Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 96


__ADS_3

“NONA SABRINA...” Arinda terkejut dan sontak memanggil nama Sabrina. beberapa hari sebelumnya keluarga Wiguna mengundang WO yang sedang naik daun di kota mereka untuk acara akad Nikah Raka dan Sabrina.


Mereka pun sempat bertemu dan menjadi dekat karena sifat Sabrina yang terbuka dan mudah berteman dengan siapa saja.


“Sabrina... bukannya nikahan ye maskara beberapa harry capry? Kok ye sekarnia kawanua malah...” ucapan Maya terhenti saat Sabrina menggelengkan kepalanya untuk berbicara banyak, mata Sabrina menatap ke arah pria yang hanya diam berdiri di depan pintu untuk berjaga. Arman mengintip ke dalam kamar melihat Maya dan Arinda belum melaksanakan pekerjaan mereka.


“kenapa kalian belum mulai?” tanya Arman mulai tidak senang. Tanpa banyak bicara Maya memulai tugasnya dengan di bantu Arinda, sesekali mata Arinda menatap ke arah pria yang berjaga di depan pintu.


“Sabrina, kenapose ini tangan kanua?” Maya melihat punggung tangan Sabrina yang memar. Mata Sabrina menatap horor pada Arman yang kembali mengintip dari luar, dia memegang serum penawar racun dan memperlihatkan pada Sabrina.


“i... i...ini nggak apa-apa, sebaiknya kita mulai saja” ujar Sabrina gugup, membuat Maya dan Arinda semakin curiga. Arinda pernah bertemu dengan keluarga Sabrina, perlakuan keluarga Sabrina sangat sopan dan terkesan hangat. Tidak sama dengan perlakuan Arman dan gadis yang sempat menghubungi mereka, terkesan angkuh dan sombong.


Diam-diam Arinda mengeluarkan hp sambil terus mengawasi pria yang berjaga di pintu.


Arinda : apakah nona dalam masalah? Katakan saja pada kami


Arinda memperlihatkan tulisan itu pada Sabrina dan memberikan ponselnya. Jari jemari Sabrina mengetik dengan cepat dan memperlihatkan pada Arinda,


Sabrina : jangan... aku mohon jangan melakukan apa pun dan juga jangan hubungi keluarga ku, atau semuanya akan hancur


Sabrina menggelengkan kepalanya dengan raut wajah memohon pada Arinda dan Maya, Arinda kembali menulis di ponselnya.


Arinda : apa nona di culik atau.... ( memberikan ponselnya pada Sabrina kembali)


Sabrina : tidak... aku tidak di culik, pria di luar itu adalah ayah kandungku, aku mohon anda jangan bertindak apa pun atau ada dua nyawa yang akan melayang


Maya tetap terus melanjutkan pekerjaan mereka, hingga Adelia dan Indah datang membawa baju yang akan di kenakan Sabrina.

__ADS_1


“aduuuuh... yang akan menikah hari ini. Tersenyum dong, masak di hari bahagia ini pengantin wanita harus bersedih seperti ini” ujar Adelia datang dengan gaya angkuhnya. Mata Sabrina menatap ke arah Adelia dengan tajam, tapi dia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Nyawa kakek dan bapaknya kini ada di ujung tanduk, ingin dia menceritakan pada keluarganya dan Raka.


Namun hal itu tidak di lakukan Sabrina, karena dia tahu bagaimana keluarga Arman. Mereka tidak main-main dengan ancaman bahkan mereka bisa menyingkirkan siapa pun yang menghalangi mereka.


Arinda dan Maya menatap bingung satu keluarga itu, sifat dan tingkah laku mereka terkesan tidak menyukai Sabrina. Maya tetap terus melanjutkan pekerjaan mereka dengan begitu banyak pertanyaan berputar di benaknya.


Beberapa menit kemudian make over Sabrina sudah selesai, Indah lalu meminta Arinda dan Maya untuk membantu Sabrina berpakaian. Mata Maya dan Arinda membulat sempurna, lalu menatap ke arah Indah juga Adelia.


“nyonya, sepertinya kalian sutra belalang banjaran yang salsa deh” ujar Maya memperlihatkan pakaian pilihan Indah, pakaian itu berlengan pendek dengan kemben yang terlihat sangat terbuka.


“Alah... udahlah, pakaikan saja yang ada. Sudah jam berapa nih” ujar Indah acuh tak acuh.


“maaf nyonya, maksud kami nona Sabrina ini berhijab dan sepertinya anda terburu-buru lalu mengambil baju yang salah,” ujar Arinda dengan sopan dan berhati-hati.


“ alah... nggak usah kebanyakan gaya deh, pakaikan saja itu padanya. Gitu aja di ribetin” ujar Adelia mulai kesal. Maya yang mendengar ucapan Adelia merasa sangat kesal.


“helllo... indang bukan masalah banjaran indang cucok apipa tinta, tapi indang masalah keyakinan seseorang. Kanua seharusnya menghargai itu” Maya tampak kesal, tangannya terasa sangat gatal ingin menjambak rambut Adelia.


"sayang... cantiknya mama. kamu tenang dong, jangan marah-marah. Sekarang sebaiknya kamu siap-siap karena sebentar lagi kita akan berangkat” ujar Indah.


“tapi ma...” Adelia masih tidak terima dan ingin membalas Maya, tapi tatapan Indah membuatnya memilih diam keluar dari kamar itu dengan perasaan dongkol.


“ May.... tenang dong, jangan kesal gitu. Inget pesan mbak Cantika kalo kita harus fleksibel, jangan marah dengan klien” Bisik Arinda menenangkan Maya.


“habibanya akika kesal sami itu perempewi, pengen akika jambak itu multatulinya” maya meremas kedua tangannya ke arah Adelia yang sudah menghilang di balik pintu.


“udah deh May” Arinda berusaha menenangkan sahabatnya, lalu melihat ke arah Sabrina yang diam sedari tadi. Matanya memancarkan kesedihan saat Indah dan Adelia memaksanya untuk memakai pakaian pilihan mereka yang bertolak belakang dengan dirinya.

__ADS_1


“udah kalian berdua pakaikan saja pakaian itu, waktunya sudah mepet ini” ujar Indah terus menerus melihat jam di ponselnya. Arinda teringat dengan contoh pakaian yang akan di perlihatkan Maya pada Sabrina sebelum hari H akad nikah.


“nyonya, begini saja. Kebetulan kami membawa contoh pakaian yang akan di gunakan nona Sabrina di acara akad Nikah. Bagaimana menurut anda?” tanya Arinda dengan ramah. Sabrina tampak bernafas lega dengan ide yang di berikan Arinda.


“ ya sudah cepat ambil bajunya, jangan lama-lama” ujar Indah melangkah keluar kamar meninggalkan Sabrina, Arinda dan Maya.


“ya sutra, akika ambarawa banjaran dulang” Maya melangkah keluar kamar menuju lift untuk mengambil pakaian di mobil.


Arinda menemani Sabrina yang memaksakan tersenyum padanya, dia ingin berbicara namun terhenti saat Indah kembali ke kamar dengan membawa kotak obat.


“kamu, tolong bantu obatin tangan dia,” perintah Indah, hal itu terpaksa dia lakukan lantaran perintah dari Arman. Rupanya saat Maya merasa heran dengan luka memar di punggung tangan Sabrina di ketahui oleh Arman, tidak ingin Nicholas murka saat melihat luka di tubuh Sabrina dia lantas menyuruh Indah untuk membawa kotak obat dan mengobati tangan Sabrina.


Arinda dengan senang hati membantu, Sabrina menatap dengan tatapan rasa terima kasih. Dengan berhati-hati Arinda mengobati luka di punggung tangan Sabrina sesekali mengajaknya berbicara, namun pembicaraan mereka tidak bebas karena di awasi oleh Indah. Maya datang dengan pakaian pengantin di tangannya, Arinda mengambil pakaian itu lalu membantu Sabrina untuk berpakaian.


Setelah beberapa menit, Sabrina keluar dengan tampilan yang berbeda. Dia terlihat sangat cantik dan bercahaya dengan pakaian berwarna putih rancangan Maya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2