
Jadi gadis ini yang sangat terobsesi dengan Mas Raka gumam Sabrina dalam hati menatap ke arah Rani yang tampak memandang rendah padanya.
“jaga mulut kamu Rani, berani sekali kamu menghina calon istri Raka Candra Wiguna?!” Bentak Raka pada Rani yang sudah berani menghina Sabrina. Raka menatap Sabrina yang terlihat tenang dan sabar, dia tidak menampakkan wajah kesal ataupun marah saat Rani menghinanya.
“sepertinya masuk penjara beberapa waktu tidak memberi pelajaran apa pun padamu, sehingga kamu sangat berani menghina calon istriku?!” kilatan kemarahan tampak di mata Raka. Dia sangat tidak terima saat Sabrina di hina di depan umum, di saat semua orang mulai ikut termakan apa yang di katakan Rani dan mulai berkomentar negatif tentang Sabrina.
“nggak nyangka pake hijab tapi pela**r”
“Eh jangan salah, semakin tertutup semakin menantang juga liar”
“pelakor jaman now, tampil cantik dan berhijab tapi akhlaknya minus banget”
Semua yang hadir di sana mulai berbicara tanpa mengetahui duduk perkara sebenarnya. Mereka membuat opini saat Rani yang begitu tebal muka memberi tahu jika dia adalah calon istri Raka.
Bagus semakin banyak orang tahu jika aku mengatakan kalo aku adalah calon istri Raka, maka kebohongan ini tidak akan terbongkar. Apalagi semua orang tidak mengetahui jika Raka memiliki tunangan dan sangat sensitif dengan kata pelakor, hal ini akan memudahkan aku untuk bersama dengan Raka gumam Rani dalam hati penuh kemenangan.
“siapa yang berani bilang jika perempuan di sampingku ini adalah pelakor?! Jika kalian tidak tahu apa-apa jangan sok memberi komentar, perempuan ini sama sekali bukanlah calon istri ku (Raka menunjuk ke arah Rani yang masih dengan sangat percaya diri)” Raka mempertegas status Rani sebenarnya di depan umum.
Helena dan Wulan segera menghampiri pintu masuk untuk memberitahu jika status Sabrina adalah calon istri Raka yang sebenarnya. Raka melihat para perempuan keluarga mereka akan mendekat segera memberi kode untuk menahan diri.
Rani tampak sangat tidak senang mendengar ucapan Raka, dia pun melirik ke kanan ke kiri. Banyak perempuan terutama para ibu-ibu yang tampak mendukungnya, merasa diri lebih menang Rani mulai melakukan serangan.
“APA... AKU ADALAH CALON ISTRI KAMU RAKA, BUKAN PEREMPUAN PELA**R INI YANG...”
Plaaak.....
Rani terdiam sesaat dan merasakan perih di pipinya, tangan kirinya memegangi pipi yang masih memerah dan berbekas. Mata Rani terbuka sempurna saat melihat ayahnya Adhinata berdiri di depan Raka dan Sabrina.
“tuan Adhinata” Raka terkejut saat melihat Adhinata melayangkan tangan pada putri kandungnya.
“PAPA”
__ADS_1
“bawa Rani kembali ke kediaman, sekarang juga” perintah Adhinata pada anak buahnya.
“tidak, lepaskan gue. Raka.... Raka.... Raka hanya milik gue,” Rani memberontak tatkala para anak buah Adhinata memegang tangannya.
“CUKUP RANI, sudah cukup kamu mempermalukan nama keluarga. Apa yang kalian tunggu, cepat bawa nona kalian” perintah Adhinata, dia sangat malu dengan tingkah Rani. Dengan kekuasaan dan kekayaan Adhinata, kasus Rani dapat di selesaikan hanya Rani harus menginap di balik jeruji selama seminggu.
Tidak hanya menjadi otak pelaku penjebakan Bima dan Anjani, Rani juga mengaku pada semua kolega bisnis dan semua orang jika Raka adalah tunangannya. Tentu saja hal itu langsung dibantahkan oleh Raka yang membuat Adhinata semakin malu.
“Nggak.... Nggak... Gue mau sama Raka.... Papa...papa.. aku mau nikah sama Raka pa. Aku cinta sama Rakaaaaa paa.... Paaaa... Papa....” terdengar teriakan Rani yang menggedor-gedor paksa pintu mobil yang terkunci. Mobil yang di tumpangi Rani segera meninggalkan Butik itu menuju kediaman Adhinata.
“sekali lagi, saya minta maaf pada nak Raka. Akibat ulah Rani membuat nama tunangan nak Raka tercemar” Adhinata dengan tulus meminta maaf.
Para netizen yang sempat berkomentar negatif tampak malu dan hanya bisa terdiam.
“Ternyata cewek tadi yang hanya ngaku-ngaku kalo dia tunangan cowok itu”
“Kasihan cewek berhijab itu di bikin malu ama cewek tukang halu”
Kembali terdengar komentar yang mendukung Sabrina, mendengar itu ingin rasanya Raka menghardik keras netizen yang sudah memandang rendah Sabrina. Tangan lembut Sabrina menahan tangan Raka dan tersenyum manis padanya.
“saya benar-benar malu dengan perilaku Rani, ini semua karena saya yang terlalu memanjakan Rani. Saya benar-benar minta maaf pada nak Raka juga tunangan nak Raka” Adhinata sedikit membungkukkan tubuhnya, Raka juga Sabrina segera menahan apa yang akan di lakukan Adhinata.
“jangan Tuan, tidak seharusnya orang yang lebih tua membungkuk meminta maaf pada kami” Sabrina memegangi lengan Adhinata.
“benar kata tunangan saya tuan Adhinata, akan lebih baik jika anda merestui dan mendoakan pernikahan kami” Raka tersenyum pada Sabrina yang di tatapnya penuh cinta.
Wajah Sabrina kembali merona mendengar apa yang di katakan Raka, membuat kadar kecantikannya meningkat.
“tentunya nak Raka, anda berdua pasangan yang sangat serasi semoga pernikahan anda selalu bahagia. Kalau begitu saya permisi dulu” Adhinata undur diri untuk kembali ke kediamannya.
Orang-orang yang berkumpul lebih memilih membubarkan diri, ada yang merasa malu setelah berkomentar negatif. Wulan, Eliana, Helena dan Asmirah segera menghampiri Sabrina.
__ADS_1
Mereka pun memonopoli Sabrina hingga melupakan Raka yang hanya termenung diam di depan pintu masuk. Para perempuan itu mengajak Sabrina masuk dan duduk di sofa butik.
“sayang, kamu nggak apa- apa kan?” Wulan tampak khawatir.
“ndak apa-apa buk lek, ada mas Raka yang melindungi Sabrina” ujar Sabrina menatap Raka yang masih diam menatap ke arah para perempuan di keluarganya.
Raka melangkahkan kakinya duduk di sofa single samping Eliana.
“itu emang tugasnya dia sayang, siapa suruh tebar pesona sama perempuan halu kayak dia” Helena kesal dan menyindir Raka yang akan duduk. Dia hanya bisa menghela nafas karena di salahkan oleh ibu kandungnya.
“eh kak Raka!!! Masih hidup.... kirain udah pergi ama cewek halu” ujar Eliana santai menatap kakak yang duduk di sampingnya.
“ dasar adek kagak punya akhlak” ketus Raka menatap Eliana sinis.
“untungnya, tuan Adhinata datang dan membawa pergi itu perempuan halu. Kalo nggak, udah mami kirim dia ke rumah sakit jiwa” Helena masih tampak kesal.
“o ya bu lek, kata masa Raka ada hal penting yang mau bu lek dan mami sampaikan. Kalo boleh sabrina tahu, apa itu bu lek?” tanya Sabrina mengalihkan pembicaraan dan perhatian Helena.
“ o iya, hampir lupa bu lek mau ngomong sesuatu ama kamu dan nak Raka” Wulan teringat dengan hal penting yang akan di bicarakan pada Raka dan Sabrina. Mereka berdua saling berpandangan lalu menatap ke arah Helena dan Wulan.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...