Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 158


__ADS_3

“sorry doctor Maria, I was so happy that I forgot I was still here. I thank you very much (maaf dokter Maria, saya terlalu senang sehingga lupa jika masih berada di sini. Saya ucapkan terima kasih banyak)” ujar Nicholas mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


“I'm also happy with the happiness of Brina and you, my message is to take care of Brina and don't make her tired or stressed (saya juga turut senang dengan kebahagiaan Brina dan anda, pesan saya jaga Brina dan jangan buat dia kelelahan juga stress)” pesan Dokter Maria pada Nicholas.


“I will always remember, thank you again doctor (akan selalu saya ingat, sekali lagi terima kasih dokter)” ucap Nicholas, senyuman tidak pernah hilang dari wajah tampannya. Sabrina yang akan turun dari ranjang pemeriksaan langsung di cegah oleh Nicholas dengan bertindak lebih dulu, di segera membopong tubuh Sabrina tanpa merasa malu ataupun segan pada dokter Maria juga asisten perawat yang menanggapi dengan tertawa bahagia.


“Nicho, I'm healthy and our baby-to-be is healthy too, I'm still strong enough to walk. Put me down, Nicho (Nicho, aku ini sehat dan calon bayi kita juga sehat, aku masih kuat untuk berjalan. Turunkan aku, Nicho)” protes Sabrina yang merasa tidak nyaman.


“no Brina, a message from doctor maria you shouldn't be exhausted, so from now on... (tidak Brina, pesan dari dokter maria kamu tidak boleh sampai kelelahan, jadi mulai sekarang...)”belum selesai Nicholas berbicara sebelah tangan Sabrina segera menempel di bibirnya.


“Nicho, put me down, please (Nicho, Turunkan aku, ku mohon)” Sabrina menatap Nicholas dengan mata yang membulat jernih, tatapan yang membuat Nicholas luluh seketika dan tidak bisa mengatakan tidak dengan apa yang di inginkan Sabrina.


“okay, but if you feel tired just let me know okay (baiklah, tapi jika kamu merasa lelah segera beri tahu aku, oke)” ujar Nicholas yang langsung di jawab dengan anggukan oleh Sabrina. Setelah mengucapkan terima kasih dan mendapatkan hasil foto USG, Sabrina juga Nicholas keluar dari ruangan dokter Maria dengan perasaan yang tidak terlukiskan. Di luar ruangan Yohan dan Jack berserta anak buah Nicholas lainnya tampak begitu penasaran dengan apa yang terjadi di dalam ruangan dokter Maria.


Nicholas tersenyum senang ke arah para anak buahnya, dia berdiri dan memeluk Sabrina dari belakang sambil kedua tangan memegangi perut datar Sabrina. Sebelah tangan Nicholas mengusap lembut perut Sabrina mengisyaratkan jika di dalam sana akan ada penerus keluarga Abraham, Yohan tersenyum senang dan hatinya merasa bahagia tidak terkira. Jack masih tidak mengerti dengan apa yang di lakukan bosnya lalu menatap ke arah Yohan berharap jika dia mendapat jawabannya, Yohan lalu berbisik di telinga Jack yang seketika membuat matanya terbuka lebar.


Yohan sengaja berbisik di telinga Jack agar musuh Nicholas tidak tahu dan membuat kekacauan, walaupun Nicholas sudah menyatakan dirinya mundur dari dunia Mafia. Namun musuh yang merasa iri dengki dengan keberhasilan Nicholas masih banyak berkeliaran, mereka harus ekstra hati-hati dan menjaga agar kabar kehamilan Sabrina tidak sampai di telinga para musuh Nicholas.


Para anak buah Nicholas menyambut bahagia kabar itu, Sabrina menatap ke arah Nicholas yang masih memeluknya dari belakang.


“Nicho, have you told Daddy? (Nicho, kamu sudah mengabari Daddy?)”tanya Sabrina mengingatkan Nicholas dengan John.


“Wait a minute dear, I will send a message with this ultrasound photo for daddy (sebentar sayang, aku akan mengirim pesan dengan foto USG ini untuk daddy)” ujar Nicholas segera mengirim pesan dengan foto USG calon bayi mereka.

__ADS_1


John tengah rapat dengan beberapa koleganya, wajah mereka semua terlihat serius dan menyeramkan. Ponsel milik John yang tergeletak di atas meja bergetar, John segera meraih ponsel miliknya dan membaca pesan yang baru saja di terima. Sebuah senyuman langsung tersungging di wajah John, dia sangat bahagia mendapat pesan dari Nicholas.


Daddy, soon you will be a grandpa (Daddy, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang kakek)


Isi pesan itu bagaikan oase di padang gurun yang tandus bagi John, kebahagiaannya terlukis nyata di wajah saat berulang kali membaca pesan dari Nicholas. Para kolega tampak saling berpandangan kebingungan saat sebelah tangan John terangkat ke udara, mengisyaratkan jika rapat hari itu telah berakhir.


***


Adelia tengah berada di atas meja operasi, Dokter Rudi yang di bantu dengan seorang perawat asisten tengah bersiap untuk melakukan tugas mereka.


“Nona Adelia, ini akan terasa ngilu sekaligus sakit. Anda harus bisa menahannya” Dokter Rudi terus mengingatkan akan bahaya dan dampak pada operasi itu, namun tekad Adelia sudah sangat bulat membuat dokter Rudi tidak mempunyai pilihan lagi.


Dokter Rudi bertindak cepat dan cekatan, Adelia dapat merasakan rasa sakit yang teramat di saat pengoperasian itu di lakukan. Dia ingin berteriak melampiaskan rasa sakit yang di rasakannya, tapi tidak di lakukannya karena dia harus bertahan.


Setiap apa pun yang di kerjakan tentunya ada resiko, Dokter Rudi berhasil mengeluarkan janin yang sudah hampir terbentuk. Dari janin yang berhasil di keluarkan paksa dari perut Adelia, dokter Rudi dapat menyimpulkan jika usia janin itu sudah memasuki ke dua puluh empat minggu.


“sayang” Indah memeluk putrinya yang tengah duduk di ranjang sambil kedua tangan memegangi perutnya.


“Nyonya” panggil Dokter Rudi mengode ke arah Indah untuk mereka berbicara di luar.


“sayang, tunggu sebentar ya. Mama akan berbicara dengan dokter dulu” ujar Indah yang langsung di angguki oleh Adelia. Indah dan dokter rudi tampak berbicara serius, tidak lupa Indah mengeluarkan sebuah amplop tebal dan di berikan pada dokter Rudi.


"tolong anda urus semuanya, termasuk janin itu" ujar Indah kembali melangkah masuk ke dalam ruang operasi. Adelia tampak berusaha untuk duduk dari rebahannya,

__ADS_1


"sayang...." Indah bergegas menghampiri Adelia yang berusaha untuk turun dari ranjang operasi.


" sayang kamu masih belum pulih, kamu jangan memaksakan diri" Indah tampak begitu khawatir dengan kondisi Adelia.


"ma, Adel ingin pulang sekarang" ujar Adelia dengan suara terdengar lemah.


"kamu yakin sayang, apa tidak sebaiknya kamu..." belum selesai Indah berbicara, Adelia menggenggam erat tangan Indah dengan wajah terlihat pucat.


"sekarang ma" ujar Adelia, mau tidak mau Indah mengikuti keinginan putrinya. Indah meminta bantuan asisten dokter untuk membantu mengangkat Adelia dan membawanya ke mobil mereka yang terparkir di luar.


Kebahagiaan jelas terpancar di wajah Nicholas, setelah mengabari Daddynya tidak lupa dia juga mengabari keluarga Sabrina yang berada di Solo. Mereka sangat bahagia mendengar berita kehamilan Sabrina, tidak lupa Andhini dan Ningsih memberi wejangan pada Sabrina untuk selalu berhati-hati.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2