Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 184


__ADS_3

Gendis Sri Wiguna, Cicit dan cucu perempuan pertama dalam keluarga besar Adiwijaya juga Wiguna, selayaknya yang paling kecil dalam keluarga itu tentunya Gendis menjadi pusat perhatian dan kasih sayang dari ke dua keluarga besar itu.


“emang si Gendis ngeluh apa?” ujar Bima yang penasaran dengan ucapan Gendis putrinya, saat ini Gendis baru pandai berbicara dan sangat suka meniru atau membeo apa pun yang di dengarnya.


“ Ngeluh kalo bapaknya rada somplak” Wibisana dan lainnya otomatis tertawa terbahak – bahak. Raut wajah Bima seketika berubah sedikit bete mendengar tawa keluarganya, Adrian lalu bertanya kembali pada Helena keberadaan Eliana.


Helena dengan semangatnya menceritakan pertemuannya dengan Baby menggemas bermata biru itu, baby itu berhasil membuat Helena jatuh hati.


“kalo gitu kita ke sana saja, papi penasaran dengan babynya” ujar Adrian melangkah beriringan dengan Helena menuju pusat informasi di ikuti dengan Bima dan Wibisana.


Sepanjang perjalanan menuju pusat informasi Adrian dan Wibisana terus menerus mendengar cerita tentang pertemuan Helena juga lainnya dengan baby itu. Tidak hanya Helena yang bersemangat menceritakan, Bima juga ikut menambahkan dan terpesona dengan wajah imut baby itu.


“awalnya mami ngira Raka ngambil anak orang atau anak dia yang kita nggak ketahui dengan perempuan mana, alhamdulillah ternyata itu hanya kami saja” ujar Helena lega.


“tapi entah kenapa ya... sekilas saat aku melihat wajah baby itu terlihat mirip seseorang gitu, tapi aku nggak yakin apa memang dia orangnya” ujar Bima membuat Helena dan lainnya menatap ke arahnya. Mereka sudah hampir sampai di pusat informasi, dalam beberapa langkah lagi mereka akan bertemu dengan Raka dan lainnya.


Mendadak saja mereka harus menghentikan langkah saat mendengar komentar Bima yang ambigu,


“Mirip siapa Bima?!” ujar Wibisana. Bima menatap ke arah depannya di mana Raka dan Eliana tengah berbicara juga bersenda gurau bersama dengan perempuan yang di kenalnya, dia termenung saat melihat pemandangan di hadapannya. Matanya membulat sempurna saat dia merasa pasti jika apa yang di lihatnya tidaklah salah, Helena, Adrian dan Wibisana yang berdiri di posisi membelakangi Raka menatap heran pada Bima.


“kamu kok malah bengong?” tanya Helena merasa heran dengan sikap Bima.


“mirip siapa sih Bim?” ujar Wibisana kepo tingkat dewa.


“Mbak Sabrina...” ujar Bima termenung menatap ke arah perempuan cantik tengah menggendong baby yang mereka temui tadi.


Helena dan lainnya sejenak termenung mendengar ucapan Bima, Helena lalu menghela nafas panjang.

__ADS_1


“sigh... Bima.... Bima... mana mungkin baby itu mirip Sabrina. Kita semua tahu tentang kejadian dua tahun yang lalu, melihat perang mafia seperti itu mami sangsi jika Sabrina masih hidup” ujar Helena.


“tapi bisa kemungkinan dokter Sabrina masih hidup mi, kan kita dengar sendiri dari keluarga Adiwijaya kalo dia berada di tempat yang aman” ujar Adrian teringat dengan ucapan Anjani.


“mami nggak percaya pi, bisa aja mereka sengaja ngasih tahu ke keluarga besan kita kalo Sabrina di tempat yang aman agar keluarga besan kita nggak tahu kenyataan sebenarnya” ujar Helena.


“benar juga apa yang dikatakan tante, bisa aja mereka menutupi kematian dokter Sabrina agar mereka tidak di salahkan” ujar Adrian yang juga menyangsikan jika Sabrina masih hidup.


“Ini semua salahnya ayah Sabrina, andai aja waktu itu dia nggak maksa Sabrina nikah ama mafia itu mungkin aja... “ ucapan Helena terhenti saat Adrian memegang pundak istrinya.


“Mi... udahlah... ikhlas mi, ini jalan yang sudah di atur ama Allah...” ujar Adrian mengingatkan Helena yang langsung beristigfar. Bima masih termenung menatap ke arah perempuan yang tersenyum manis dan berbicara dengan Eliana, dia melihat ke arah baby tampan yang tampak memainkan hiasan hijab milik perempuan cantik itu.


Teringat oleh Bima saat Anjani memberitahunya tentang kabar dari anak buah Nicholas, mereka memberi kabar jika Sabrina berada di tempat aman dan dalam keadaan baik-baik saja. Mereka sama sekali tidak bisa memberi tahu di mana Sabrina juga babynya berada, itu sengaja di lakukan oleh anak buah Nicholas untuk menjaga agar pihak musuh yang masih mendendam tidak mengetahui lokasinya.


Berita peperangan mafia di negara kangguru itu tersebar di media masa, baik dalam maupun keluar negara. Helena dan keluarga Wiguna sangat terkejut saat mendengar berita itu, mereka pun segera bertanya pada pihak keluarga Adiwijaya tentang kebenarannya. Adiwijaya menjelaskan jika Sabrina dalam keadaan baik-baik saja, namun Helena tidak percaya begitu saja karena melihat kondisi lokasi yang sempat di liput oleh beberapa awak media terlihat jelas banyak yang meninggal.


“lebih baik mami, papi dan kamu lihat sendiri aja, apa yang aku lihat sekarang ini hantu atau nyata manusia?” ujar Bima menunjuk ke arah belakang mereka. Helena dan lainnya membalikkan tubuh dan melihat ke arah Raka juga lainnya, mereka pun terkejut saat melihat sosok perempuan yang mereka kira sudah tidak ada.


“Sabrina,” ujar mereka serentak membuat Sabrina juga lainnya serentak menolehkan kepala menatap ke arah Helena, Bima, Adrian dan Wibisana. Senyuman manis tersungging di wajah cantik Sabrina menyapa ramah Helena dan lainnya, mata mereka semakin terbuka lebar saat melihat baby yang ada dalam gendongannya.


Sabrina di temani yang lainnya menghampiri Helena, Adrian, Bima dan Wibisana,


“Assalamualaikum tante Helena, dokter Adrian, dokter Wibisana, Bima” sapa ramah Sabrina, mereka masih termenung menatap lama ke arah Sabrina. Karena salamnya yang tidak di jawab Sabrina kembali menyapa dengan senyuman manis tersungging di bibirnya yang pink natural,


“assalamualaikum semuanya” ujar Sabrina kembali. Helena dan lainnya masih terdiam lalu menatap Sabrina dari ujung kepala hingga kaki, mereka juga melihat ke arah baby tampan yang di gendong oleh Sabrina.


Sekilas wajahnya memang mirip Sabrina, namun saat mereka memperhatikan lagi terbayang jelas wajah Nicholas suami Sabrina. Warna mata, hidung dan wajahnya mirip dengan Nicholas, mereka semua seolah-olah tengah melihat Nicholas tapi dalam versi baby. Sabrina menatap ke arah Raka dan Eliana yang sama-sama heran melihat sikap mereka, Eliana lalu menepuk tangan sekali tepat di depan wajah untuk menyadarkan mereka dari lamunan yang tidak berkesudahan.

__ADS_1


“yeee pada ngelamun. Segitunya banget ngeliatin mbak Sabrina,” ujar Eliana menyadarkan mereka, Helena mengucek matanya memastikan apa yang di lihatnya adalah nyata.


“Tante nggak apa-apa?” tanya Sabrina pada Helena.


“ha... I... I... Iya... Tante nggak apa... Apa... (kembali menatap ke arah Sabrina) Ini beneran kamu... Sabrina?” tanya Helena memastikan. Senyuman manis tersungging di bibir Sabrina saat mendengar pertanyaan Helena, Eliana langsung menepuk keningnya lembut.


“Aduuh mi... ini beneran mbak Sabrina, masak hantu?! Aya aya wae sih mami mah” ujar Eliana memecah kesunyian di antara mereka. Mereka serentak tersenyum mendengar komentar Eliana,


" aduuh... Sabrina maafin tante ya... tante mengira kamu... ( merasa tidak enak hati) hmmm maaf ya... kamu udah nggak ada” ujar Helena tersenyum canggung.


“ndak apa – apa tante, Brina maklum tante dan lainnya berpendapat seperti itu” ujar Sabrina sambil memberikan tangan kanannya pada Yusuf yang masih asyik dengan dunianya sendiri.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2