kursi kerjanya lalu melangkah ke pintu dan membuka pintu sedikit untuk mengintip ke luar ruangan, Arman melihat Indah yang melangkah terburu-buru menuju lantai dua lebih tepatnya ke kamar Adelia.


Arman kembali menutup pintu dan melangkah menuju meja kerjanya, dia segera membereskan kertas-kertas yang berserakan di lantai. Kertas itu lalu di masukkannya sebuah amplop berwarna coklat, Arman lalu menyimpan amplop itu di sebuah tempat yang pastinya tidak diketahui oleh Indah dan lainnya.


Indah tepat berada di depan kamar Adelia, sebelah tangannya terangkat dan mengetuk pintu kamar itu.


Tok... tok... tok...


“Adel... ini mama del, buka pintunya sayang?!” ujar Indah dengan raut wajah cemas. Dia lalu mencoba membuka pintu itu dan mendapati ranjang Adelia kosong, dia lalu mendengar suara Indah di kamar mandi.


“Adel...” panggil Indah sambil mengetuk pintu kamar mandi.

__ADS_1


Ceklek...


Adelia membuka pintu dan keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat sangat pucat. Indah segera membantu dengan memapah Adelia menuju ranjang.


“ Adel... kamu baik-baik saja, sayang? Apa kamu merasa sangat mual sekarang?!” tanya Indah membantu Adelia duduk di ranjang dengan punggung bersandar di kepala ranjang, dengan sigap Indah mengambil tisu untuk di berikan pada putrinya.


“ Ma... Adel minta mama keluar dari kamar Adel sekarang, Adel ingin sendiri saat ini ma” ujar Adelia mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia benar-benar marah dan kesal hingga tidak ingin melihat wajah Indah.


“Adel... Adel... maafkan mama, bukan maksud mama untuk menyembunyikan hal ini. Mama lakuan ini...” ucapan Indah terhenti saat Adelia langsung memotong pembicaraannya,


“ma.... Adel minta mama keluar dari kamar Adel sekarang juga, kalau mama masih tidak mau keluar biar Adel yang pergi...” Adelia hendak turun dari ranjang miliknya, dengan cekatan Indah menghalangi niat putrinya dengan memeluk tubuh Adelia,


“Adel... mama mohon maaf kan mama... mama mohon kamu dengarkan penjelasan mama..” pinta Indah sambil memeluk putrinya, air matanya mulai berjatuhan teringat kondisi putrinya.


“Adel..... mama mohon kamu dengarkan dulu penjelasan mama. Semua ini mama lakukan demi kamu dan masa depan kita, saat mama mengenal Roy awalnya mama mengira dia adalah pria yang mapan dan kaya. Tapi semua tampilan itu hanya tipu muslihatnya untuk menjerat perempuan, dia pria pengangguran yang sangat temperamental. Demi mendapatkan uang dia tega menjadikan mama peliharaan pria hidung belang, mama benar-benar marah dan kesal. mama berniat akan meninggalkannya, sampai mama mengetahui jika mama sedang mengandung kamu. Mama benar-benar bahagia dan sekaligus takut, mama takut Roy yang kala itu tergila-gila ingin menjadi orang kaya akan menghalalkan segala cara. Dia bisa berbuat nekat dengan menunggu kelahiranmu lalu menjualnya pada keluarga kaya” Indah menghela nafas sejenak menatap Adel yang menatapnya balik dengan pandangan tidak percaya.


“mama tahu kamu tidak percaya dengan apa yang mama katakan, tapi itu semua adalah kebenarannya sayang. Roy bukanlah pria yang baik, demi mendapat kekayaan dia rela melakukan apa pun, mama dengan keputusan bulat meninggalkan Roy tanpa memberi tahunya jika mama sedang mengandung. Mama pun bertemu dengan papa kamu sekarang dan jatuh cinta padanya, mama juga mengetahui papa mu memiliki istri yang juga sedang hamil. Demi bisa menjadi bagian papa mu, mama meminta bantuan Roy. Tentu saja itu semua ada bayarannya dan Roy pun mau membantu mama...” Indah dengan tenang menceritakan masa lalunya, hingga rencananya menyingkirkan Rianti secara perlahan.


Indah menatap Adelia yang hanya diam seribu bahasa, dia teringat dengan Indra adiknya.


“ma apakah Indra?!” Adelia menatap Indah dengan penuh arti, Indah tersenyum dan menggeleng perlahan.


“ Tidak sayang, Indra adalah anak kandung papa mu” ujar Indah mengakui status Indra. Tanpa mereka sadari Indra yang juga merasa khawatir dengan Indah berniat menemui untuk menghiburnya, dia sempat melihat Indah yang melangkah menuju kamar Adelia.


Indra lalu menyusul ke kamar Adelia, langkahnya terhenti dan surut saat mendengar pembicaraan Indah dan Adelia. Mata Indra terbuka lebar sat mengetahui kenyataan jika Adelia bukan putri kandung Arman,

__ADS_1


Jadi.... kak Adel bukan...!!!! (terkejut) dan si pembawa si*l itu.... tidak ini tidak mungkin, ini tidak mungkin... gumam Indra dalam hati tidak bisa menerima apa yang baru saja di dengarnya. Perlahan dia melangkah mundur sambil menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya, tanpa sadar sebelah tangannya menyenggol pajangan keramik di atas sebuah meja kecil tepat di samping pintu kamar Adelia.


Praaaaaang.....


Pecahan keramik itu menggema membuat Adelia dan Indah terkejut, mereka berdua segera bangkit sambil menatap ke arah pintu kamar itu.


Adelia membuka pintu kamar, mata mereka membesar saat melihat Indra yang berdiri mematung.


“Indra?!” ujar Adelia terkejut, Indah akan segera menghampiri Indra tapi langkahnya terhenti saat sebelah tangan Indra terangkat di hadapannya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2