Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 144


__ADS_3

Bima menyadari hal itu dan mengerti dengan tatapan dari Thio,


“Aduh cah bagus, kalo suka mbok ya dibilang aja jangan di pelihara itu sifat diam. Ntar di ambil orang trusnya kamu jadi galau..” belum selesai Bima berbicara sebelah tangan Thio sudah mendarat di lengan kirinya dengan mata Thio yang melihat ke arah Raka juga Dewi.


Bima hanya cengengesan dan memberi kode pada polisi untuk kembali melanjutkan penjelasannya, setelah itu polisi pamit untuk kembali ke markas.


Raka melihat ke arah Dewi yang terlihat shock,


“maaf sebelumnya nona Dewi, apa anda mengenal ke dua pria itu?” tanya Raka menatap ke arah pria yang sudah di amankan kepolisian.


“saya tidak mengenal mereka, hanya saja saat saya bekerja beberapa kali saya melihat mereka berada di hotel” ujar Dewi,


“ kak, sepertinya rubah tua itu sudah menargetkan nona Dewi, karena sudah menggagalkan rencananya” tebak Bima.


“ mengetahui rencananya gaga kali ini, aku yakin dia akan bertindak nekat kembali untuk menyakiti nona Dewi” ujar Thio langsung di mengerti oleh Raka.


“berarti mereka akan kembali lagi...” ujar Dewi dengan wajah terlihat sedikit ketakutan.


“kak menurutku sebaiknya kita antar nona Dewi untuk memastikan keselamatannya” ujar Bima menatap ke arah Dewi yang tampak ketakutan.


Raka diam dan larut dalam pikirannya, Thio menatap Dewi yang memegangi kedua lengannya yang terlihat gemetaran. Dia lalu melepaskan jas miliknya dan memakaikan ke pundak gadis cantik itu, Dewi termenung saat mendapat perlakuan lembur dari Thio.


“tidak usah tuan,...” tolak Dewi dengan sopan.


“pakai saja, “ ujar Thio menatap ke arah Bima yang tersenyum dengan penuh makna. Tidak berapa lama terdengar seruan panggilan yang menandakan telah masuknya waktu kewajiban untuk mereka.


“baiklah kita akan mengantar nona Dewi, tapi sebelumnya kita menunaikan kewajiban dulu. Nona Dewi sebaiknya anda menghubungi keluarga anda, agar mereka tidak khawatir” ujar Raka membuat Dewi terdiam sejenak. Matanya terlihat sendu, hal itu diketahui oleh Thio yang memperhatikannya sejenak.


"ada apa, nona Dewi? Jika anda merasa takut untuk....” ujar Bima yang langsung di potong oleh Dewi.


“bukan... begitu, aku... keluargaku.... sebenarnya...” Dewi terlihat ragu-ragu untuk berbicara.


“ada apa, nona Dewi? Apakah ada yang sesuatu mengganggu anda?” tanya Thio.

__ADS_1


“sebenarnya aku .... keluarga ku ... aku sudah tidak memilikinya... aku hidup sebatang kara “ ujar Dewi menundukkan wajahnya.


Mendengar hal itu Raka dan lainnya langsung terdiam, para pria tampan itu merasa tidak enak hati untuk bertanya lebih lagi.


“maaf... kami... kami tidak tahu ( merasa sangat tidak enak hati) lebih baik sekarang kita menunaikan kewajiban kita, silah kan nona Dewi” ujar Raka melangkah terlebih dahulu menuju ke mobil.


“itu... anda bisa memanggil ku Dewi saja” ujar Dewi terlihat malu-malu.


“o ya aku Thio” ujar Thio memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, Dewi dengan senang hati menjabat tangan pria tampan itu.


***


Satu bulan telah berlalu, hubungan Adelia dengan Roy semakin lama semakin dalam. Hingga suatu pagi dia terbangun dalam dekapan hangat Roy, sebelah tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas samping ranjang. Dengan mata setengah mengantuk dia melihat ke arah Roy yang masih terlelap, mendadak dia merasakan perutnya mual dan minta untuk di keluarkan.


“mmppp.... “ Adelia segera menutup mulutnya menyingkap selimut dan berlari menuju kamar mandi. Dia memuntahkan seluruh isi perutnya ke dalam toliet duduk, saat menyingkap selimut Roy yang tidur di sampingnya ikut terbangun menatap heran ke arah Adelia.


“uuuuek..... ueeeekk.. aaarghh..." terdengar suara dari dalam kamar mandi.


“kamu tidak apa-apa?” tanya Roy yang berdiri di samping Adelia,


“aku ... aku tidak apa-apa. Sepertinya makan malam kemarin tidak cocok dengan lambung ku” ujar Adelia berdiri dari duduknya menghampiri Roy memeluk dengan manja tubuh pria itu.


“ kamu yakin?” tanya Roy memastikan, matanya menatap dalam ke arah Adelia yang juga balas menatapnya.


“Hmmm... Sekarang aku akan bersiap-siap lalu kita sarapan.... “ ucapan Adelia sambil mendekatkan wajahnya pada Roy, aksinya terhenti saat deringan ponsel miliknya berbunyi. Mata Adelia menatap ke layar ponselnya dan segera mengangkat telepon yang ternyata dari Indah, Roy tersenyum smirk ikut menatap ke arah ponsel Adelia.


Gadis itu melangkah ke arah wastafel dan menghidupkan air keran lalu menampungnya dengan gelas yang tersedia di sana, Roy menatap nackal ke arah Adelia yang sama sekali belum mengenakan apa pun. Adelia meminum dan berkumur-kumur sejenak, dia melihat ponsel lalu menggeser icon tombol hijau Di layar itu.


“Halo ma?!” sapa Adelia setelah membuang air di dalam mulutnya.


Roy menatap dari kepala hingga ujung kaki Adelia, Sesuatu dari dalam dirinya terbangkitkan saat melihat pemandangan indah di depannya. Dia kembali menghampiri sambil melepaskan ikatan jubahnya.


“kamu di mana sayang?” tanya Indah sambil memperhatikan nail art stylish mempercantik kukunya.

__ADS_1


“aku...” ucapan Adelia terhenti saat merasakan belaian lembut dari Roy.


Walaupun sudah berumur tubuh Roy masih terlihat bagus dan sempurna, dia membelai lembut sambil menggesekkan sesuatu yang membuat Adelia tersenyum nackal.


“sayang... kamu jangan nackal dong” Bisik Adelia agar suaranya tidak terdengar oleh Indah.


“Adel, kamu lagi ngomong ama siapa?” tanya Indah penasaran. Roy kembali tersenyum nackal sambil menciumi pundak Adelia,


“aaah... haaa... Adel sedang ada pekerjaan ma” kilah Adelia menikmati perlakuan Roy yang sedang melakukan pekerjaannya dengan mulus tanpa hambatan.


“Uuughh.... Roy.... Aku aaaah.. sedang menelepon.... Aaaa..h” ujar Adelia merasakan sesuatu yang bergerak. Gerakan itu memaksa Adelia untuk menahan suaranya agar tidak terdengar oleh Indah, tapi hal itu terlambat di lakukannya karena Indah mendengar suara Adelia menyebut nama Roy.


Roy... Apakah mungkin.... Tidak... Tidak... Itu tidak mungkin, apa yang kamu pikirkan Indah? Mungkin saja Roy yang di maksud Adel adalah Roy yang lain... Bukan Roy yang seperti aku pikirkan... gumam Indah dalam hati.


“sayang, hari ini adalah ulang tahun Indra. Kamu ke rumah ya buar kita bisa merayakannya bersama, sekalian ajak pacar kamu biar kami bisa mengenal dia” ujar Indah mengundang pacar Adelia yang tidak lain adalah Roy. Adelia terus berusaha untuk tidak mengeluarkan suara aneh,


“ I... Ii... I....ya maaa.... Aaa...aaadel.... Aaaakan.... Menga.....aaah....jaknya... Ud...aaaah.... Maa.....aaaa.... Sam.... Paiii....aah... Keee... Temu di... Rummm...aaaah” ujar Adelia kewalahan mendapat serangan dahsyat bertubi-tubi. Dia segera mematikan sambungan telepon dari Indah secara sepihak, samar-samar dia merasakan rasa sakit di bagian bawah perutnya.


**********


dear para reader yang baik, rajin menabung dan murah hati....


Tetap Terus dukung karya Author dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


jangan lupa setelah membaca tekan icon tombol ibu jarinya untuk terus mendukung karya Author... plisss 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2