Dia, Yang Tak Diakui

Dia, Yang Tak Diakui
26 Suasana Canggung


__ADS_3

Setelah kejadian menghebohkan tadi malam, perusahaan keluarga Ken dan Vara mengamati masalah. Banyak investor yang menarik saham mereka. Mereka tidak lagi percaya pada Ken, yang dianggap tidak bertanggung jawab akan seorang perempuan dan anak kandungnya.


Sedangkan keluarga Vara juga mengalami kesulitan yang sama. Mereka dianggap sebagai keluarga yang tidak bertanggung jawab. Hal ini kembali menyulut emosi opa Ken.


Opa Ken yang bernama Ronald itu mengadakan rapat dadakan untuk membahas penyelesaian. Dia ingin Ken segera menyelesaikan masalah ini, jangan sampai perusahaan hancur karena ulah cucunya itu.


Ronald sangat kecewa pada Ken, termasuk pada Hendrick, anak kandungnya. Kalau bukan karena Kesalahan, semua ini tidak akan terjadi.


Vara juga melakukan hal yang sama di perusahaannya. Dia dan papanya sedang melakukan meeting untuk mempertahankan para investor dan pemegang saham, untuk tetap bekerja sama dengan mereka.


"Kami tidak mau melanjutkan kerja sama dengan orang yang tidak bertanggung jawab. Memang ini masalah pribadi, tapi bisa ikut merusak reputasi kami sebagai investor. Kalian sangat tahu sendiri kan, kalau masyarakat itu suka menghubungkan masalah yang satu dengan urusan lainnya."


Ya, seperti mereka saat ini, contohnya. Masalah pribadi orang tapi dihubung-hubungkan dengan perusahaan, itu karena masyarakat bisa ilfil untuk membeli produk mereka atau apa pun yang berhubungan dengan kasus yang berhubungan dengan perempuan yang disakiti.


Bryan mengurut keningnya. Dia sudah sangat sakit kepala.


"Karena masalah ini, istri saya malah ikut marah-marah. Katanya bagaimana kalau hal buruk itu terjadi dengan anak perempuan kami? Kalian tahu sendiri kan, perempuan itu memiliki hati yang sensitif."


Perkataan salah satu investor itu diangguki oleh investor lainnya. Mereka, sebagai seorang ayah juga tidak mau hal itu terjadi.


Lagi-lagi tidak jauh dengan apa yang dialami oleh Ken dan papanya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa perusahaan ini dipimpin oleh pria yang tidak bertanggung jawab? Selama enam tahun belakangan ini, kami sangat percaya dengan kemampuan Ken sebagai pemimpin, bahkan sangat bangga. Bagaimana kalau skandal yang dilakukan putra Anda dengan anak dari tuan Bryan sampai diketahui publik?"


"Maafkan saya, Tuan-tuan, tapi saya berjanji akan menyesuaikan masalah ini secepatnya. Tolong beri kami kesempatan."


Tidak mudah untuk membujuk mereka. Tapi baik Ken dan Vara, berkat kepintaran mereka dalam bernegosiasi, berhasil membujuk para rekan bisnis mereka untuk tetap bekerja sama, dengan catatan keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan tidak akan mengalami penurunan selama tiga bulan ke depan, atau mereka akan membatalkan kerja sama mereka dengan sepihak.


...🍂🍂🍂...


Ara mengajak Khea dan Gean memasuki toko demi toko. Bukan hanya untuk melihat-lihat tanpa membeli, tapi memang untuk berbelanja. Ara membelikan banyak baju untuk Khea dan Gean, juga mainan untuk keponakannya itu.


"Sudah Ara, jangan membelikan aku dan Gean lagi. Apa kamu kasihan pada kami?"


"Ish, Khea apaan sih. Aku ini mau membelikan kalian sebagai tanda pertemuan kita lagi, bukan karena kasihan. Aku sudah kehilangan banyak momen selama ini. Jadi tidak ada salahnya kan, kalau aku memanjakan keponakan aku ini."


"Hasan habis ini mau makan apa?" tanya Ara.


"Apa saja yang mommy mau."


Ara tersenyum haru mendengar perkataan Gean. Bisa dia lihat kalau Gean terlihat lebih dewasa dari umurnya. Bukan wajahnya, tapi cara berpikirnya.


"Bagaimana kalau kita makan masakan Jepang saja?"

__ADS_1


"Oke."


Ara memesan banyak makanan. Dia dan Khea duku memang selalu makan banyak, meski tidak gemuk-gemuk. Ingin sekali Ara bertanya banyak hal pada Khea, ingin tahu bagaimana kehidupan perempuan itu selama enam tahun ini. Tapi tidak mungkin, ada Gean di sini.


Tidak lama kemudian, datang Vara, Ken, Rissa, Nio dan Marco. Marco langsung menghampiri tunangannya itu.


"Sayang, kamu di sini?"


"Ya."


Khea dan Gean diam saja. Marco, tanpa meminta ijin dulu, langsung duduk di sebelah Ara. Ken, Vara, Rissa dan Nio memilih meja di sebelah mereka.


Ken terus memandangi Khea dan Gean, tapi keduanya benar-benar tidak peduli. Selain Ara, mereka adalah orang asing bagi Khea dan Gean. Bahkan, Khea tidak sama sekali merasa terusik. Mereka seperti benda transparan bagi Khea, melirik saja tidak.


"Gean mau nambah lagi?"


"Mau, Aunty."


Ara tersenyum senang, dia langsung memesan lagi padahal makanan yang sebelumnya dipesan sangat banyak tapi sudah habis.


"Kalian habis belanja?" tanya Marco.

__ADS_1


"Ya. Kan kamu lihat sendiri belanjaan kami."


Marco menggaruk tengkuknya, suasana langsung terasa sangat canggung.


__ADS_2