Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 136


__ADS_3

Setelah menyelesaikan shalat subuh berjamaah, Nicholas melipat dan merapikan perlengkapan shalatnya. Mata biru itu tertegun saat mendapati Sabrina mengenakan kemejanya yang kebesaran, kemeja itu terlihat seperti mini dress tubuhnya.


Sabrina tengah melipat perlengkapan mukena, dia merasa kedinginan saat merasa udara sejuk dari Ac di kamar Nicholas. Dia lupa jika dia hanya mengenakan baju kemeja Nicholas yang berukuran besar baginya. Matanya tidak sengaja bertemu tatap dengan Nicholas yang memandanginya sejak dari tadi.


“that.. that....sorry I was wearing your clothes, I've been looking for my clothes but couldn't find them at all (itu.. itu.... maaf aku mengenakan pakaian mu, sedari tadi aku mencari pakaian milikku tapi tidak ketemu sama sekali)” ujar Sabrina malu-malu. Dia menundukkan pandangannya tidak berani menatap Nicholas yang tersenyum manis padanya.


Nicholas teringat saat membawa seprai yang kotor tidak sengaja pakaian Sabrina juga ikut terangkut dan di masukkannya ke pakaian kotor. Dia meletakkan sejadahnya di sofa bawah kaki ranjang, menghampiri Sabrina yang tampak berusaha menarik baju kemeja itu ke bawah untuk menutupi kakinya yang terlihat. Wajahnya tampak merona cantik membuat Nicholas semakin tidak bisa menahan diri.


Nicholas merengkuh pinggang Sabrina dan menariknya untuk lebih mendekat ke arahnya, sebelah tangannya mengangkat dagu Sabrina agar pandangan mereka bertemu. kedua tangan Sabrina berada di dada bidang yang tertutup t-shirt hitam yang begitu ketat hingga memperlihatkan dada bidang dan kekar.


“sorry dear... looks like I accidentally mixed your clothes with dirty clothes (maaf sayang... sepertinya aku tidak sengaja menyatukan pakaian mu dengan pakaian kotor)” ujar Nicholas membelai wajah cantik Sabrina yang tampak semakin merona.


“th... then I will take my clothes now (ka... kalau begitu aku akan mengambil pakaian ku sekarang)” ujar Sabrina akan melangkah mundur.


Tangan Nicholas memeluk erat pinggang Sabrina dengan begitu posesif, wajahnya mendekat ke arah telinga Sabrina.


“how could I let you go out of the room dressed seductively like this (bagaimana mungkin aku akan membiarkan mu pergi keluar dari kamar dengan berpakaian menggoda seperti ini)” ujar Nicholas sambil mencium lembut pipi Sabrina yang merona.


Senyuman manis tersungging di wajah Sabrina merasa malu dan geli saat Nicholas memberikan ciuman bertubi-tubi di pipinya, ciuman itu kemudian menuruni leher jenjang yang sudah terhias lukisan abstrak buatan Nicholas.


“Niic... it's almost six in the morning....they'll be up soon.... hmmmm... will wake up (Niic... sudah hampir mau jam enam pagi....mereka sebentar lagi.... hmmmm... akan bangun)” Sabrina bertahan dari serangan gelombang dahsyat yang bergejolak dalam dirinya. Mata indahnya tidak sengaja melihat ke arah jam yang terpasang dinding yang menunjukkan pukul setengah enam pagi.


Nicholas menghentikan sejenak aktivitasnya menatap ke arah Sabrina, dia tidak menghiraukan ucapan istrinya. Gelombang dahsyat terus menerus menghempas dalam dirinya, dia mencoba menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Sabrina merasa pelukan Nicholas sedikit meregang segera membalikkan tubuhnya untuk merapikan kembali pakaiannya.

__ADS_1


Gelombang tsunami semakin di rasakan Nicholas saat tidak sengaja melihat tengkuk dan bahu putih mulus Sabrina yang sempat terbuka. Tangan kembali memeluk tubuh Sabrina dari belakang sambil dia kembali mendekatkan wajahnya, Sabrina langsung menolehkan kepalanya ke samping untuk melayangkan protes. Namun bibirnya yang merah merekah kembali di bungkam oleh Nicholas dengan ciuman manis dan hot jeletot, dia tidak menyiakan kesempatannya untuk mengeksplor perbukitan indah.


Ular sanca memberontak ingin keluar dari kurungannya, desakan dari tubuhnya yang kuat dan besar memaksa sang pemilik untuk membebaskannya. Ular sanca mencari-cari gua miliknya, namun dia sama sekali tidak menemukannya. Badannya yang besar malah terjepit oleh dinding lembah yang sudah basah oleh aliran air yang mengalir.


“Nic...oooh...” ujar Sabrina saat ciuman itu perlahan terlepas. Nicholas memeluk dan medorong Sabrina ke kaca jendela yang tertutup tirai putih. Kedua tangan Sabrina menempel di kaca jendela menahan dorongan Nicholas, wajah tampan itu kembali mendekat ke arah telinga Sabrina sambil membisikkan sesuatu.


Ular sanca yang sempat terjepit akhirnya bisa meloloskan diri berkat bantuan aliran air yang keluar dari gua, dia pun bergerak senang saat menemukan gua tempat persembunyiannya. Tanpa meminta izin ular sanca memasuki gua itu dengan penuh semangat, pergerakannya sangat cepat berusaha untuk menemukan kembali jalan yang sempat di laluinya.


Gerakan ular sanca sangat cepat membuat dinding gua bergerak dan menjepit tubuhnya, jepitan itu tidak mengurungkan niat ular sanca yang terus memasuki gua terdalam.


“uuughhh....ngh.. Brina...” Nicholas memeluk tubuh sabrina dari belakang menariknya untuk lebih dekat. Bibir lembut itu kembali di ciumi dengan penuh kelembutan, rambut yang tergerai panjang di kesampingkannya.


Ular sanca bergerak cepat saat dia merasakan pening yang teramat, dia terus berusaha mencari jalan keluar dari gua itu. Namun jalan buntu yang di temuinya, dia sudah tidak sanggup dan merasa sangat mual. Jalan keluar sama sekali tidak di temukannya, akhirnya dia terpaksa mengeluarkan muntahannya kembali di lantai dasar gua.


Mendadak kaki Sabrina merasa sangat lemas, dia hampir terjatuh tapi langsung di sambut oleh Nicholas. Pria tampan itu menggendong dengan membopong Sabrina ke ranjang yang beberapa jam lalu di bersihkan olehnya.


Ciuman lembut kembali menempel ke bibir lembut Sabrina, mereka berciuman dengan mata yang saling terpejam menikmati kedekatan yang sebelumnya ada dinding pembatas. Gelombang dahsyat tsunami menghempas kuat dalam diri Nicholas, pagi itu mereka melanjutkan olah raga hingga keduanya merasa sangat kelelahan.


Sabrina dan Nicholas berbaring sambil berpelukan dengan nafas mereka yang tersengal-sengal, sambil terus mengatur nafas tangan Nicholas memeluk erat tubuh Sabrina. Mereka berdua seperti bayi yang baru lahir, hanya selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.


***


Matahari pagi tersenyum hangat menyambut suka cita hari yang penuh dengan bunga-bunga cinta, Yohan dan para maid mulai mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Koki menyiapkan menu sarapan dan meletakkannya di meja makan, Yohan menyuruh salah seorang maid perempuan untuk ke kamar Sabrina untuk mengecek apakah Sabrina sudah kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Yohan melangkah menuju kamar Nicholas untuk melakukan tugas rutinnya membuka jendela dan membangunkan tuan mudanya. Dia membuka pintu kamar Nicholas yang tidak terkunci dan melangkah menuju jendela yang tidak jauh dari pintu masuk.


Maid segera melangkah ke kamar Sabrina untuk mengecek, dia membuka pintu kamar dan mendapati kamar itu kosong. Maid itu segera melangkah ke kamar Nicholas hendak memberi tahu Yohan jika nona mereka tidak ada di kamar.


Mata maid itu terbuka lebar saat mendapati tuan mudanya yang berbaring membelakangi mereka, hal yang membuatnya lebih terkejut ada sebuah tangan dengan jari-jari melentik memeluk tubuh Nicholas.


“sir Yohan... sir Yohan....” panggil maid itu setengah berbisik pada Yohan yang tengah membuka jendela. Yohan menatap heran ke arah maid yang memanggilnya dengan berbisik,


“why are you talking in such a whisper? (kenapa kamu berbicara dengan berbisik begitu?)” Tanya Yohan yang belum menyadari.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2