Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
1 Mereka Berbeda


__ADS_3

"Kak Ken, aku ikut Kakak jalan-jalan, ya?"


Ken menghela nafas berat, selalu saja seperti ini saat dia bertemu dengan Vana. Gadis itu bergelayut manja di lengan Ken, membuat Ken jengah dengan sikapnya yang selalu bersikap manja dan seenaknya.


Ken tidak menyukai Vana, tapi bukan berarti dia benci. Ken yang selama ini dididik mandiri, juga menyukai orang yang mandiri, pintar, enak diajak bicara dan tidak banyak tingkah.


"Van, kami ini mau belajar kelompok, bukan jalan-jalan," ucap Vara lembut.


Ken melihat Vara dan Vana, nama mereka mirip, tapi bukan berarti mereka kembar.


Vana berdecak kesal dengan perkataan Vara. Baginya, Vara itu adalah pengganggu, tanpa sadar bahwa bagi yang lain, Vana-lah yang pengganggu.


"Halah, alasan saja mau kerja kelompok, padahal kalian mau jalan-jalan, kan? Mau pacaran di belakang aku, kan?"


"Jangan bicara sembarangan Van, kami memang mau kerja kelompok kok. Coba kamu tanya ke Carlos dan Nio."


"Kenapa aku Haris tanya mereka? Mereka kan komplotan kalian, sudah pasti membela kalian. Enggak mau tahu, pokoknya aku ikut."


Tanpa meminta ijin lagi, Vana langsung masuk ke mobil Ken, duduk di sebelah Ken sementara Vara di suruh duduk di belakang.


Lagi-lagi Ken menghela nafas berat. Kenapa kakak beradik ini sangat berbeda sifatnya?


Selama mengenal mereka sejak kecil, Vara tidak pernah bersikap manja pada siapa pun, apalagi bersikap seenaknya. Bagi Ken, Vara gadis yang baik dan menyenangkan, tidak pernah membuat dirinya susah, termasuk kedua orang tua Vara.

__ADS_1


Bisa Ken lihat, kalau Vana sering menggunakan baju baru, sepatu, tas, ponsel pun sering ganti. Sedangkan Vara, tidak banyak baju baru yang Ken lihat dia pernah memakainya. Gadis itu pintar memadukan baju dan warna, sehingga selalu terlihat berbeda.


Sesampainya di apartemen Nio, mereka langsung kerja kelompok, sedangkan Vana menyetel televisi.


Suara tawa dan kunyahan keripik yang tanpa henti membuat mereka terganggu.


"Bisa diam enggak sih, Van?"


"Aku diam kok dari tadi. Memangnya aku ada bicara?"


Kalau saja Vana ini bukan adik Vara dan bukan anak dari sahabat kedua orang tuanya, sudah pasti Ken akan menarik paksa Vana ke luar, agar pekerjaan mereka cepat selesai.


"Aku lapar, apa enggak ada makanan?"


"Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan," ucap Vara.


Vana lalu menyebutkan makanan apa saja yang dia mau.


Waktu berlalu, tugas kelompok itu akhirnya selesai juga tanpa ada lagi keributan yang Vana lakukan.


Ken kembali mengantar Vara dan adiknya.


"Kak Ken, besok antar aku ke sekolah, ya!"

__ADS_1


Itu bukan pertanyaan atau permintaan, tapi paksaan.


"Enggak bisa, besok pagi aku ada kuliah."


"Ya enggak apa, Kak. Aku kan hanya minta antarin, bukan minta ditemani seharian."


"Enggak mau. Kamu pergi saja sama sopir, kalau enggak mau ya enggak usah sekolah."


Ken berkata dengan ketus. Bukannya jahat, tapi ini dia lakukan agar Vana tidak menggangunya terus. Ken tahu, kalau Vana menyukainya. Bukan hanya Ken, bahkan semua keluarga mereka sangat tahu itu.


"Aku enggak mau tahu, pokoknya besok kakak jemput aku pagi-pagi!"


Vana langsung masuk ke rumahnya, tanpa ingin mendengar penolakan dari Ken lagi.


"Maafin Vana ya, Ken."


"Kenapa kamu yang harus minta maaf?"


"Karena Vana adikku, dia juga tanggung jawab aku sebagai kakaknya."


"Bukan kamu yang salah. Masuk gih, sudah malam."


Ken mengusap lembut rambut Vara, membuat gadis cantik itu merasa gugup. Ken tersenyum melihat wajah Vara yang memerah. Di balik jendela, Vana mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Sial, aku tidak akan pernah membiarkan kalian bersama!


__ADS_2