
“ what about our people watching over Arman and his family?( bagaimana dengan orang kita yang mengawasi Arman dan keluarganya?)” tanya Jack lagi, di senantiasa mengikuti bosnya.
Nicholas berhenti sejenak, dia diam dan larut dalam pikirannya.
“boss, I suggest we better pull them out. The problems we are facing right now really need a lot of people, Miss Sabrina will certainly be safe because her cousin from the army is with Mr. Adiwijaya's family. You certainly don't have to worry anymore (bos, saya sarankan sebaiknya kita menarik mereka. masalah yang kita hadapi saat ini sangat membutuhkan banyak orang, nona Sabrina tentunya akan aman karena kakak sepupunya yang dari angkatan darat ada bersama keluarga tuan Adiwijaya. anda tentunya tidak perlu khawatir lagi)” jelas Jack lagi berharap jika bosnya mengerti dengan posisi sulit mereka.
Nicholas tampak tidak senang dengan usulan Jack, tapi dia tidak bisa pungkiri juga jika di negaranya dia membutuhkan orang banyak untuk mengantisipasi masalahnya.
Kembali dengan berat hati Nicholas memerintahkan Jack untuk menarik orang mereka yang mengawasi Arman dan keluarganya. Dia juga menyuruh Jack untuk secara diam-diam memasang alat pelacak pada Arman dan keluarganya agar mereka tidak kabur atau menghilang begitu saja.
Jack segera melaksanakan perintah Nicholas, menghubungi orang yang mengawasi Arman dan memintanya untuk memasang alat pelacak mereka. Setelah para penumpang duduk dengan tenang dan memasang sabuk pengaman, pilot pesawat pribadi Nicholas memberi informasi pada petugas bandara untuk memberi izin meninggalkan landasan.
Mata tajam itu tampak sedih dan berat hati meninggalkan negara di mana pujaan hatinya berada. Dia hanya bisa berharap jika pernikahan Sabrina berjalan lancar dan memberi kebahagiaan untuk gadis yang sudah menghidupkan hatinya.
***
Adelia teringat dengan botol yang di mintanya di bawa oleh Indah, terbesit sebuah ide brilian di otaknya.
“ma.. di mana botol yang aku mita bawakan?” tanya Adelia pada Indah yang tengah membantu Arman berpikir.
“itu mama taruh di dalam tas mama, memangnya itu botol apa sayang?” tanya Indah penasaran.
Adelia segera mengambil tas Indah dan memeriksa botol kecil yang di mintanya pada Indra. Matanya tampak berbinar menatap sebuah tas kecil yang berisi dua botol kecil dan empat botol serum kaca, Indah dan Arman begitu penasaran dengan benda yang di pegang Adelia.
“isi dari dalam botol ini akan membantu memuluskan rencana kita pa, ma. Botol yang ini berisi racun paling mematikan, walaupun tidak cepat membunuh orang tapi racun ini mampu membuat orang jatuh sakit bahkan koma. Jika tidak mendapat penawar ini secepatnya, mereka tidak akan selamat alias khheeek ( Adelia memperagakan dengan telunjuknya membuat garis melintang di leher putihnya) mat*....” ujar Adelia memperlihatkan satu botol kecil racun yang di belinya bersama indra di pasar gelap.
Awalnya mereka berencana menggunakan racun itu pada Nicholas, jika dia terpaksa harus menjadi jaminan. Namun, dia bersyukur jika Nicholas lebih memilih Sabrina dari pada dirinya.
__ADS_1
“lalu botol yang ini...” Arman penasaran dengan botol kecil dengan serbuk pink di dalamnya.
“ini adalah serbuk pembangkit gair*h pa. siapa saja yang meminumnya dengan dosis tertentu akan tidak tahan untuk melakukan itu, penawarnya ya... hanya dengan melakukannya.... awalnya aku akan memberikan obat ini pada cewek jal*ng itu...tapi....” Adelia terhenti saat melihat raut wajah Arman yang mulai kesal kembali.
“trus kenapa kamu mengeluarkan ini?” tanya Indah mengalihkan pembicaraan. Adelia lalu menjelaskan rencananya yang baru saja terpikir olehnya pada Arman dan Indah, senyuman licik tersungging di bibir mereka.
“brilian... rencana yang sangat bagus. Kamu memang anak papa yang paling papa sayang” ujar Arman memeluk Adelia dengan rasa bangga.
“tentu aja dong pa, Adelia akan membalas setiap penghinaan dan rasa sakit kita pada wanita jal*ng yang sok alim itu” ujar Adelia penuh dendam.
Mereka pun segera bersiap-siap menunggu kedatangan Adiwijaya dan Wiyasa, tidak lupa juga racun yang tentunya sudah mereka taruh di tempat yang tidak akan mereka duga.
Tidak berapa lama, Adiwijaya dan Wiyasa sampai hotel tempat Arman juga keluarganya menginap. Mereka melangkah menuju resepsionis untuk bertanya apakah tamu di kamar XX berada di kamar atau tidak, setelah mendapat informasi mereka segera melangkah menuju lifft dan menekan tombol lift menuju lantai kamar Arman.
Wiyasa memperhatikan setiap angka di depan pintu kamar, dia akhirnya menemukan nomor kamar yang dii carinya.
Indah segera membuka pintu kamar, dengan memasang wajah sedih, jika ada pemilihan untuk peran akting terbaik tentunya Indah akan memenangkan penghargaan itu.
“selamat datang tuan ( berwajah sedih) maaf jika kami hanya bisa menyambut anda di sini” ujar Indah, Adiwijaya dan Wiyasa menatap Idah dari ujung kepala hingga kaki.
“assalamualaikum” ujar Adiwijaya memilih mengabaikan Indah masuk ke kamar yang juga memiliki ruang tamu sendiri.
Arman memasang wajah sedih dan tidak berdaya, semua juga di dukung dengan rasa sakit di tangan sebelah kanannya yang terluka.
“apakah kau sudah berganti agama atau lupa dengan ajaranmu hingga salamku masih tidak kau jawab” ujar Adiwijaya dingin mempertanyakan agama Arman.
Sontak seketika mereka bertiga menjawab salam Adiwijaya dengan terbata-bata, Arman sudah begitu melupakan agama yang di yakini olehnya. Dia lebih mengejar harta duniawi hingga melalaikan kewajibannya, raut wajahnya semakin tampak kesal di bentak tepat di hadapan anak, istri dan mantan saudara iparnya.
__ADS_1
Wiyasa memperhatikan punggung tangan Arman yang terlihat mengalami luka sangat parah.
Kenapa dengan tangannya? Lukanya terlihat sangat dalam, apakah ini karma karena dia hampir memukul Sabrina? Gumam Wiyasa dalam hati.
Indah mempersilahkan Adiwijaya dan Wiyasa untuk di sofa yang tersedia, indah juga Adelia segera membuatkan minuman untuk Mereka. Wiyasa terus memperhatikan tingkah laku Indah juga Adelia tidak ada yang mencurigakan, minuman hangat terhidang di meja itu.
“aku tidak akan basa basi lagi dan tentunya kamu tidak ingin kami berlama-lama di sini. Silakan kamu isi surat ini dan bubuhi tanda tangan di dalamnya” ujar Adiwijaya menganggukkan kepalanya pada Wiyasa untuk menyerahkan surat yang mereka bawa.
“surat apa ini?” tanya Arman berpura-pura tidak mengetahui surat itu. Matanya terbuka lebar saat membaca surat ya di pegangnya, lalu di menatap ke arah Adiwijaya.
“Apa maksud surat ini?” tanyanya tampak tidak senang.
“Tentunya kamu pandai membaca surat itu, kamu tentunya tidak ingin lagi memiliki hubungan apa pun dengan cucuku. Dengan kamu membubuhkan tanda tanganmu di sana, tanggung jawabmu untuk menikahkan Sabrina dengan pria pilihan kami otomatis akan berpindah pada wali hakim” ujar Adiwijaya menatap tajam dan Mengintimidasi.
**********
dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....
Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...