Cinta Sabrina

Cinta Sabrina
Ep. 243


__ADS_3

Baby Yusuf terlihat nyaman hingga air liurnya membasahi pundak Nicholas yang sama sekali tidak mempermasalahkan, dia menikmati setiap menit moment kebersamaan bersama putranya. Sabrina dapat melihat rona kebahagiaan tergambar di wajah suaminya, dia kembali menatap ke arah Andhini yang tersenyum lembut dan menyejukkan.


Sabrina tersenyum lalu memeluk lengan sambil menyandarkan kepalanya di pundak Andhini,


"Makasih bu... Sabrina sayang ibu" Ujar Sabrina yang di balas senyuman serta belaian lembut oleh Andhini.


****


Suasana di rumah Cakra terlihat sangat sibuk, pihak Wo terlihat berlalu lalang mengatur beberapa kursi serta tenda yang terpasang di halaman depan rumah Cakra. Setiap meja dan kursi tertata rapi serta di hiasi bunga mawar berwarna kuning hingga orange, di atas meja peralatan makan tertata rapi berserta alat makan yang terlihat mengilat. Pada sisi lain sebuah meja dengan beberapa kursi terlihat sangat elegan dengan hiasan bunga mawar di setiap sisinya, para petugas Wo juga terlihat rapi dengan setelan jas yang mereka kenakan.


Hari itu akan menjadi hari yang bersejarah bagi Asmirah yang tengah di dandani oleh pihak MUA, gaun pernikahan tergeletak di atas ranjang dengan beberapa aksesoris yang berkilauan. Wulan memperhatikan Mua yang bekerja dengan terampil, raut wajahnya terlihat sendu terus menatap ke arah Asmirah yang tengah memejamkan mata saat Mua mengaplikasikan eye shadow di kelopak matanya. Bayangan masa kecil, tingkah serta sifat manja Asmirah kembali terproyeksi di benak Wulan, tanpa di sadari tetesan bening air mata jatuh ke pipi Wulan.


Tok... tok... tok..


Terdengar ketukan di depan pintu membuat Wulan segera menyeka air matanya, dia berdiri dari tempatnya duduk menghampiri pintu kamar dan membukanya. Dari balik pintu itu berdiri Anjani di temani Gendis dan Araf, tampilan Araf begitu gagah dengan baju seragam keluarga Adiwijaya. Anjani dan Gendis pun terlihat manis mengenakan seragam dengan warna yang senada,


“omaa....” panggil Gendis saat melihat Wulan yang langsung memeluk dan menggendongnya, Anjani dan Araf tampak saling berpandangan saat tidak sengaja menatap mata Wulan yang terlihat berkaca – kaca.


Wulan mengajak Gendis masuk ke dalam kamar di mana Asmirah masih di dandani oleh Mua, Wulan duduk di tepian ranjang sambil memangku Gendis. Anjani dan Araf mengikuti lalu ikut duduk di ranjang Asmirah,


“ma... mama kenapa? Kok matanya sembab gitu?” tanya Anjani penasaran, Asmirah membuka matanya dan melihat ke arah cermin yang memantulkan bayangan Wulan dan lainnya.


“maaf, sebentar ya kak?!” ujar Asmirah, Mua itu menghentikan pekerjaannya saat melihat ke arah Wulan dan anak - anaknya. Dia langsung paham dan mempersilahkan Asmirah menghampiri Wulan, Araf saat menatap wajah ibunya segera meraih tisu yang ada di atas meja rias Asmirah dan memberikannya pada Wulan.


“maaaa... mama kenapa?” tanya Asmirah yang akan ikut menangis, dia duduk bersimpuh di lantai menatap wajah Wulan.


“ndak.... mama ndak apa – apa... mata mama hanya kelilipan debu dan terasa perih” ujar Wulan kembali menyeka air matanya.

__ADS_1


“ma... Jangan boong deh, Jani tahu mama nangis” ujar Anjani sisi kiri dan merangkul pundak Wulan, Araf duduk di samping kanan Wulan menatap cemas.


“ma... Kalo ada masalah cerita sama mas,” hibur Araf ikut merangkul sambil menggenggam lengan tangan kanan Wulan yang memegangi Gendis.


Mata Asmirah tampak berkaca – kaca seperti akan menangis,


“Mirah.... Kamu jangan nangis... Bisa rusak itu hasil karya MUAnya?! “ ujar Wulan menghentikan Asmirah untuk menangis, Anjani dan Araf menatap ke arah Asmirah yang memperlihatkan raut wajah sedih.


“iya Mirah ... masak iya kamu mau rusak pekerjaan Mua yang Udah susah payah moles kamu yang jeleknya ndak ke tolongan, Ntar Raka dan tamu lainnya pada kabur ngeliat pengantinnya berubah menjadi mbak kunti” ujar Araf yang langsung di hadiahi tatapan tajam dari Asmirah, raut wajah Wulan yang sedih seketika ceria saat mendengar celetukan putranya begitu juga Anjani yang menahan tawa.


Mua yang ada di kamar itu juga terlihat menahan tawa mendengar guyonan Araf,


“Iiiih, mas Araf jahat ... Udah cantik paripurna gini masih di bilang kayak miss kunti” ujar Asmirah kesel dan memukul kaki Araf yang langsung mengelus bekas pukulan adik bungsunya.


“cantik dari mananya?! ( menahan tawa ) itu jerawat ama kerutannya masih kelihatan” ujar Anjani ikut menggoda Asmirah yang membesarkan matanya, dia segera bangkit dan mendekati cermin untuk menatapi wajah yang sudah terpoles cantik.


“iiiih... semuanya pada jahat ama Mirah... “ ujar Asmirah merajuk dan kembali duduk di kursi yang ada depan meja rias, Wulan memindahkan Gendis yang duduk di pangkuannya ke pangkuan Anjani lalu menghampiri putri bungsunya.


“udah... Jangan kesel gitu nduk... Ntar cantiknya hilang” ujar Wulan memeluk putrinya dari belakang, Asmirah menatap ke arah cermin lalu menutup matanya sejenak merasakan kehangatan pelukan Wulan.


Anjani dan Araf saling berpandangan serta tersenyum, mereka lalu menghampiri dan ikut berpelukan ala teletabis.


“Ndis uga mo kut... “ ujar Gendis memeluk kaki Anjani, mereka semua menatap dan tersenyum gemas pada Gendis.


Mua menghampiri mereka yang tengah menikmati suasana hangat,


“maaf mengganggu mas, mbak dan juga tante, kami mau menyelesaikan pekerjaannya dulu” ujar Mua tersenyum.

__ADS_1


“O ya ampun.... Silakan kak?! “ ujar Anjani mempersilahkan Mua meneruskan pekerjaannya.


Anjani, Wulan dan Araf kembali duduk di ranjang sambil terus memperhatikan Asmirah yang di dandani,


“ o ya dek, gi mana persiapan acara kejutan untuk Nicholas?” tanya Araf.


“Beres mas, tinggal sentuhan terakhir dari mbak Sabrina” ujar Anjani sambil mengacungkan jari jempolnya menandakan jika semua persiapan berjalan dengan sangat baik.


Rencana acara kejutan ulang tahun Nicholas sudah di ceritakan Asmirah serta Anjani pada seluruh keluarga besar Adiwijaya dan Wiguna, mereka sangat senang dan juga ikut membantu mempersiapkan segalanya.


“aku jadi nggak sabar lihat reaksinya mas Nicholas, apa lagi saat melihat hadiah istimewa dari mbak Sabrina” ujar Asmirah yang masih di dandani.


“emang kamu tahu hadiah apa yang akan di berikan mbak Sabrina pada Mas Nicho, dek?” tanya Anjani.


“hehehe... ndak mbak Jani, saat Mirah nanya sama mbak Sabrina hanya ngasih senyuman manis trus bilang ....” Asmirah mengode ke arah Araf dan Anjani untuk mendekat, mereka penasaran segera menghampiri begitu juga dengan Wulan.


“Ra... ha... sia” Asmirah langsung tertawa senang karena berhasil menjahili kakak dan masnya.


“yeeee... nih anak... orang penasaran gini malah di jahilin” ujar Araf kesal bercampur penasaran.


“hehehehe... satu sama... tadi mas dan mbak Jani jahilin Mirah, sekarang gantian Mirah jahilin” ujar Asmirah lalu berdiri dari tempat duduknya.


Setelah selesai di make up Asmirah di bantu Mua bergegas menuju kamar mandi yang ada di kamarnya, dia langsung masuk ke kamar mandi bersama Mua yang sudah membawa gaun pengantin di tangannya. Anjani dan Araf hendak membalas menjahili hanya bisa merungut lalu tersenyum bersamaan, Wulan juga ikut tertawa sambil membelai lembut lengan putra putrinya.


“sudah ... sudah ... mas Araf sebaiknya sekarang kita keluar untuk menyambut para keluarga dan tamu, Jani kamu di sini dulu temani Mirah sampai saat di panggil nanti, ntar Sabrina juga ikut menemani” ujar Wulan sambil tangannya menggandeng tangan Gendis.


“oke ma, ntar pas mbak Sabrina udah datang suruh aja langsung ke kamar Mirah ya ma” ujar Anjani yang langsung di jawab oke oleh Wulan, mereka lalu melangkah keluar kamar menuju halaman rumah yang sudah rapi, indah dan elegan.

__ADS_1


__ADS_2