
12 SUAPAN
“Dok, kenapa bagian perut saya terasa sakit?” tanya Vara pada dokter.
Dokter itu menghela nafas, terasa berat harus mengatakan ini kepada seorang perempuan, tapi tetap harus dia katakan dengan jujur.
“Begini Nona, saya mendeteksi ada masalah di rahim Anda, yang menyebabkan Anda akan kesulitan hamil atau yang lebih parahnya lagi, tidak bisa hamil. Tapi ini bari diagnosa sementara, harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
“A ... apa? Tidak bisa hamil, Dok? Tapi ... kenapa bisa?”
“Untuk itulah, harus dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu, apa benar dan apa yang menjadi penyebabnya.”
Hati Vara terasa hancur. Kenapa nasibnya harus seperti ini? Ditinggalkan oleh tunangan begitu saja, tidak didukung oleh keluarga, dan sekarang ... sekarang dia terancam tidak bisa memiliki anak.
Vara menunduk, menangis meratapi nasib. Dokter itu menepuk pundak Vara.
“Kamu yang sabar, ya. Belum tentu juga kamu tidak bisa hamil.”
Vara tidak menjawab, tapi dalam hatinya dia pun berharap begitu.
💦💦💦
“Mau apa?”
“Khea, aku mau bertemu dengan anakku. Ijinkan aku bersamanya.”
“Dia tidak mau bersama dengan kamu.”
“Khea, tolong jangan seperti ini. Bagaimana pun juga, dia darah dagingku.”
“Sana, minta anak pada calon istri kamu itu.”
__ADS_1
“Sayang, aku mohon!”
Sayang?
Ken menyentuh pipi Khea, yang terasa sangat lembut di tangannya.
“Mommy ....” Gean terdiam saat melihat Ken yang menyentuh Khea.
“Jangan sentuh mommy aku!”
“Sayang, Daddy ....”
“Kamu bukan Daddy aku.”
“Sayang, tolong maafkan Daddy. Daddy mohon!”
Gean jadi teringat kejadian di rumah sakit. Di mana dokter mengatakan kalau perempuan yang akan menikah dengan pria yang ada di hadapannya itu, akan kesulitan memiliki anak. Jujur saja, ada perasaan senang di hati Gean.
“Tidak, aku tidak punya Daddy.”
“Tolong jangan bicara seperti itu, Sayang.”
“Mom, Gean lapar.”
“Maafkan Mommy tadi masih sibuk, ayo kita makan.”
Khea membuka bekal makan siang yang dibawanya. Ken hanya bisa menatap, merasa dicuekin oleh ibu dan anak itu.
Oke, aku akan melakukan dengan caraku sendiri. Terserah saja kalau kalian berpikir aku tidak tahu malu.
Begitu Khea ingin menyuapi makanan ke mulutnya sendiri, Ken langsung memakan makanan itu, membuat Khea melotot.
__ADS_1
“Enak banget, Yang.”
Gean cemberut, dia menatap kesal pada pria dewasa itu.
Setiap kali Khea ingin menyuapi diri sendiri, Ken selalu mengambil alih makan itu. Kalau ada yang melihat, mereka seperti keluarga kecil yang bahagia, tapi nyatanya tidak seperti itu.
“Makan saja sendiri!” ucap Khea dengan ketus.
“Makan, Mommy.” Gean menyuapi Khea, membuat Ken menjadi cemburu.
Cemburu karena mau juga disuapi oleh Gean. Cemburu karena ingin juga disayang oleh anaknya itu.
Malam harinya, Khea dan Gean pulang ke apartemen baru mereka.
“Kalian di sini?” tanya Ken tak percaya.
Bagaimana tidak, mereka ternyata tetangga. Unit Khea ada di depan unit Ken. Dan hanya ada dua unit di lantai itu.
Ken tersenyum senang, ini bisa membuat mereka lebih dekat lagi. Khea memutar matanya, dia membeli tempat baru karena tidak mau kalau sampai didatangi terus-menerus oleh orang-orang itu, tapi ini apa? Dia malah satu lantai dengan pria yang menjadi ayah dari anaknya.
“Gean, Daddy senang Gean ada di sini. Kita bisa bertemu setiap hari.”
“Minggir, kami mau masuk.”
“Oke, selamat tidur sayang-sayangnya Daddy.” Ken tersenyum, lalu mengacak rambut keduanya.
Dasar, seenaknya saja!
Di dalam apartemennya, Ken tersenyum senang. Dia lupa kalau urusannya dengan Vara belum benar-benar selesai, karena gadis itu tetap tidak menerima keputusan sepihak darinya.
Juga, masih banyak hal yang harus Ken lakukan.
__ADS_1