
Malam hari di Surakarta...
Setelah beristirahat dan menyelesaikan kewajibannya, Sabrina duduk di ruang keluarga bersama keluarganya. Mbok Darmi datang menghidangkan teh hangat juga cemilan di meja. Mereka bercengkerama hangat, sesekali terdengar tawa bahagia dari mereka. Ada keraguan di hati Sabrina yang ingin bertanya sesuatu yang mengganjal di hatinya.
“Eyang... tentang rencana pernikahan Sabrina dan Mas Raka...” Sabrina dapat melihat raut wajah kekhawatiran dari mereka.
Benar dugaanku... telah terjadi sesuatu gumam Sabrina dalam hati.
“ ap....apakah ada kendala dengan rencana pernikahan kalian, nduk?” tanya Andhini khawatir jika rencana mereka gagal.
“ ndak bu, keluarga Mas Raka setuju jika pernikahan kami di percepat. tapi...." Sabrina menatap keluarganya satu persatu.
“Tapi apa nduk?” Ningsih penasaran.
“eyang, bapak dan ibu, saat Sabrina akan menemui mas Raka di kantornya. Sabrina bertemu dengan papa dan Adelia....” Sabrina kembali terdiam saat melihat wajah keluarganya yang terlihat sedih juga khawatir. Dia menatap wajah keluarganya yang terlihat tegang dan khawatir, sangat terlihat jelas kemarahan di wajah Wiyasa.
Masih teringat jelas oleh Wiyasa saat Arman mencari Sabrina, melontarkan kata-kata penghinaan dan kasar di tuju untuk putrinya. Untuk pertama kalinya Sabrina melihat kemarahan dan kebencian yang terlukis jelas di wajah keluarganya.
“ibu... Apa.... Papa datang kemari?” tanya Sabrina ragu-ragu.
“astagfirullah....” Ujar Adiwijaya menenangkan amarahnya. Dia menatap ke arah Sabrina dengan pandangan lembut, Andini memegang tangan sambil menepuk-tepuk lembut.
“nduk.... Bukan maksud kami menyimpan apa pun dari mu, memang benar papa mu datang kemari untuk mencari mu” ujar Andhini.
Terbesit rasa bahagia di hati Sabrina saat mendengar ucapan Andhini, rasa rindu juga bahagia Sabrina mampu mengalahkan dan melupakan kejadian yang tidak mengenakkan saat di kantor Raka. Ningsih dan Andhini benar-benar tidak tega memberitahu kenyataan yang sebenarnya.
“Sabrina,” Adiwijaya menatap prihatin pada cucunya, Dia benar-benar tidak ingin Sabrina tahu tujuan Arman datang menemui mereka. Tapi Adiwijaya harus mengatakan yang sebenarnya agar Sabrina tidak jatuh dan terpedaya dengan Arman.
“iya eyang” senyuman manis terlukis di wajah Sabrina.
“cah ayu... Eyang harap kamu tidak salah paham dan sedih dengan apa yang akan kami beritahu pada mu. Semua ini terpaksa kami ceritakan agar kamu ndak terjebak dengan rencana papamu...” Adiwijaya pun menceritakan apa yang terjadi saat Arman dan Adelia datang ke kediaman mereka.
Sabrina tersenyum Kecut menyadari kekeliruan di hatinya, sebenarnya dia sudah tahu jika sangat tidak mungkin Arman menemui dan merindukannya. Harapan kelak dia bisa memeluk dan di sayangi oleh ayah kandungnya sendiri, mustahil akan terwujud. Andhini dan Wiyasa dapat melihat juga merasakan kesedihan yang di rasakan Sabrina.
“Sabrina.... Nduk....” Andhini merangkul pundak putrinya, dia tahu jika saat ini Sabrina sangat terluka.
__ADS_1
“Ndak apa -apa buk, Sabrina.... Sabrina ijin ke kamar dulu...” ujar Sabrina bangkit dari tempat duduk melangkah kaki menuju kamarnya.
“Sabrina...” Andhini ikut bangkit dari tempat duduk akan mengikuti Sabrina untuk menghiburnya.
“dek.... Berikan dia waktu untuk sendiri” ujar Wiyasa menahan Andhini.
“tapi mas...” Andhini khawatir.
“nduk, percaya dengan putrimu. Insyaallah dia akan baik-baik saja dan mengerti walaupun hal ini sangat menyakitinya” Ningsih memberi pengertian pada Andhini.
Adiwijaya sangat tahu apa yang kini di rasakan oleh cucunya, dia hanya bisa menghela nafas dan menatap ke arah pintu kamar Sabrina yang tertutup rapat.
Sabrina duduk di tepian Ranjang kamarnya, air mata sebening kristal jatuh membasahi pipinya. Dia menangis dalam diam merasakan kepedihan saat mendengar apa yang di sampaikan Adiwijaya. Dalam hatinya merasa sangat marah, sedih dan pedih.
“astagfirullah ‘aladzim.... astagfirullah ‘aladzim... astagfirullah ‘aladzim...” berulang -ulang Sabrina mengucapkan istigfar sekedar menenangkan rasa amarah di hatinya.
Tangisannya terhenti saat melihat ponselnya yang berbunyi sedari tadi, tertulis nama ‘mas Raka’ di layar ponselnya.
Mata indah itu berkaca-kaca, dia tidak berani mengangkat telepon dari Raka dengan mata sembab dan wajah sedihnya. Segera dia menyeka air mata, menarik nafas dalam-dalam dan membuang perlahan agar merasa tenang. Dia tidak ingin Raka nantinya merasa khawatir dan cemas.
“waalaikum salam sayang...” Raka merasakan ada yang janggal saat mendengar suara Sabrina.
“sayang.... ada apa? Kenapa suaramu terdengar sedih?” tanya Raka.
“ ndak mas... Sabrina ndak kenapa-napa”
“benar kamu nggak apa-apa?” Raka curiga. Sabrina terdiam, matanya kembali berkaca-kaca. Sebelah tangannya menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara yang membuat Raka semakin curiga.
Diamnya Sabrina semakin menguatkan dugaan Raka jika telah terjadi sesuatu dengan tunangannya. Dia segera mengalihkan panggilannya menjadi Video call, Sabrina semakin kebingungan. Air mata yang menetes segera di sekanya dengan tisu, smartphone di letakkan di tempat tidur. Dia segera berlalu ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Tanpa sengaja jari Sabrina menggeser icon untuk mengangkat telepon dari Raka. Dapat terdengar olehnya suara isak tangis Sabrina membuatnya penasaran gerangan apa yang telah terjadi.
“sabrina.... Sabrina.... Kamu di mana sayang” panggil Raka berkali-kali, tampilan layar di ponsel sabrina hanya menampilkan langit-langit kamarnya. Tangan Sabrina segera meraih kembali smarthphone miliknya, Raka dapat melihat jelas wajah Sabrina yang basah terkena air.
“maaf mas Raka, tadi Sabrina...” belum sempat Sabrina menjelaskan, Raka memotong pembicaraannya.
“Sayang, apa kamu menangis? Ada apa? Apa ada telah terjadi sesuatu di sana?” tanya Raka khawatir.
__ADS_1
“ndak mas, ndak terjadi apa-apa. Ini hanya air mata bahagia, Sabrina...” ucapan Sabrina terputus saat Raka menatap sedih padanya.
“Sayang.... Sebentar lagi kita akan menikah, mas harap kamu tidak menyimpan apa pun dari mas. Ceritakan semua beban di hati mu pada mas” ujar Raka terdengar sedih. Senyuman manis tersungging di wajah cantik Sabrina, hatinya merasa damai saat mendengar ucapan tulus Raka.
“Mas, Sabrina benar ndak apa-apa. Insya Allah Sabrina bisa menyelesaikannya, jika semua sudah di luar kendali Sabrina akan menceritakannya pada mas” ujar Sabrina. Raka hanya bisa menghela nafas, ingin sekali dia membantu Sabrina namun dia harus bisa menghargai privasi tunangannya. Wajahnya masih terlihat sangat sedih membuat Sabrina menjadi merasa bersalah.
“mas...”
Raka menatap wajah Sabrina, senyuman manis tersungging di bibir mungilnya. Memberikan kehangatan tersendiri di hati Raka, sebelah tangannya menyentuh layar ponselnya seakan membelai cantik wajah tunangannya.
“jika kamu butuh bantuan mas, jangan sungkan untuk membicarakannya”
“iya mas... O ya... Mas menelepon Sabrina ada apa ya?” tanya Sabrina sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
“kalo mas kangen sama kamu, apa mas nggak boleh menelepon kamu?”
Wajah Sabrina merona merah saat mendengar ucapan Raka, hatinya semula sakit berangsur menghangat saat mendengar calon imamnya. Mereka pun melanjutkan pembicaraan dengan Raka yang melancarkan jurus rayuan maut di ajarkan oleh Thio dan Wibisana, hal itu sengaja di lakukan Raka untuk menghibur tunangannya yang tampak sedih. Jurus rayuan maut Raka membuahkan hasil, perlahan-lahan Sabrina mulai melupakan sejenak kesedihannya.
**************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
mohon maaf 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 jika kedua karya Author "terjebak cinta CEO dingin" dan "Cinta Sabrina" mengalami keterlambatan updatenya. di karenakan dalam rangka membantu bocil mengerjakan tugas-tugas sekolah yang sangat banyak jadi jarang update.
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1